



Kelebihan Zat Besi Sangat Berbahaya bagi Tubuh, Salah Satunya Bisa Sebabkan Kanker
- Zat besi adalah mineral krusial yang berperan penting dalam kesehatan kita. Ia merupakan komponen utama hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Zat besi dalam makanan hadir dalam dua bentuk: zat besi heme dan non-heme. Zat besi heme, yang ditemukan terutama dalam daging merah, terikat dalam molekul berbentuk cincin bernama porfirin. Sedangkan zat besi non-heme, yang ada dalam tumbuhan dan beberapa sumber hewani.
Hormon hepcidin memainkan peran utama dalam mengatur keseimbangan zat besi dalam tubuh. Hormon ini bekerja dengan cara menekan penyerapan zat besi.
Ketika simpanan zat besi dalam tubuh tinggi, kadar hepcidin akan meningkat, yang pada gilirannya mengurangi penyerapan zat besi.
Sebaliknya, saat simpanan zat besi rendah, kadar hepcidin menurun, sehingga penyerapan zat besi meningkat. Mekanisme ini membantu menjaga kadar zat besi yang seimbang dalam tubuh.
Walaupun kekurangan zat besi dalam makanan jarang terjadi berkat sistem pengaturan ini, ada situasi tertentu di mana masalah bisa muncul.
Kelebihan zat besi, atau toksisitas zat besi, dapat terjadi jika simpanan zat besi dalam tubuh terlalu tinggi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan genetik atau konsumsi suplemen zat besi yang berlebihan.
Untuk mencegah masalah ini, penting untuk memantau asupan zat besi dan memperhatikan tanda-tanda kekurangan atau kelebihan zat besi.
Memahami cara tubuh mengelola zat besi dapat membantu kita menjaga kesehatan dan mencegah gangguan yang mungkin timbul akibat ketidakseimbangan zat besi.
Dilansir dari news-medical.net, Minggu (15/9), berikut beberapa akibat dari kelebihan zat besi.
1. Keracunan Zat Besi
Keracunan zat besi bisa terjadi akibat konsumsi suplemen zat besi yang berlebihan, baik secara berulang dalam dosis tinggi atau dalam satu kali dosis yang sangat besar. Bahkan dosis tunggal yang rendah, antara 10 hingga 20 mg/kg, sudah bisa menimbulkan gejala keracunan. Jika dosis yang dikonsumsi melebihi 40 mg/kg, perhatian medis segera diperlukan, dan dosis lebih dari 60 mg/kg bisa berakibat fatal.
Gejala awal keracunan zat besi meliputi mual, muntah, diare, dan sakit perut. Dalam jangka panjang, zat besi yang berlebihan dapat menumpuk di organ-organ vital seperti hati dan otak, menyebabkan kerusakan serius yang dapat berakibat fatal.
Selain itu, keracunan zat besi juga mempengaruhi proses seluler, seperti fosforilasi oksidatif dan fungsi mitokondria, yang dapat mengakibatkan kematian sel. Asidosis metabolik juga dapat terjadi sebagai akibat dari kehilangan cairan, pelebaran pembuluh darah, dan metabolisme anaerobik yang disebabkan oleh gangguan pada proses energi sel.
2. Kelebihan Zat Besi
Kelebihan zat besi adalah berkembang seiring waktu, terutama pada individu yang sering menerima transfusi sel darah merah, seperti pasien dengan sindrom mielodisplastik, talasemia, atau penyakit sel sabit.
Ketika tubuh menyerap zat besi melebihi kapasitasnya dan protein pengikat zat besi dalam tubuh sudah jenuh, terjadi gangguan kelebihan zat besi yang dikenal sebagai hemokromatosis.
Hemokromatosis ditandai dengan penumpukan zat besi di berbagai organ tubuh, yang dapat mengakibatkan sejumlah masalah kesehatan serius. Salah satu tanda khasnya adalah perubahan warna kulit menjadi kekuningan atau perunggu.
Endapan zat besi di hati dapat menyebabkan sirosis, sementara di pankreas dapat menyebabkan diabetes. Meskipun hemokromatosis adalah kelainan genetik yang mempengaruhi metabolisme zat besi, bukan akibat dari asupan zat besi yang berlebihan pada individu yang genetiknya normal, tindakan pencegahan tetap penting.
Untuk mengurangi risiko, individu dengan hemokromatosis harus membatasi konsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging merah, sering mendonorkan darah, menghindari penggunaan peralatan masak berbahan besi, dan tidak mengonsumsi makanan kaya vitamin C bersamaan dengan makanan yang kaya zat besi.
3. Kanker
Kadar zat besi yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker tidak hanya manusia tapi juga hewan. Terutama, kadar zat besi heme yang tinggi dalam makanan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Zat besi heme, yang ditemukan dalam daging merah dan produk hewani lainnya, dapat menyebabkan pembentukan senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik dalam saluran pencernaan. Senyawa ini dapat merusak sel-sel di usus besar dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan asupan zat besi dan mempertimbangkan sumbernya untuk mengurangi risiko kesehatan yang berpotensi serius.
Tag: #kelebihan #besi #sangat #berbahaya #bagi #tubuh #salah #satunya #bisa #sebabkan #kanker