Kenali Ciri Saham Gorengan, Begini Strategi Aman Investor Ritel
- Partisipasi investor ritel di pasar modal terus meningkat, tapi risiko terjebak pada saham-saham gorengan tak bisa dihindari.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada penambahan 5,34 juta investor baru pada 2025, sehingga pada periode itu Single Investor Identification (SID) di pasar modal mencapai 20,2 juta.
Meski jumlah SID yang cukup tinggi, pemahaman terhadap ciri-ciri saham gorengan menjadi langkah penting untuk melindungi modal. Pasalnya, harga yang terlihat “menggiurkan” dalam waktu singkat kerap berujung pada kerugian.
Baca juga: Free Float 15 Persen, Cukup Ampuh Cegah “Saham Gorengan”?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan saham gorengan umumnya ditandai dengan pola pump and dump, yakni harga melonjak drastis dalam waktu singkat tanpa didukung kinerja fundamental, lalu tiba-tiba anjlok tajam ketika pelaku utama melepas kepemilikan.
Naasnya lonjakan harga saham seringkali memanfaatkan psikologi fear of missing out (FOMO) investor ritel.
“Pump and dump, harga saham tiba-tiba menguat signifikan, kemudian tiba-tiba menurun signifikan,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Minggu (15/2/2026).
Ciri berikutnya adalah volume semu (wash sales). Aktivitas transaksi terlihat sangat ramai, tetapi sebenarnya dilakukan oleh pihak yang sama melalui akun berbeda dalam satu kendali.
Tujuannya menciptakan ilusi likuiditas agar investor lain tertarik masuk.
“Volume semu, transaksi jual-beli yang dilakukan oleh pihak yang sama (akun berbeda namun satu kendali) untuk menciptakan kesan saham tersebut sangat likuid dan diminati,” paparnya.
Baca juga: Terseret Isu Saham Gorengan, PIPA Fokus Reposisi Bisnis ke Sektor Energi
Ada pula praktik painting the tape, yaitu upaya “mempercantik” harga penutupan di akhir sesi perdagangan agar grafik terlihat positif.
Harga digerakkan tipis menjelang closing untuk membangun persepsi bahwa saham tersebut sedang kuat.
Selain itu, saham gorengan cenderung bergantung pada narasi media sosial atau promosi influencer.
Pergerakan harga lebih banyak dipicu rumor dan sentimen viral ketimbang laporan keuangan, arus kas, atau prospek bisnis yang terukur. Ketika narasi berhenti, harga pun berisiko terkoreksi tajam.
“Ketergantungan pada narasi/influencer, di mana harga bergerak bukan karena laporan keuangan, tapi karena hembusan rumor di media sosial tanpa basis fundamental,” kata Nafan.
Menurutnya, menghadapi kondisi tersebut, investor ritel perlu menerapkan strategi investasi yang disiplin.
Pertama, fokus pada fundamental perusahaan. Periksa laporan keuangan, pertumbuhan laba, arus kas, serta rasio valuasi seperti price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV). Saham dengan kinerja konsisten lebih tahan terhadap volatilitas jangka pendek.
Kedua, prioritaskan saham dengan rekam jejak dividen stabil. Dividend yield yang sehat memberikan bantalan imbal hasil sekaligus menjadi indikator kesehatan arus kas perusahaan.
“Di tengah pasar yang stabil, saham dengan dividend yield tinggi (4-7 persen) akan menjadi primadona,” lanjutnya.
Ketiga, terapkan diversifikasi. Jangan menempatkan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor. Kombinasi saham defensif seperti perbankan dan konsumsi dengan saham growth dapat membantu menyeimbangkan risiko.
Tag: #kenali #ciri #saham #gorengan #begini #strategi #aman #investor #ritel