Sempat Anjlok 100 Poin Lebihi Usai Peringatan S&P, IHSG Sesi I Ditutuo Turun 0,31 Persen
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan ditutup melemah tipis, Jumat (27/2/2026). indeks terkoreksi 25,933 poin atau 0,31 persen ke level 8.209,329.
Pada awal perdagangan IHSG sempat anjlok 133,85 poin ke posisi 8.102,41 pada pukul 09.10 WIB, sebelum kembali merangkak mengikis pelemahan tersebut.
Pelemahan IHSG setelah lembaga pemeringkat global, S&P Global Ratings, memperingatkan lonjakan biaya pembayaran utang berpotensi menambah risiko penurunan terhadap profil kredit sovereign Indonesia.
Baca juga: Tarif Trump 15 Persen Bikin IHSG Rawan Koreksi, Sektor Apa Paling Terdampak?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak pembukaan di level 8.211,305, indeks sempat bergerak fluktuatif.
Tekanan jual mendorong IHSG menyentuh level terendah harian di 8.093,749, sebelum akhirnya memangkas pelemahan dan bergerak mendekati area 8.220.
Adapun posisi tertinggi hari ini tercatat di 8.219,709.
Tercatat sebanyak 239 saham menguat, sementara 420 saham melemah dan 156 saham stagnan.
Di sisi aktivitas perdagangan cukup aktif dengan volume mencapai 26,489 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1.505.039 kali.
Nilai transaksi atau turnover sebesar Rp 11,261 triliun.
Peringatan S&P
S&P Global Ratings memperingatkan lonjakan biaya pembayaran utang berpotensi menambah risiko penurunan terhadap profil kredit sovereign Indonesia.
Analis sovereign S&P, Rain Yin, mengungkapkan pembayaran bunga utang pemerintah mungkin telah melampaui ambang batas krusial 15 persen dari total pendapatan negara pada tahun lalu.
Selama bertahun-tahun, level tersebut menjadi batas aman yang konsisten dijaga Indonesia sebagai indikator kehati-hatian fiskal.
Jika rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan bertahan di atas 15 persen secara berkelanjutan, S&P membuka ruang untuk memberikan pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia.
“Dua hal yang kami pantau sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah, apakah tetap ditopang aturan fiskal yang mapan, serta perkembangan penerimaan negara,” ujar Yin seperti dikutip Bloomberg, Jumat (27/2/2026).
Saat ini, S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat Indonesia di level BBB.
Namun, sinyal kewaspadaan dinilai semakin menguat seiring meningkatnya beban bunga dan tekanan terhadap penerimaan negara.
Sebelumnya, Moody’s Ratings telah lebih dulu merevisi outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada awal Februari.
Lembaga tersebut menyoroti melemahnya tata kelola dan meningkatnya risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sentimen investor asing pun belum sepenuhnya pulih.
Peringatan dari MSCI Inc. terkait potensi penurunan status Indonesia dari kategori emerging market sempat mengguncang pasar.
Pada akhir Januari, pasar saham domestik mencatat penurunan terdalam dalam beberapa dekade.
Regulator merespons dengan menyiapkan sejumlah reformasi pasar, termasuk rencana peningkatan ketentuan free float saham untuk memperkuat likuiditas.
Pemerintah juga menyatakan perekonomian mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meski tekanan eksternal masih membayangi.
S&P menilai rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai indikator kunci daya tahan fiskal.
Sebelum pandemi Covid-19, rasio tersebut relatif stabil di bawah 15 persen.
Namun sejak krisis, kebutuhan pembiayaan melonjak dan beban bunga meningkat tajam, sementara penurunan belum signifikan.
Di sisi lain, defisit fiskal tahun lalu tercatat 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari ekspektasi akibat lemahnya penerimaan negara.
Padahal, Indonesia memiliki aturan disiplin fiskal dengan batas defisit maksimal 3 persen PDB, yang selama ini menjadi jangkar kredibilitas kebijakan fiskal.
Menurut S&P, jika penerimaan negara terus melemah, beban bunga berpotensi tetap tinggi dan menggerus bantalan fiskal yang menopang peringkat utang negara.
Managing Director dan Sector Lead Sovereign Ratings Asia Pasifik S&P, Kim Eng Tan, mencatat gejolak pasar saham memang belum berdampak langsung pada rating. Namun, menjaga kepercayaan investor asing menjadi faktor krusial untuk mencegah arus keluar modal yang lebih besar.
“Tekanan harga bisa meningkat jika bobot indeks berubah atau jika reklasifikasi benar-benar terjadi. Ini bisa memicu pembalikan arus modal asing dari pasar saham Indonesia,” katanya.
Jika dana asing keluar dalam skala besar, likuiditas pasar modal akan tertekan dan berpotensi mendorong kenaikan biaya pembiayaan bagi pemerintah maupun dunia usaha.
Investor asing saat ini juga memegang instrumen utang jangka pendek serta simpanan di pasar domestik, sehingga volatilitas dapat menjalar ke pasar obligasi dan nilai tukar.
Arus modal yang melemah bahkan dapat memaksa Bank Indonesia mengoptimalkan cadangan devisa demi menjaga stabilitas rupiah. “Perkembangan ini dapat menambah tekanan penurunan terhadap peringkat sovereign Indonesia,” lanjut Tan.
Baca juga: Tarif Trump 15 Persen Jadi Ancaman IHSG, Risiko Koreksi hingga 7 Persen Intai Pasar
Tag: #sempat #anjlok #poin #lebihi #usai #peringatan #ihsg #sesi #ditutuo #turun #persen