Dilema Bantuan MPASI Pascabanjir Aceh Tamiang
Kondisi permukiman di Kampung Lintang Bawah, Kuala Simpang, Aceh Tamiang yang hancur diterjang banjir bandang, Senin (5/1/2026)(KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)
13:06
7 Januari 2026

Dilema Bantuan MPASI Pascabanjir Aceh Tamiang

- Untuk bayi dan balita di pengungsian bencana, pemberian makanan adalah isu yang krusial. Makanan ultra proses, serta makanan dengan tekstur yang tidak sesuai, bisa membahayakan kesehatan mereka.

Ada dilema dalam memberikan bantuan makanan pendamping air susu ibu (MPASI) di situasi darurat. Apakah sebaiknya memberikan makanan siap saji, bahan makanan mentah, atau mendirikan dapur khusus?

“Yang paling ideal mungkin adalah dapur khusus bayi dan balita,” ungkap dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Adapun dr. Arifin adalah anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.

Dapur khusus yang sulit direalisasikan

Dapur umum memang membantu dalam menjaga para korban bencana tidak kelaparan. Namun, khusus bayi dan balita, sebaiknya tempat pengolahan makanannya terpisah.

“Ini paling ideal, tetapi agak sulit untuk wilayah dengan tenaga yang terbatas karena biasanya relawan untuk dapur kan juga terbatas,” ungkap dr. Arifin.

dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.dok. Istimewa dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.

Di samping itu, para relawan yang bekerja di dapur umum khusus bayi dan balita pun harus tenaga yang terlatih. Pengawasan dari ahli gizi pun diperlukan.

Mereka bisa membantu menjaga higienitas dapur, serta memastikan tekstur setiap makanan sesuai dengan tahapan usia anak.

“Pola makan yang tidak sesuai dengan usia akan membuat usus anak jadi kewalahan. Saluran cerna anak, terutama bayi dan balita, biasanya belum siap untuk menerima semua jenis makanan,” jelas dr. Arifin.

Ilustrasi makanan bergizi. Makanan bergizi adalah asupan makan sehari-hari yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh, meliputi nutrisi makro dan mikro.Dok. Shutterstock/Tatjana Baibakova Ilustrasi makanan bergizi. Makanan bergizi adalah asupan makan sehari-hari yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh, meliputi nutrisi makro dan mikro.

Bantuan bahan makanan bergizi yang terkendala

Pilihan lainnya adalah memberikan bahan makanan bergizi, yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani dan nabati, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat.

Bantuan seperti ini juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan para pengungsi guna mengurangi risiko terjadinya bahan makanan keburu basi sebelum sempat diolah.

“Cuma, kendalanya apakah persediaan air bersihnya ada. Kedua, bisa diolah atau tidak? Ibunya mau bikin atau tidak?” tutur dr. Arifin.

Kendala lainnya adalah apakah tempat para ibu memasak di pengungsian higienis atau tidak, dan kecenderungan untuk menyimpan bahan makanan.

Bagaimana dengan makanan siap saji?

Dokter spesialis anak ini mengungkapkan, makanan siap saji adalah bentuk donasi yang umum terjadi, terutama di fase-fase awal pascabencana.

Ini memang diperbolehkan, mengingat saat ini ada produsen makanan bayi yang menjual MPASI dalam bentuk praktis. Penyajiannya pun mudah. MPASI hanya tinggal dikeluarkan dari kemasan dan dihangatkan.

Ilustrasi frozen food atau makanan beku.SHUTTERSTOCK/Ahanov Michael Ilustrasi frozen food atau makanan beku.

Akan tetapi, jika ingin memberikan donasi seperti ini untuk para korban bayi dan balita, perlu diingat bahwa makanan harus segera dikonsumsi.

“Kedua, akan ada kendala saat terjadi kontaminasi. Yang ketiga, makanannya sendiri bisa berisiko rusak, entah itu basi atau yang lain. Bikin pagi, didistribusi siang, dimakan sore. Itu pasti jadi rusak nantinya,” tutur dr. Arifin.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah apakah makanan siap saji sudah sesuai dengan usia bayi dan balita, baik secara tekstur maupun porsi.

“Prinsipnya sebenarnya ya MPASI tepat waktu, adekuat, aman, dan dengan cara yang benar. Agak rumit, tapi ini yang paling ideal,” ujar dr. Arifin.

Apabila ingin mendonasikan makanan khusus untuk bayi dan balita korban banjir Aceh Tamiang, tetapi masih ragu, kamu bisa coba mengontak Dinas Kesehatan Provinsi Aceh atau para relawan di sana untuk menanyakan situasi, apa yang dibutuhkan, dan koordinasi pemberian makanan seperti apa.

Tag:  #dilema #bantuan #mpasi #pascabanjir #aceh #tamiang

KOMENTAR