Menakar Untung Rugi Konsolidasi BUMN, Masih Realistis?
- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara berencana melakukan konsolidasi terhadap perusahaan BUMN yang berjumlah lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 300 perusahaan saja.
Rencana ini dinilai dapat membuat kinerja perusahan pelat merah lebih efisien dan mudah dipantau.
Namun demikian, proses konsolidasi yang terburu-buru juga menyisakan kekhawatiran, misalnya terkait pengurangan jumlah pekerja.
Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan mengatakan, salah satu penyebab konsolidasi harus segera dilakukan adalah karena selama ini banyak bisnis BUMN yang tidak efisien.
"Bahkan tumpang tindih," kata dia kepada Kompas.com. Jumat (20/2/2026).
Baca juga: OJK Beberkan Rencana Danantara Konsolidasi BUMN Keuangan dan Non-keuangan
Sebagai contoh, ia menceritakan, banyak BUMN yang punya bisnis air minum dalam kemasan maupun perhotelan. Padahal, sektor-sektro itu bukan bisnis intinya.
Bisnis yang seharusnya bisa digarap oleh satu perusahaan, tapi dilakukan oleh banyak perusahaan, dalam hal ini adalah BUMN.
"Karena itu, konsolidasi menjadi keharusan untk segera dilakukan," ucap dia.
Selain itu, Herry bilang, konsolidasi juga sangat penting untuk mengevaluasi BUMN yang punya anak usaha lebih dari 20 perusahaan.
"Padahal, induknya ada yang malah merugi. Ini semua perlu diaudit," ujar Herry.
Baca juga: Danantara Beberkan Skema Konsolidasi BUMN Reasuransi
Tujuan konsolidasi BUMN
Herry mengungkapkan, seharusnya yang menjadi pertimbangan Danantara dalam mengonsolidasikan BUMN adalah untuk menciptakan efisiensi dan meningkatkan manfaat BUMN baik bagi perekonomian, program pemerintah, maupun sosial.
Hal itu merupakan amanat lahirnya BUMN seperti tertuang dalam UU BUMN 2026.
"Dengan pertumbangan itu, Danantara mestinya punya skenario peta bisnis BUMN ke depan seperti apa," ujar dia.
Kendati demikian, Herry bilang, skenario ini belum terlihat sama sekali.
"Sehingga relatif mengkhawatirkan," ungkap dia.
Baca juga: Mau Konsolidasi BUMN, Danantara Heran Jumlahnya Terus Bertambah
Dalam perkembangannya, Herry menilai BPI Danantara justru sibuk membuat BUMN baru, seperti PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), padahal sudah ada BUMN tambang dan energi.
Sebelumnya muncul juga PT Agro Industri Nasional (Agrinas) di tengah banyaknya BUMN di bidang perkebunan maupun pangan.
"Karena itu, menurut saya, cara berpikirnya bukan menyelamatkan BUMN, tetapi menyelamatkan negara," ucap dia.
Berdasarkan pandagannya, ketika ada BUMN bermasalah hingga merugi, bisnis dan pengelolanya harus diaudit.
"Kalau ditemukan ada pelanggaran hukum, harus ada proses dan konsekuensi hukum. Jangan cuma dipecat," ujar dia.
Baca juga: Danantara Targetkan Merger BUMN Karya Rampung Semester II-2026
Risiko konsolidasi BUMN
Presiden RI Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026) Menurut Herry, konsolidasi tak menutup kemungkinan untuk terjadinya pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Tentu ini harus dimitigasi," ucap dia.
Namun jika tidak dikonsolidasikan, risikonya akan lebih panjang dan lebih besar.
"Mungkin akan berdampak pemutusan hubungan kerja jauh lebih besar ketimbang saat dikonsolidasikan," ujar dia.
Baca juga: Merger Reasuransi BUMN Perlu Perhatikan Risiko Dilusi Mandat Khusus
Rencana konsolidasi BUMN kurang realistis
Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, rencana pemerintah melakukan konsolidasi jadi 300 BUMN kurang realistis dalam satu tahun.
"Pertama menimbulkan ekses PHK massal, di saat lapangan kerja sedang sulit dicari," ucap dia kepada Kompas.com.
Selain itu, dalam konsolidasi ini juga akan terjadi pemangkasan pegawai BUMN.
"Bonus dan insentif yang berkurang jadi konsekuensinya," ungkap dia.
Apalagi dalam proses konsolidasi, Bhima bilang, Danantara belum terlihat melakukan diskusi dengan serikat pekerja BUMN dan anak usaha BUMN.
Baca juga: Pidato di WEF, Prabowo Pastikan BUMN Dipangkas dari 1.044 Jadi 300
BUMN sehat jadi terima beban
Selain itu, konsolidasi aset juga bisa menjadi beban bagi BUMN yang sehat.
