Emas Dunia Terkoreksi Tajam, Ini Penyebabnya
Ilustrasi Emas Batangan. (pixabay.com)
10:14
18 Februari 2026

Emas Dunia Terkoreksi Tajam, Ini Penyebabnya

Baca 10 detik
  • Harga emas global anjlok lebih dari 2% pada Selasa (17/2/2026) akibat Dolar AS menguat dan meredanya isu geopolitik.
  • Penurunan harga emas dipicu oleh kenaikan Dolar AS serta optimisme kemajuan negosiasi nuklir Iran dan Rusia-Ukraina.
  • Investor kini menantikan risalah The Fed dan data inflasi PCE untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga mendatang.

Harga emas global mengalami tekanan jual yang masif pada sesi perdagangan Selasa (17/2/2026).

Logam mulia ini merosot lebih dari 2%, sebuah koreksi signifikan yang dipicu oleh kombinasi penguatan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) serta meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Berdasarkan data pasar terbaru, harga emas di pasar spot anjlok sebesar 2,16% ke level US$ 4.883,17 per ons troi.

Penurunan yang lebih dalam terlihat pada kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April, yang terkoreksi hingga 2,87% dan berakhir di posisi US$ 4.901,66 per ons troi.

Salah satu faktor teknis yang membebani emas adalah kenaikan indeks Dolar AS sebesar 0,3% terhadap mata uang utama lainnya.

Mengingat emas diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar, penguatan greenback membuat aset safe haven ini menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing. Kondisi tersebut secara otomatis mengerem minat beli investor internasional.

Analis senior dari Kitco Metals, Jim Wyckoff, berpendapat bahwa tren kenaikan emas (bullish) saat ini sedang kehilangan tenaga karena minimnya pendorong baru.

"Pasar bullish membutuhkan dukungan fundamental baru secara berkala. Namun belakangan ini, tidak ada sentimen positif baru yang cukup kuat untuk mendorong harga emas dan perak lebih tinggi," jelas Wyckoff.

Faktor geopolitik menjadi pemicu utama di balik aksi ambil untung para investor. Kabar positif datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang mengindikasikan adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi nuklir dengan AS.

Meskipun belum mencapai kesepakatan akhir, kesepahaman pada prinsip-prinsip dasar telah menurunkan suhu ketegangan di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, optimisme juga muncul dari Jenewa, di mana delegasi Rusia dan Ukraina bertemu dalam perundingan damai yang dimediasi oleh pihak Gedung Putih.

Wyckoff menambahkan bahwa jika konflik dengan Iran dapat dihindari dan jalur damai Rusia-Ukraina terbuka, maka kecemasan pasar akan menyusut, yang secara langsung menjadi sentimen negatif bagi komoditas emas dan perak.

Kini, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis risalah rapat bank sentral AS (The Fed) edisi Januari yang dijadwalkan terbit pada Rabu waktu setempat.

Selain itu, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Jumat (20/2/2026) sangat dinantikan untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga.

Pasar saat ini berspekulasi bahwa pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga perdana The Fed kemungkinan baru akan terjadi pada Juni 2026.

Emas biasanya akan kembali dilirik dalam lingkungan suku bunga rendah karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga (yield).

Volume perdagangan global terpantau lebih moderat karena bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek di sejumlah pusat keuangan Asia seperti China, Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan.

Koreksi harga juga merembet ke komoditas logam mulia lainnya:

Perak spot: Ambrol 3,9% menjadi US$ 73,62 per ons troi.

Platinum: Turun 1,26% ke US$ 2.018,3 per ons troi.

Palladium: Merosot 1,92% menjadi US$ 1.694,73 per ons troi.

DISCLAIMER: Artikel ini menyajikan informasi mengenai fluktuasi harga emas dunia per 17-18 Februari 2026 berdasarkan data pasar terkini. Harga komoditas bersifat sangat volatil dan dipengaruhi oleh kebijakan makroekonomi serta situasi geopolitik global. Artikel ini bukan merupakan saran investasi atau ajakan untuk membeli/menjual aset tertentu.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #emas #dunia #terkoreksi #tajam #penyebabnya

KOMENTAR