Moody’s Turunkan Outlook RI, Bos BEI Pastikan Fundamental Emiten Masih Solid
Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Dirut BEI sementara atau Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggantikan Iman Rachman yang mengundurkan diri pada Jumat (30/1/2026) lalu.(KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI)
15:32
9 Februari 2026

Moody’s Turunkan Outlook RI, Bos BEI Pastikan Fundamental Emiten Masih Solid

- Revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif diyakini tak serta-merta berdampak buruk bagi pasar modal domestik.

Lantaran fundamental perusahaan tercatat dinilai masih cukup kuat alias solid.

Moody’s memang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menyebut, dari kacamata mikro pasar modal, kondisi fundamental perusahaan tercatat sejauh ini masih kuat.

“Terkait dengan outlook, kami tentu secara mikro di pasar melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” ujar Jeffrey saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Selasa (9/2/2026).

Baca juga: BEI Revisi Aturan IPO, Akankah Pencatatan Saham Melambat pada 2026?

BEI sendiri terus mengingatkan kepada investor agar tetap rasional dalam menyikapi dinamika pasar, dengan menempatkan analisis fundamental sebagai dasar utama pengambilan keputusan investasi.

Investor diimbau untuk menyesuaikan strategi investasinya dengan profil risiko masing-masing, sehingga fluktuasi jangka pendek yang dipicu sentimen eksternal tidak serta-merta memicu keputusan yang bersifat reaktif.

“Jadi seperti yang selalu kami sampaikan kepada para investor untuk selalu secara rasional memperhatikan fundamental perusahaan dan selalu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mungkin itu respons kami,” paparnya.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai secara teoretis, revisi outlook dari stabil ke negatif merupakan sinyal peringatan dini (early warning) atas meningkatnya profil risiko kredit suatu negara.

Menurutnya, instrumen keuangan yang paling sensitif terhadap perubahan itu adalah pasar obligasi.

Penurunan outlook berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi.

Mengingat korelasi negatif antara yield dan harga, nilai portofolio obligasi berisiko terkoreksi dalam jangka pendek.

“Instrumen ini yang paling sensitif. Penurunan outlook dapat memicu kenaikan yield (imbal hasil) karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi. Mengingat korelasi negatif antara yield dan harga, nilai portofolio obligasi berisiko terkoreksi dalam jangka pendek,” ucap Azharys saat dihubungi Kompas.com, Jumat.

Ia menjelaskan dampak terhadap pasar saham akibat kenaikan risiko negara umumnya tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui mekanisme peningkatan cost of equity.

Ketika persepsi risiko terhadap suatu negara memburuk, investor akan menuntut tingkat imbal hasil yang lebih tinggi untuk menempatkan dananya di pasar saham.

Konsekuensinya, tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian saham ikut naik sehingga valuasi wajar saham cenderung tertekan.

Dalam kondisi seperti ini, aliran dana asing berpotensi keluar karena investor global melakukan penyesuaian portofolio untuk menekan risiko, dan hal tersebut menjadi ancaman bagi pergerakan indeks maupun saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus modal internasional.

“Dampak pada pasar saham (equity), dampaknya bersifat tidak langsung melalui mekanisme cost of equity. Jika risiko negara naik, valuasi saham cenderung tertekan. Potensi outflow asing memang menjadi ancaman nyata,” lanjut Azharys.

Pembelian bersih investor asing (net buy) senilai Rp 700 miliar pada perdagangan Jumat (6/2/2026), setelah pengumuman Moody’s mengindikasikan pasar telah lebih dulu mengantisipasi sentimen negatif itu.

Kondisi ini juga mencerminkan pandangan sebagian pelaku pasar global yang menilai fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif lebih resilien dibandingkan negara-negara sekelasnya.

Masuknya dana asing di tengah sentimen kehati-hatian tersebut menunjukkan bahwa likuiditas domestik berperan kuat sebagai penyangga pasar, sehingga tekanan jual tidak berkembang menjadi kepanikan yang meluas.

“Anomali net buy Rp 700 miliar, fakta bahwa investor asing mencatatkan net buy di hari Jumat pasca-pengumuman menunjukkan bahwa pasar mungkin telah melakukan price-in (mengantisipasi) sebelumnya, atau melihat kondisi fundamental makro Indonesia secara relatif masih lebih resilien dibandingkan negara peers. Ini juga menandakan adanya perlawanan dari likuiditas domestik yang cukup kuat,” katanya.

Langkah Strategis Regulator (BEI/OJK) dan Pemerintah

Di tengah sentimen global yang menantang, regulator dihadapkan pada dua tekanan sekaligus: revisi outlook Moody’s dan ketidakpastian rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Strategi utama yang ditempuh adalah menjaga stabilitas tanpa intervensi berlebihan terhadap mekanisme pasar.

Pemerintah, melalui jalur diplomasi fiskal, dinilai perlu mengomunikasikan keberlanjutan disiplin fiskal kepada lembaga pemeringkat.

Kejelasan target defisit anggaran dan strategi pengelolaan utang menjadi kunci untuk menenangkan investor institusional global, termasuk melalui peran BP Danantara.

“Diplomasi fiskal dilakukan menjadi langkah Menko Perekonomian untuk mengomunikasikan keberlanjutan disiplin fiskal kepada lembaga pemeringkat adalah kunci melalui BP Danantara. Kejelasan mengenai target defisit anggaran dan strategi pengelolaan utang akan menenangkan institusi besar,” ungkapnya.

Sementara itu, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kesiapan instrumen pengawasan pasar untuk meredam volatilitas ekstrem, mulai dari aturan auto rejection hingga pemantauan transaksi tidak wajar.

Fokus utama regulator adalah memastikan market integrity tetap terjaga di tengah tekanan eksternal, termasuk isu MSCI.

Regulator juga terus mendorong emiten, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk radar MSCI, agar menjaga keterbukaan informasi.

Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah panic selling yang bersumber dari rumor, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar bahwa fundamental ekonomi dan korporasi Indonesia masih berada di jalur yang sehat.

Baca juga: Airlangga Ungkap Demutualiasi BEI Gunakan Private Placement atau IPO

Tag:  #moodys #turunkan #outlook #pastikan #fundamental #emiten #masih #solid

KOMENTAR