Saat Bandara Disulap Jadi Arena Lari, YIA Tawarkan Sport Tourism Bebas Polusi
Sebanyak 1.800 pelari ikuti YIA Grow Run 2026 di dalam kawasan Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.(KOMPAS.COM/DANI JULIUS)
16:42
15 Februari 2026

Saat Bandara Disulap Jadi Arena Lari, YIA Tawarkan Sport Tourism Bebas Polusi

Siapa sangka kawasan bandara bisa berubah menjadi lintasan lari yang steril dari kendaraan dan minim polusi? Itulah pengalaman yang dirasakan sekitar 1.800 peserta Yogyakarta International Airport  (YIA) Grow Run 2026 di Bandar Udara Yogyakarta Internasional Airport, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk pertama kalinya, jalan aspal di dalam area bandara yang biasa dilalui kendaraan dimanfaatkan sebagai lintasan olahraga dengan tiga kategori, yakni 10K (kilometer), 5K, dan 2,5K. Konsep ini menghadirkan pengalaman berbeda dibanding lomba lari di jalan raya.

General Manager Bandara YIA, Ruly Artha, mengatakan pemanfaatan kawasan bandara untuk event olahraga merupakan bagian dari upaya menghadirkan fungsi baru bandara sebagai ruang publik.

Baca juga: Unik, Ada Turnamen Basket Indoor di Bandara YIA untuk Sport Tourism

“Kegiatan ini bukan hanya karena bandara, tetapi karena dukungan ekosistem, mulai dari pemerintah daerah hingga para pemangku kepentingan lainnya. Harapannya, ini menjadi aktivitas berkelanjutan dan membuka peluang event-event kreatif lain di kawasan bandara,” kata Ruly di sela kegiatan, Minggu (15/2/2026).

Keunikan ajang ini terletak pada lintasan dan kawasannya. Ribuan pelari menapaki jalan aspal yang halus dan rata, yang biasanya dilintasi bus, mobil, motor yang keluar masuk bandara. Jalur khusus yang disediakan di jalan itu untuk pelari sepenuhnya steril dari kendaraan bermotor.

Sebagian besar jalur relatif datar, meski untuk kategori 5K dan 10K peserta melewati rute yang lebih variatif, termasuk underpass dan jembatan di dalam kawasan bandara.

Start dan finish dipusatkan di area parkir samping Barat gedung parkir. Dari titik tersebut, peserta berlari hingga ke gerbang terdepan kawasan bandara. Jalur yang digunakan bahkan cukup lebar dan lapang.

Baca juga: Perahu Wisata di Pasar Gede Solo Saat Imlek 2026, Berapa Tarifnya dan Sampai Kapan?

Sepanjang rute, pelari disuguhi pemandangan langit terbuka, instalasi ikonik bandara, seperti: Patung Hamemayu Hayuningrat setinggi 15 meter, patung Gunungan, instalasi patuh Soedirman ditandu, embung, serta tampilan terminal YIA yang gemerlap di kejauhan.

Di antara pelari, tampak Tarman asal Kulon Progo, peserta kategori 5K umum, yang mengaku menikmati lintasan steril dari kendaraan ini.

“Rasanya luar biasa. Yang paling menyenangkan adalah udara di sini bersih, tidak ada polusi sama sekali,” kata Tarman, yang finish bersama sejumlah pelari 5K saat itu.

Sementara itu, Robby Sandio, peserta kategori Master 5K asal Temanggung, Jawa Tengah, menekankan perbedaan signifikan dibanding lomba di jalan umum.

“Kalau di jalan raya biasanya ada perempatan dan kendaraan yang lewat. Di sini steril, tidak ada motor atau mobil,” kata Robby. Menurut dia, kondisi lintasan membuat catatan waktunya lebih optimal karena minim hambatan. Ia menyelesaikan lomba dengan waktu 19 menit 46 detik.

Selain keamanan dan kenyamanan, peserta juga dapat menikmati taman-taman di area bandara yang biasanya hanya terlihat sekilas oleh penumpang. “Lokasinya menyenangkan untuk lari,” kata Robby

Baca juga: BBWI Travel Fair 2026 Digelar di Mal Kokas, Tawarkan Banyak Promo

Dorong Sport Tourism

Dengan antusiasme ribuan peserta, bandara ternyata bisa dikemas bukan lagi sekadar tempat transit, tetapi juga panggung gaya hidup sehat dan etalase promosi pariwisata daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman, menilai konsep ini sejalan dengan tren sport tourism yang terus berkembang.

“Running adalah bagian dari sport tourism. Pariwisata itu tidak hanya tentang mengunjungi objek wisata, tetapi mencakup sektor yang lebih luas, seperti hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM. Dengan adanya event seperti ini, ekonomi masyarakat bisa ikut bergerak,” kata Sutarman.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, melalui dinas pariwisata, berencana menggelar event serupa secara rutin, termasuk lomba lari dan sepeda di wilayah selatan, tengah, dan utara. Targetnya, Kulon Progo menjadi destinasi wisata berbasis olahraga baru di DIY.

Tag:  #saat #bandara #disulap #jadi #arena #lari #tawarkan #sport #tourism #bebas #polusi

KOMENTAR