Kondisi di Pengungsian yang Memperburuk Penyakit Anak
Seorang warga mencuci di antaranya puing-puing rumah yang hancur, Selasa (17/12/2025) di Desa Babo, Aceh Tamiang.(KOMPAS.com/Tria Sutrisna)
12:12
7 Januari 2026

Kondisi di Pengungsian yang Memperburuk Penyakit Anak

- Bencana seperti banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, akhir November 2025, rupanya bisa memperberat beberapa penyakit yang diderita oleh korban anak.

Pola makan yang tidak sesuai, dan cara pemberian makanan yang kurang tepat, bisa memperberat diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sudah diderita oleh korban anak.

“Dalam kondisi bencana, masalahnya bukan hanya pada apa yang dimakan anak, tapi juga bagaimana makanan itu diberikan,” tutur dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Adapun dr. Arifin adalah anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.

Pola makan tidak sesuai

Tekstur tidak sesuai usia

Setiap anak memiliki pola makan tersendiri pada tahapan usia tertentu, misalnya pada anak berusia enam bulan yang baru memasuki fase pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Pada usia tersebut, tekstur makanan anak adalah puree atau lumat halus. Menginjak usia tujuh dan delapan bulan, teksturnya adalah lumat kasar.

“Pola makan yang tidak sesuai dengan usia akan membuat usus anak jadi kewalahan. Saluran cerna anak, terutama bayi dan balita, biasanya belum siap untuk menerima semua jenis makanan,” jelas dr. Arifin.

Pascabencana, donasi terus berdatangan, termasuk dalam bentuk makanan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa makanan yang didonasikan memiliki tekstur yang sesuai dengan usia anak-anak di pengungsian.

Meskipun donasi diberikan dalam bentuk bahan makanan bergizi, belum tentu pengungsian memiliki fasilitas pengolahan makanan yang bersih, dengan akses air bersih yang mudah dijangkau.

Jenis makanan kurang bergizi

Ilustrasi mi instan. PIXABAY/MARKUS WINKLER Ilustrasi mi instan.

Perihal donasi, makanan ultra proses atau Ultra-Processed Food (UPF) seperti mi instan, sosis, nugget, dan sebagian besar biskuit, masih sering diberikan.

Padahal, makanan kemasan yang sudah melalui berbagai tahapan pemrosesan, kurang baik untuk kesehatan anak. Ditambah lagi, sebagian besar makanan ultra proses terlalu manis, tinggi lemak, atau tidak cocok untuk dikonsumsi oleh beberapa anak.

“Saat anak diberikan makanan yang terlalu manis, terlalu berlemak, terlalu keras, atau tidak sesuai dengan tekstur usianya, terutama makanan-makanan instan, maka usus anak tidak mampu untuk mencerna dengan baik.”

Lanjut dr. Arifin, makanan bisa tertahan di usus, menarik lebih banyak air ke dalam saluran cerna, membuat tinja encer, dan memperburuk diare yang sudah diidap.

“Pada anak yang sudah diare, makanan yang salah justru akan memperparah kehilangan cairan dan elektrolitnya, cairan tubuhnya. Dampaknya apa? Dehidrasinya lebih berat. Anak jadi lebih lemas, lebih cepat capek, dan berisiko dehidrasi,” kata dia.

Bakteri baik terganggu

Pemberian makanan yang tidak sesuai tekstur, dan makanan ultra proses, bisa mengganggu bakteri baik dalam usus. Dampaknya, diare menjadi semakin berat dan sulit berhenti.

Jika diibaratkan, usus yang sedang terluka terus disiram dengan garam. Bukannya menjadi pulih, usus malah semakin sakit.

Cara pemberian makan yang kurang tepat

Kondisi di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang yang wilayah permukimannya hilang disapu banjir bandang, Senin (5/1/2026)KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Kondisi di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang yang wilayah permukimannya hilang disapu banjir bandang, Senin (5/1/2026)

Kurang higienis.

Terbatasnya akses air bersih juga dapat membuat orang-orang jadi malas mencuci tangan, serta tidak bersih dalam mencuci peralatan makan dan minum karena harus lekas bergantian dengan orang lain.

“Akibatnya, meskipun anak sudah diobati, kuman bisa terus masuk ke dalam tubuhnya melalui tangan, makanan, ataupun alat makan. Akibatnya apa? Ya bisa diprediksi, diarenya enggak sembuh-sembuh. Anak bisa mengalami episode diare yang berulang,” ujar dr. Arifin.

Gizi terganggu bikin anak mudah kena ISPA

Terkait ISPA, anak bisa lebih mudah terjangkit ketika gizinya terganggu. Pasalnya, gizi dan daya tahan tubuh anak sangat berkaitan.

Ketika anak kekurangan protein dan energi, dan pola makannya tidak teratur, maka tubuh tidak punya “bahan baku” untuk membentuk antibodi dan sel-sel kekebalan tubuh.

“Akibatnya, anak jadi lebih mudah kena batuk pilek, infeksi saluran napas, bahkan jadi pneumonia. Dan proses sembuhnya juga akan semakin lama karena memang tidak ada ‘bahan baku’,” tutur dr. Arifin.

Cara makan yang salah

Terakhir adalah cara makan yang salah. Pada anak yang sakit, ini dapat memperburuk kondisinya. Sebab, nafsu makan anak menurun ketika sedang sakit.

Akibatnya anak sering dipaksa makan sekaligus banyak. Kedua, anak dibiarkan tidak makan sama sekali karena nafsu makan yang menurun. Kedua kondisi itu dapat membuat tubuh anak menjadi lemah.

“Solusinya adalah pemberian makan yang disebut sebagai small frequent feeding. Sedikit porsinya, sering frekuensinya, sesuai dengan usia dan kondisi anak, dan apakah tekstur atau komposisinya mudah dicerna,” jelas dr. Arifin.

Tag:  #kondisi #pengungsian #yang #memperburuk #penyakit #anak

KOMENTAR