Belajar dari Ricuh Pembagian Bantuan, Mendagri Minta Stok Pangan Sumatera Diamankan untuk 3 Bulan
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. (tangkap layar)
09:58
19 Februari 2026

Belajar dari Ricuh Pembagian Bantuan, Mendagri Minta Stok Pangan Sumatera Diamankan untuk 3 Bulan

Baca 10 detik
  • Mendagri Tito Karnavian meminta ketersediaan stok logistik dan pangan Sumatera aman selama tiga bulan ke depan, termasuk Ramadan 2026.
  • Permintaan ini disampaikan saat rapat bersama DPR di Jakarta Pusat pada Rabu (18/2/2026) untuk cegah kekurangan pasca-bencana.
  • Bencana di Sumatera menyebabkan 1.205 jiwa meninggal dunia dan berdampak pada lebih dari 52 kabupaten/kota terdampak.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta ketersediaan stok logistik dan pangan di wilayah Sumatera dipastikan aman untuk tiga bulan ke depan.

Permintaan ini mencakup kebutuhan selama Ramadan 2026, terutama di daerah terdampak bencana yang masih rentan terhadap gangguan distribusi.

Hal tersebut disampaikan Tito dalam rapat bersama DPR RI di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026). Ia menyebut, pemerintah ingin memastikan peristiwa kekurangan logistik di awal bencana tidak kembali terulang.

Tito menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menjaga ketahanan stok pangan di wilayah tersebut.

Koordinasi dilakukan agar cadangan logistik bisa tersedia dalam jangka menengah, bukan hanya untuk kebutuhan harian.

"Kami sudah koordinasi dengan Bapak Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, dan juga Bulog agar stok pangan logistik, belajar dari kasus ini, agar distok selama tiga bulan," ucapnya.

Ia secara khusus meminta Perum Bulog mengirimkan bahan pangan pokok secara bertahap, terutama beras dan minyak goreng, ke daerah terdampak bencana.

Ilustrasi beras di gudang Bulog [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa] PerbesarIlustrasi beras di gudang Bulog [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]

Langkah ini diambil setelah pemerintah melihat dampak sosial saat distribusi bantuan sempat tersendat.

Tito mengingatkan, pada awal bencana masyarakat sempat berebut bantuan pangan hingga menimbulkan kericuhan. Bahkan, terjadi aksi penjarahan minimarket karena stok logistik dinilai tidak mencukupi.

"Itu lah yang terjadi di Takengon saat itu sempat akan terjadi demo karena kekurangan logistik," tuturnya.

"Bulog terutama, beras, minyak goreng, itu dikirim secara bertahap untuk kekuatan tiga bulan," sambung Tito.

Di sisi lain, Tito juga memaparkan dampak besar bencana di Sumatra yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas. Berdasarkan data pemerintah, sebanyak 1.205 orang meninggal dunia dan 139 orang dinyatakan hilang.

"Itu yang meninggal dunia, dalam data kita, adalah 1.205 orang dan yang hilang 139 orang. Pengungsi juga tadinya 2 juta lebih, sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda," ucapnya.

Ia merinci korban meninggal terdiri dari 267 orang di Sumatera Barat, 376 orang di Sumatera Utara, dan 562 orang di Aceh. Sementara korban hilang tercatat 70 orang di Sumatera Barat, 40 orang di Sumatera Utara, dan 29 orang di Aceh.

Bencana tersebut juga berdampak luas pada wilayah administrasi. Tercatat 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa terdampak, termasuk kerusakan rumah warga hingga fasilitas publik.

"Termasuk kerusakan rumah, baik ringan, sedang, berat, maupun yang hilang. Kemudian fasilitas pendidikan yang rusak, sesuai data," katanya.

"Fasilitas kesehatan, kemudian juga jembatan yang rusak ataupun roboh, fasilitas ibadah, baik masjid maupun gereja, jalan, kemudian fasilitas umum lain, serta tadi, pengungsi," pungkas dia.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #belajar #dari #ricuh #pembagian #bantuan #mendagri #minta #stok #pangan #sumatera #diamankan #untuk #bulan

KOMENTAR