Pasalnya, BUMN dengan kinerja baik akan menanggung beban BUMN yang utangnya jumbo dengan kinerja negatif.
Bhima berpandangan, dalam konsolidasi BUMN nantinya juga terdapat tantangan penyesuaian regulasi meski sudah ada revisi UU BUMN dan pemisahan aset Danantara dan negara.
"Namun fakta bahwa tidak semua BUMN berbentuk PT melainkan perum," ucap Bhima.
Dengan demikian, akan diperlukan revisi UU BUMN lagi, dan tentu menimbulkan ketidakpastian bagi partner investasi.
Baca juga: Bos IFG Life Sebut Proses Migrasi Polis Nasabah Jiwasraya 99,9 Persen
Konsolidasi BUMN bisa pengaruhi pasar saham
Bhima menjelaskan, kepemilikan saham BUMN banyak yang melibatkan investor swasta dalam bentuk joint venture hingga saham.
Dengan begitu, peleburan berbagai macam BUMN tidak mudah.
"Bisa timbul gejolak di pasar saham dan penilaian yang negatif," ungkap dia.
Bhima berujar, belum tentu konsolidasi bisa membuat BUMN efektif dan sehat.
Ia berpanganan, masalah yang ada terletak pada pemilihan pucuk direksi dan komisaris.
"Selama kompetensi dan titip jabatan masih terjadi, tidak akan merubah apapun. Yang sehat justru jadi sakit," ungkap dia.
Baca juga: Ungkap Rencana Merger BUMN, Danantara: Ada 1.063 Perusahaan, Nanti Pelan-pelan Menyusut
Danantara akan rampingkan jumlah BUMN
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara merampingkan jumlah BUMN dari sekitar 1.044 entitas menjadi 300 perusahaan.
Langkah ini untuk menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisien, dan memiliki daya saing.
Selain itu, restrukturisasi keuangan juga dilakukan secara selektif.
Injeksi modal atau equity injection kini hanya diberikan kepada BUMN yang memiliki model bisnis yang jelas dan mampu mencatatkan kontribusi margin positif.
COO BPI Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi menyeluruh dalam pengelolaan BUMN.
"Bagi kami transformasi ini harus dilakukan dan pilihan untuk melakukan dari 1.000 menjadi 300 itu sebetulnya adalah pilihan yang sangat logis dan profesional," kata Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026.
Baca juga: Rapat Tertutup dengan Komisi VI DPR, Danantara Bahas Pemangkasan Jumlah BUMN
Ia menambahkan, keputusan ini cukup penting lantaran pengawasan terhadap lebih dari 1.000 perusahaan sangat sulit dilakukan.
Menurut dia, dengan jumlah sekitar 300 perusahaan yang telah melalui proses pemetaan dan pemantauan akan jauh lebih mudah.
"Dari 300 itu sebetulnya kalau kita bagi by sektor, kita hanya masuk ke 16 sektor saja. Sisanya kita tidak akan terima," kata dia.
Selain itu, Dony memastikan di tengah proses konsolidasi tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Para karyawan perusahaan yang ditutup nantinya akan bergabung dengan perusahaan yang bertahan.
"Tapi tidak usah khawatir, tidak akan ada PHK karena akan konsolidasi dan karyawan ikut," ujar dia.
Baca juga: Bakal Pangkas Jumlah BUMN hingga Anak-Cucu, Danantara: Tidak Boleh Ada PHK!
Target laba bersih BUMN Rp 350 triliun pada 2026
BPI Danantara menargetkan laba bersih seluruh BUMN mencapai Rp 360 triliun pada 2026. Target ini naik dari realisasi tahun lalu yang mencapai sekitar Rp 285 triliun.
Dony bilang, kenaikan target laba tersebut didorong hasil transformasi dan restrukturisasi BUMN yang telah dijalankan dalam satu tahun terakhir.
"Tahun 2026, kami memasukkan rencana kerja kurang lebih Rp 350 triliun laba, tetapi saya tentu mengekspektasikan lebih," ujarnya dalam acara diskusi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, sejatinya laba BUMN pada 2025 mencapai sekitar Rp 332 triliun.
Namun, setelah dilakukan penyesuaian berupa penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp 55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp 280 triliun hingga Rp 285 triliun.
"Jadi sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik, itu baru laba, belum lagi pajak dan lain sebagainya," tutup Dony.
Baca juga: Prabowo Perintahkan Jumlah BUMN Dipangkas dari 1.000 Perusahaan
Tag: #menakar #untung #rugi #konsolidasi #bumn #masih #realistis