Berkunjung ke Tempat Mata Uang Pertama RI Ditandatangani, Ada di Jakarta
Di balik dinding putihnya yang kokoh, Gedung A.A. Maramis di Jakarta Pusat menyimpan cerita panjang tentang perpindahan pusat kekuasaan hingga tonggak kedaulatan ekonomi Indonesia.
Bangunan berstatus cagar budaya ini bukan sekadar peninggalan kolonial, melainkan salah satu saksi lahirnya Oeang Republik Indonesia (ORI), mata uang pertama yang menjadi simbol kemandirian bangsa di awal kemerdekaan.
Baca juga: Menjelajah Etiopia, dari Kopi Legendaris hingga Jejak Spiritual
Saksi lahirnya mata uang pertama RI
Nilai historis gedung ini mencapai puncaknya pada era kemerdekaan. Sejak 2008, nama gedung diubah menjadi Gedung A.A. Maramis untuk menghormati Alexander Andries Maramis, Menteri Keuangan kedua Republik Indonesia yang juga anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan.
A.A. Maramis adalah sosok penting yang namanya tercantum pada lembaran ORI pertama. Mata uang tersebut diterbitkan bukan hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai pernyataan bahwa Indonesia telah berdaulat secara ekonomi.
“Di sini pengunjung bukan hanya belajar arsitektur, tapi juga mengenal tokoh yang menandatangani uang pertama RI dalam satuan sen dan rupiah awal,” jelas Melaniarni Fitri, Guide Wisata Kreatif Jakarta, saat ditemui Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Dengan berkunjung ke gedung ini, kamu dapat mempelajari dua lapis sejarah sekaligus: kemegahan era kolonial dan semangat berdikari di awal kemerdekaan.
Baca juga: BBWI Travel Fair 2026 Digelar di Mal Kokas, Tawarkan Banyak Promo
Salah satu sisi Gedung AA Maramis (Istana Daendels) di Jakarta Pusat. Foto diambil pada Sabtu (15/6/2024).
Material “daur ulang” dari abad ke-17
Sebelum dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas keuangan, gedung yang dahulu disebut Witte Huis (Gedung Putih) ini mulai dibangun pada 7 Maret 1809 oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan Weltevreden dilakukan karena kondisi saat itu Batavia lama dinilai tidak lagi layak sebagai pusat pemerintahan karena kondisi lingkungan yang kotor dan rentan wabah penyakit
“Beberapa batu bata gedung ini diambil dari reruntuhan Kastil Batavia. Jadi sebagian materialnya memanfaatkan sisa-sisa bangunan dari sana,” jelas Melaniarni Fitri dalam sebuah tur di Gedung A.A. Maramis, Sabtu (14/2/2026).
Gedung ini dirancang oleh arsitek J.C. Schultze dengan gaya Imperium Tropis, adaptasi dari gaya arsitektur Prancis yang disesuaikan dengan iklim Nusantara, antara lain melalui penggunaan jendela besar dan atap miring untuk menghadapi curah hujan tinggi.
Ira Lathief, Founder Wisata Kreatif Jakarta, menambahkan bahwa posisi gedung ini sangat prestisius pada masanya.
“Sebenarnya kawasan ini bisa dibilang seperti ‘SCBD zaman dulu’. Dulu kawasan ini ibarat ‘berlian’-nya karena di sini ada katedral, istana, dan berbagai bangunan penting lainnya,” ujarnya.
Baca juga: 3 Negara Eropa Paling Rawan Pencurian Turis
Salah satu ruangan di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat, yang kerap dijadikan lokasi foto, Sabtu (15/6/2024).
Titik menarik yang bisa kamu lihat
Bekas penjara: Ruang tahanan masa lalu yang sunyi dengan bentuk aslinya tetap dipertahankan untuk memberi gambaran kondisi nyata penjara pada masa itu.
Jejak patung J.P. Coen: Dahulu, di depan gedung ini berdiri patung Jan Pieterszoon Coen yang dibangun untuk memperingati 200 tahun masa jabatannya, sebelum akhirnya dihancurkan pada masa pendudukan Jepang.
Material asli abad ke-17: Melalui revitalisasi pada 2019–2022, elemen asli seperti lantai dan jendela besar bergaya Imperium Tropis tetap dijaga agar pengunjung dapat merasakan atmosfer sejarah secara utuh.
Karena gedung ini dikelola oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) dan masih digunakan untuk kegiatan resmi kenegaraan, akses kunjungan umumnya terbatas pada rombongan yang telah mengajukan izin resmi (bersurat).
Tag: #berkunjung #tempat #mata #uang #pertama #ditandatangani #jakarta