Hotel Jakarta Akui Masih Ramai Tamu, Meski Okupansi Diprediksi Menurun
Lebih dari sebulan berlalu, hotel-hotel di Jakarta mengaku masih ramai tamu pada awal tahun 2026 ini.
Kompas.com mewawancarai tiga petinggi hotel berbintang di Jakarta secara terpisah. Mereka kompak menyatakan kondisi hotel Jakarta yang terbilang stabil.
"Dibandingkan sebelum Covid-19, MICE lebih baik tahun ini," kata General Manager Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta, Danang Triwidyantoro, ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Sepanjang Januari 2026, Danang mengatakan, okupansi hotel bintang empat di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tersebut mencapai 86 persen.
Baca juga: Turis Kanada Tewas Ditemukan di Hotel di Labuan Bajo, Ada Lencana Polisi dan Surat Wasiat
Bahkan, berdasarkan data sementara, tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi di GranDhika Iskandarsyah Jakarta mencapai 92 persen pada Februari 2026.
General Manager at Hotel The 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa, Eva Rosdiana, juga menyatakan hal serupa.
Dibandingkan tahun lalu, okupansi Hotel The 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa tahun 2026 justru disebut lebih baik.
"Kalau tahun lalu, kuartal satu itu kan bisa dibilang kaget banget, akhirnya okupansi bisa sampai kurang dari 50 persen. Saat ini, tetap lebih baik dibandingkan tahun lalu," ungkap Eva.
Baca juga: Okupansi Hotel Berpotensi Turun Selama Tahun 2026, Kenapa?
"Tingkat okupansi selama dua bulan terakhir ini kita udah sampai 72 persen," lanjut dia ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Eva menjelaskan, perubahan target tamu hotel menjadi kunci okupansi hotel di Jakarta meningkat pada tahun ini.
Bukan lagi menyasar banyak tamu dari kalangan bisnis pemerintah, Hotel The 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa justru menargetkan tamu swasta, sekaligus bekerja sama dengan agen perjalanan wisata.
Strategi ini juga dijalankan oleh Hotel Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center, hotel bintang empat lain di kawasan perkantoran Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.
Baca juga: Hotel Tertinggi Dunia, Ada 1.000 Kamar dan Bisa Tidur di Atas Awan
General Manager Hotel Aston Priority Simatupang, Andi Gevika Rizki, mengaku telah menyetarakan target tamu untuk pemerintahan, korporasi, dan Free & Independent Traveler (FIT) alias wisatawan dengan porsi masing-masing sebesar 30 persen.
"Jadi terlepas dari tahun-tahun sebelumnya, setelah Covid-19 itu kami sudah mulai switching market," kata Eva ketika ditemui Kompas.com di sela preview menu iftar Aston Priority Simatupang, Jumat (13/2/2026).
Sejak menyasar target bervariasi, Eva menyebut bahwa Aston Priority Simatupang mulai kedatangan banyak tamu yang berlibur atau staycation sejak 2023.
Terhitung dua bulan pertama di tahun 2026, Eva mengatakan, okupansi Aston Priority Simatupang mencapai 60 persen dari total 277 kamar dengan tujuh tipe berbeda.
Baca juga: 10 Hotel Romantis di Bali untuk Bulan Madu 2026
Potensi okupansi hotel menurun pada 2026
Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi BS Sukamdani, menyampaikan bahwa okupansi hotel berpotensi turun selama 2026.
"Dari sisi hotel, 2026 cukup rawan. Okupansi (kamar hotel) berpotensi turun karena anggaran perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah dialihkan ke sektor lain," kata Hariyadi dalam Rapat Kerja Nasional PHRI di Semarang, Selasa (10/2/2026), seperti dikutip Antara, Minggu (15/2/2026).
Ia mengatakan bahwa perjalanan dinas pegawai pemerintah dan kegiatan pemerintah selama ini berkontribusi signifikan terhadap okupansi hotel.
Baca juga: Tarif Hotel di Busan Korea Selatan Naik 10 Kali Lipat Jelang Konser BTS 2026
Pengalihan sebagian alokasi anggaran pemerintah untuk perjalanan dinas dan penggunaan akomodasi ke program pemerintah yang lain, kata Hariyadi, akan berpengaruh pada tingkat penggunaan layanan hotel.
Hariyadi juga mengemukakan bahwa dampak pandemi Covid-19 terhadap usaha perhotelan hingga saat ini juga belum sepenuhnya pulih.
"Untuk restoran sudah pulih, tapi untuk hotel masih belum 100 persen, sudah mau pulih malah kena pemangkasan anggaran," kata Hariyadi.
Baca juga: InJourney Targetkan akan Kelola 106 Hotel pada Tahun 2026
Ketua BPD PHRI Jakarta, Sutrisno Iwantono, tidak menampik prediksi ini. Menurutnya, potensi penurunan okupansi hotel selalu ada, termasuk pada tahun ini.
"Potensi itu tentu ada, tapi kan belum tentu juga (kejadian). Potensi itu ada karena pemerintah mengalihkan anggarannya ke sektor lain. Perjalanan dinas, leisure, meeting, itu dialihkan," ujar Sutrisno ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Saat ini, kata Sutrisno, sejumlah hotel di Jakarta rata-rata menargetkan tamu pemerintahan sebanyak 20-30 persen dari total tamu.
Baca juga: Hotel Ini Punya Staf Robot Pertama di Dunia, Namanya Hotel “Aneh”
Sutrisno melihat bahwa pengalihan anggaran ini tidak hanya berdampak bagi hotel berbintang alias hotel mewah, melainkan juga hotel-hotel nonbintang.
Sebab, bila hotel mewah mengubah strategi dengan mengincar tamu swasta dengan penawaran harga murah, hotel nonbintang bisa kehilangan tamu.
"Kalau hotel besar itu okupansinya turun, biasanya kan diikuti dengan menurunkan harga (tarif). Kalau harganya turun, implikasinya yang tadinya nginap di hotel kecil, justru pindah ke hotel yang lebih besar karena di hotel yang lebih bagus harganya turun gitu," pungkas Sutrisno.
Baca juga: Rekomendasi Hotel dan Kuliner Dekat Alun-alun Bandung, Catat!
Sementara pihak hotel menyesuaikan target pasar, Sutrisno berharap agar pemerintah juga mengupayakan aktivitas ekonomi melalui kerja sama event maupun swasta.
"Jadi kalau meeting di hotel tidak ada, ya sebaiknya lalu lintas perjalanan itu ditingkatkan. Apakah itu turis, event, apakah itu yang dilakukan oleh sektor swasta, yang bisa mendatangkan traffic," pungkas dia.
Tag: #hotel #jakarta #akui #masih #ramai #tamu #meski #okupansi #diprediksi #menurun