Harga Emas dan Perak Menguat, Sinyal Penguatan Jangka Panjang?
- Pasar logam mulia menguat pada Jumat pagi saat investor menanti rilis data penting Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat.
- Anjloknya harga logam Kamis dipicu kekhawatiran AI, diperparah algoritma trading dan likuidasi paksa investor.
- Pemerintahan Trump berupaya melonggarkan tarif baja dan aluminium, seiring AS mengirim kapal induk ke Timur Tengah.
Pasar logam mulia menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Jumat pagi waktu Amerika Serikat. Investor kini dalam posisi waspada menantikan rilis salah satu indikator ekonomi paling krusial bulan ini, yakni Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.
Harga emas untuk kontrak April terpantau naik USD43,20 ke level USD4.992,60, sementara perak kontrak Maret meningkat USD1,688 ke posisi USD77,35.
Fokus utama pasar pagi ini tertuju pada data inflasi Januari. Analis memproyeksikan angka CPI tahunan akan berada di level 2,5%, dengan inflasi "inti" (tidak termasuk pangan dan energi) juga diperkirakan tetap di angka 2,5%.
Sebelumnya, sempat beredar rumor di pasar bahwa data CPI telah bocor dengan angka yang menunjukkan lonjakan inflasi yang tinggi. Namun, kabar tersebut hingga saat ini dinilai tidak mendasar dan hanya merupakan spekulasi pasar.
Dikutip via Kitcoi, analis mulai membedah fenomena jatuhnya harga logam secara mendadak pada Kamis pagi.
Emas, perak, tembaga, hingga platinum sempat anjlok drastis yang diduga kuat dipicu oleh kekhawatiran terkait sektor Kecerdasan Buatan (AI) yang kemudian memicu aksi jual di pasar saham.
Penurunan ini diperparah oleh:
Algoritma Trading: Perdagangan berbasis komputer (algoritma) mempercepat jatuhnya harga saat level teknis tertentu tertembus.
Margin Calls: Menurut Nicky Shiels dari MKS PAMP SA, banyak investor terpaksa keluar dari posisi komoditas mereka untuk memenuhi kebutuhan likuiditas (likuidasi paksa) guna menutupi kerugian di sektor lain.
Risk-Off Move: Fenomena ini dikategorikan sebagai langkah penghindaran risiko massal, di mana bahkan aset aman seperti emas dijual saat pasar berada dalam tekanan ekstrem demi mendapatkan dana tunai.
Dari sisi kebijakan luar negeri, pemerintahan Donald Trump dikabarkan sedang berupaya mempersempit penerapan tarif baja dan aluminium.
Langkah ini diambil setelah munculnya komplain dari banyak perusahaan yang kesulitan menghitung skema tarif tersebut, serta adanya permintaan dari Uni Eropa sebagai bagian dari kesepakatan dagang yang sedang berlangsung. Kabar rencana pelonggaran tarif ini langsung berdampak pada penurunan harga aluminium di London.
Sementara itu, terkait ketegangan di Timur Tengah, Presiden Trump mengisyaratkan bahwa negosiasi dengan Iran terkait ambisi nuklir negara tersebut dapat berlangsung selama satu bulan.
"Seharusnya terjadi dengan cepat. Mereka harus setuju dengan sangat cepat," ujar Trump.
Di saat yang sama, AS dilaporkan mengirim kapal induk terbesar di dunia ke Timur Tengah sebagai bentuk tekanan militer agar Iran bersedia mencapai kesepakatan diplomatik.
Kondisi Pasar Luar dan Indikator Ekonomi
Beberapa indikator pasar luar negeri yang memengaruhi perdagangan hari ini antara lain:
Dolar AS: Mengalami penguatan tipis.
Minyak Mentah: Diperdagangkan sedikit melemah di kisaran USD62,50 per barel.
Imbal Hasil Obligasi: Yield obligasi 10 tahun AS saat ini berada di level 4,12 persen.
Tag: #harga #emas #perak #menguat #sinyal #penguatan #jangka #panjang