Sengketa Hotel Sultan: Jejak PT Indobuildco dan Kontroversi Dinasti Bisnis Sutowo
Suasana Hotel Sultan, Jakarta saat diminta dikosongkan. (Suara.com/Fajar Ramadhan)
13:51
10 Februari 2026

Sengketa Hotel Sultan: Jejak PT Indobuildco dan Kontroversi Dinasti Bisnis Sutowo

Baca 10 detik
  • HGB Hotel Sultan milik PT Indobuildco yang dikelola Pontjo Sutowo resmi berakhir pada 2023, mengakhiri sengketa lahan GBK.
  • Lahan 13,6 hektare awalnya diminta dibangun hotel oleh Ali Sadikin namun ternyata dikelola privat oleh keluarga Sutowo sejak 1971.
  • Mahkamah Agung memutuskan lahan kembali ke negara karena HGB berakhir dan perusahaan menunggak pembayaran royalti selama 16 tahun.

Nama PT Indobuildco dan pengusaha Pontjo Sutowo kembali menjadi pusat perhatian publik setelah konflik agraria atas lahan strategis di jantung Jakarta mencapai puncaknya.

Hotel Sultan, yang selama puluhan tahun menjadi simbol kemewahan di kawasan Senayan, kini harus dikembalikan kepada negara setelah masa berlaku Hak Guna Bangunan (HGB) perusahaan tersebut resmi berakhir pada tahun 2023.

Profil Pontjo Sutowo dan Akar Bisnis Indobuildco

Pontjo Sutowo, lahir tepat di hari kemerdekaan 17 Agustus 1950, merupakan putra dari tokoh militer legendaris era Orde Baru, Ibnu Sutowo.

Sebagai informasi, Pontjo Sutowo adalah paman mertua dari Dian Sastrowardoyo. Ia merupakan kakak dari mendiang Adiguna Sutowo, ayah mertua Dian Sastro.

Pontjo Sutowo adalah putra dari Ibnu Sutowo, Direktur Utama pertama Pertamina, dan merupakan sosok pebisnis yang dikenal terkait dengan kepemilikan Hotel Sultan di Jakarta. 

Darah bisnis Pontjo mengalir kuat sejak muda; di usia 20 tahun, ia sudah mendirikan PT Adiguna Shipyard yang sukses memproduksi ratusan kapal. Kekayaan Pontjo pada tahun 2018 ditaksir mencapai US$ 265 juta atau sekitar Rp4,05 triliun.

Kiprahnya di dunia perhotelan dimulai saat ia mengambil alih manajemen Hotel Hilton (kini Hotel Sultan) pada tahun 1982.

Selain sebagai pengusaha, Pontjo dikenal sebagai tokoh organisasi yang vokal, pernah memimpin HIPMI (1979–1983) serta aktif dalam PHRI dan FKPPI.

Pontjo Sutowo (tengah) saat terpilih menjadi Ketua Umum FKPPI). (Dok: Instagram/Mardani Maming PerbesarPontjo Sutowo (tengah) saat terpilih menjadi Ketua Umum FKPPI). (Dok: Instagram/Mardani Maming

Kronologi Sengketa: Dari "Mandat" Pertamina ke Kepemilikan Privat

Akar kontroversi lahan seluas 13,6 hektare di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) ini bermula pada tahun 1971. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meminta Pertamina membangun hotel internasional untuk menyambut konferensi pariwisata se-Asia Pasifik.

Berikut fakta-fakta menarik di balik pembangunan tersebut:

  • Era Oil Boom: Pertamina yang saat itu dipimpin Ibnu Sutowo sedang bergelimang dana akibat kenaikan harga minyak dunia.
  • Tudingan Manipulasi: Ali Sadikin awalnya menyangka PT Indobuildco adalah anak usaha Pertamina (BUMN). Namun, setelah hotel berdiri pada 1976, terungkap bahwa perusahaan tersebut adalah milik pribadi keluarga Sutowo.
  • HGB 30 Tahun: Pemerintah memberikan izin HGB selama 30 tahun kepada Indobuildco, yang membuat lahan negara tersebut dikelola secara privat selama berdekade-dekade.

Pengosongan Lahan dan Hutang Royalti

Setelah melalui proses hukum yang sangat panjang, Mahkamah Agung (MA) akhirnya menjatuhkan putusan final yang memenangkan pemerintah (Kementerian Sekretariat Negara/PPKGBK).

Beberapa poin krusial dalam keputusan tersebut meliputi:

Berakhirnya HGB: Izin HGB No. 26 dan 27 atas nama Indobuildco telah habis masa berlakunya pada Maret dan April 2023.

Tunggakan Royalti: PT Indobuildco dilaporkan tidak membayar royalti kepada negara selama 16 tahun, terhitung sejak 2007 hingga 2023.

Perintah Pengosongan: Mahfud MD, saat menjabat sebagai Menko Polhukam pada kala itu, menegaskan bahwa perusahaan harus segera mengosongkan area tersebut karena status kepemilikan lahan secara sah telah kembali ke tangan negara.

Sengketa Hotel Sultan seolah membuka kembali lembaran lama mengenai sosok Ibnu Sutowo. Meski dikenal sebagai bapak pembangunan industri minyak Indonesia, ia juga terseret kontroversi manajemen buruk yang nyaris membuat Pertamina bangkrut pada era 70-an.

Walaupun jabatannya dicopot pada 1976, ia tidak pernah diadili, memicu persepsi publik mengenai kuatnya pengaruh keluarga ini di mata hukum pada masa itu.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #sengketa #hotel #sultan #jejak #indobuildco #kontroversi #dinasti #bisnis #sutowo

KOMENTAR