Trump Sebut Inflasi Turun, Survei Ungkap Daya Beli Warga AS Masih Tertekan
Dalam State of the Union 2026 yang berlangsung pada Selasa (24/2/2026) waktu setempat dan diikuti Kongres AS, Presiden Donald Trump menampilkan gambaran optimis tentang ekonomi Amerika Serikat.
Trump menekankan pertumbuhan, inflasi yang menurun, dan berbagai kebijakan yang menurutnya memperbaiki kondisi ekonomi rakyat.
Namun, gambaran itu bertabrakan dengan persepsi publik dan kritik tajam dari lawan politik, serta data survei independen tentang tekanan biaya hidup yang masih membebani rumah tangga di tengah janji-janji pemerintahan Trump.
Baca juga: Kebijakan Tarif Global Trump, Seberapa Menguntungkan bagi Indonesia?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Pidato hampir dua jam itu menjadi momen sentral untuk memproyeksikan keberhasilan aktual di panggung politik nasional menjelang pemilu sela (midterm), dengan Trump berupaya mengatasi tren penurunan popularitasnya di hadapan isu ekonomi sehari-hari yang dinilai banyak pemilih belum teratasi.
Narasi Trump: “Amerika Menang Kembali”
Dalam pidatonya, Trump menyampaikan bahwa ekonomi AS tengah memasuki apa yang ia sebut sebagai “golden age”, sebuah era kemenangan nasional yang dimulai dari pertumbuhan ekonomi hingga peningkatan pendapatan rumah tangga.
Ia memusatkan pernyataannya pada angka-angka makro seperti inflasi dan pasar modal sebagai indikator keberhasilan.
Trump mengatakan, inflasi AS turun drastis, pendapatan naik pesat, dan ekonomi “berkobar seperti tak pernah sebelumnya”.
Baca juga: Pidato Kenegaraan, Trump Klaim Inflasi Turun dan Ekonomi Menguat
Pernyataan ini muncul di awal pidato sebagai bagian dari penekanan bahwa kebijakan pemerintahannya berhasil meningkatkan kondisi ekonomi keseluruhan.
Ia juga secara langsung menanggapi kritik dari partai Demokrat yang menyoroti masalah biaya hidup dan kemampuan membeli (affordability).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump menuding lawan politik, khususnya mantan Presiden Joe Biden dan Partai Demokrat di Kongres, bertanggung jawab atas kenaikan harga di berbagai sektor.
“Orang-orang yang sama di ruangan ini yang memilih bencana-bencana itu tiba-tiba menggunakan kata keterjangkauan, padahal mereka tahu betul bahwa merekalah yang menyebabkan dan menciptakan kenaikan harga yang harus ditanggung oleh seluruh warga negara kita," kata Trump, dikutip dari New York Post.
Baca juga: Atur Ulang Strategi Investasi di Tengah Sengkarut Aturan Tarif Trump
Ia juga menegaskan, kebijakan tarif dan reformasi lainnya akan membantu menurunkan harga dan memperkuat posisi konsumen dalam jangka panjang.
Di samping itu, Trump memuji perluasan pemotongan pajak, program tabungan anak bernama “Trump Accounts,” upaya penurunan harga obat dengan situs diskon yang disebut TrumpRX, serta langkah-langkah lain untuk diklaim mengurangi biaya kesehatan bagi warga Amerika.
Kebijakan dan data: tantangan di balik narasi
Meskipun narasi resmi menonjolkan tren penurunan inflasi dan pasar modal yang kuat, survei independen memunculkan gambaran yang lebih kompleks terkait tekanan biaya hidup.
Hasil survei YouGov-MarketWatch yang dirilis menjelang pidato tersebut menunjukkan lebih dari 80 persen responden merasa kemampuan membeli (affordability) tidak membaik di bawah pemerintahan Trump.
Baca juga: Dampak Tarif Trump, Apple Pindahkan Produksi Mac Mini ke AS
Sekitar 47 persen responden mengatakan biaya hidup justru memburuk dalam setahun terakhir, dengan tekanan terbesar dirasakan pada harga kebutuhan pokok, asuransi (termasuk asuransi mobil dan kesehatan), sewa rumah, obat resep, serta upaya menabung untuk rumah sendiri.
Survei itu juga mengungkapkan, sebagian besar responden tidak percaya pemerintah Trump serius menangani isu biaya hidup.
Sebanyak 41 persen responden menyalahkan pemerintahan Trump, sementara 40 persen menyalahkan apa yang disebut sebagai “keserakahan korporasi”, dan sisanya tersebar pada berbagai pihak politik.
Ilustrasi konsumen
Sementara itu, data ekonomi menunjukkan stimulus pertumbuhan makro, namun di tingkat rumah tangga banyak tekanan tetap dirasakan.
Baca juga: Trump Ancam Negara Mitra agar Tarik Diri dari Perjanjian Dagang Setelah Tarif Dibatalkan
Harga makanan, listrik, gas, dan sewa masih naik di banyak wilayah, bahkan ketika inflasi keseluruhan cenderung menurun secara statistik.
Ini memunculkan kesenjangan antara gambaran statistik makro yang coba disampaikan pemerintahan dan pengalaman ekonomi sehari-hari warga biasa.
Di sektor perumahan, Trump mengumumkan perintah eksekutif yang melarang perusahaan investasi besar membeli rumah keluarga satu unit, sebuah langkah yang ia klaim akan mengembalikan lebih banyak rumah untuk pembeli individu.
“Pilar lain dari impian Amerika yang telah diserang adalah kepemilikan rumah. Kisah-kisah seperti inilah yang menyebabkan bulan lalu saya menandatangani perintah eksekutif untuk melarang perusahaan investasi besar Wall Street membeli ribuan rumah keluarga tunggal," ujar Trump.
Baca juga: Pengamat: Indonesia Harus Waspadai “Poison Pills” di Balik Tarif Trump
Namun, pidato itu tidak secara terperinci memaparkan rencana konkret untuk mengatasi masalah sewa tinggi, tingkat bunga hipotek, dan harga rumah yang tetap di luar jangkauan banyak pembeli pertama.
Kritik Partai Demokrat dan reaksi publik
Partai Demokrat merespons pidato Trump dengan kritik yang tajam, menuduh pemerintahan gagal memahami atau menangani realitas ekonomi yang dihadapi rakyat kelas menengah dan rendah.
Gubernur Virginia Abigail Spanberger, dalam tanggapan resmi Partai Demokrat, menyatakan pidato Trump tidak mencerminkan kebenaran kondisi ekonomi banyak warga AS.
Ia menegaskan, biaya hidup tinggi justru memperburuk kesejahteraan keluarga di seluruh negeri.
“Kita tidak mendengar kebenaran dari presiden kita. Apakah presiden bekerja untuk membuat hidup lebih terjangkau bagi Anda dan keluarga Anda? Kita semua tahu jawabannya adalah tidak," tutur Spanberger, dikutip dari The Guardian.
Ilustrasi tarif Trump.
Baca juga: AS Klaim Tak Ada Negara yang Mundur dari Kesepakatan Tarif Trump
Demokrat menyoroti kebijakan tarif, sementara bertujuan melindungi produsen domestik, telah menimbulkan biaya tambahan bagi konsumen dan pelaku usaha kecil.
Selain itu, masalah seperti harga makanan, layanan kesehatan, dan premi asuransi tetap menjadi sumber tekanan besar pada anggaran rumah tangga, yang menurut mereka tidak cukup ditanggapi dalam pidato Trump.
Reaksi publik yang meluas juga tercermin dari survei opini luas bahwa mayoritas warga masih berjuang dengan biaya hidup tinggi meskipun indikator keseluruhan mungkin membaik menurut angka resmi.
Dinamik politik dan implikasi ekonomi
Pidato Trump di State of the Union ini terjadi di tengah dinamika politik yang sarat tekanan menjelang pemilu sela Kongres AS tahun ini.
Baca juga: MA AS Batalkan Tarif Trump, Ekonom: Indonesia Tak Perlu Ratifikasi ART
Trump dan Partai Republik mencoba mengaitkan pencapaian ekonomi dengan agenda mereka, namun tantangan yang dirasakan secara langsung oleh warga, terutama terkait biaya hidup, berpotensi mempengaruhi preferensi politik.
Isu kemampuan membeli menjadi pusat perdebatan politik: apakah pertumbuhan ekonomi makro dan tekanan inflasi yang menurun cukup untuk meringankan beban rumah tangga?
Banyak analis berpendapat ada kesenjangan antara statistik ekonomi dan pengalaman sehari-hari warga, terutama mereka dengan pendapatan menengah ke bawah.
Pidato Trump mencerminkan upaya pemerintahannya untuk mengklaim agenda ekonomi yang berhasil melalui indikator makro ekonomi, penurunan inflasi, pasar modal yang kuat, dan reformasi kebijakan.
Baca juga: Mahkamah Agung AS Nyatakan Tarif Trump Ilegal, Potensi Refund Rp 2.950 T
Namun, respon publik dan kritik politik menunjukkan narasi tersebut belum sepenuhnya menyentuh pengalaman ekonomi yang paling dirasakan oleh banyak keluarga Amerika, terutama soal daya beli rumah, harga kebutuhan pokok, biaya asuransi dan kesehatan.
Perdebatan tentang arah kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan Trump, serta bagaimana isu affordability akan mempengaruhi lanskap politik dan ekonomi lebih luas, dipastikan akan menjadi fokus utama sepanjang tahun politik 2026.
Tag: #trump #sebut #inflasi #turun #survei #ungkap #daya #beli #warga #masih #tertekan