BEI Kebut Free Float 15 Persen, 49 Emiten Big Caps Jadi Pilot Project
- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memilih strategi bertahap saat menerapkan ketentuan free float minimal 15 persen dengan memprioritaskan 49 perusahaan tercatat berkapitalisasi besar (big caps). Alasannya kelompok emiten tersebut menyumbang sekitar 90 persen dari total kapitalisasi pasar (market cap).
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, menyebut secara keseluruhan terdapat 267 perusahaan tercatat yang sebelumnya telah memenuhi ambang batas free float 7,5 persen, namun ketika batas minimal porsi saham publik itu dinaikkan menjadi 15 persen, maka 267 emiten itu belum memenuhi ketentuan.
“Kalau kita lihat dari demografi perusahaan tercatat kita yang dulu memenuhi dari 7,5 persen, kita naikkan ke 15 persen itu ada sekitar 267 perusahaan tercatat (yang terdampak),” ujar Nyoman saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Emiten Minta Free Float 15 Persen Diterapkan Bertahap
“Kalau kita zooming lagi nih 267 itu ada 49 di dalamnya yang sudah memberikan kontribusi 90 persen dari total market cap. Jadi, kita coba sasar dulu nih yang 49 ini,” paparnya.
Seluruh 267 emiten tetap diwajibkan memenuhi ketentuan free float 15 persen.
Namun BEI memulai dari emiten-emiten besar agar efek kebijakan itu langsung terasa signifikan terhadap kualitas, likuiditas, dan kedalaman pasar.
“Walaupun seluruhnya 267 harus memenuhi gitu kan ya. Tapi kalau kita lihat lagi 49 aja ini sudah merepresentasikan 90 persen dari market cap-nya mereka yang belum memenuhi. Jadi, kami prioritaskan dulu nih yang ini teman-teman 49 ini,” beber Nyoman.
Ke-49 emiten big caps berasal dari berbagai sektor dan dinilai memiliki kondisi keuangan yang relatif kuat.
Karena itu, BEI berharap kelompok ini dapat dijadikan pilot project sekaligus contoh bagi emiten lain dalam meningkatkan porsi saham publik secara bertahap.
“Itu dari berbagai sektor dan harapan kita adalah dengan sektor yang ada dan kemudian kondisi keuangannya 49 ini mudah-mudahan dapat kita jadikan pilot project untuk bisa memberikan contoh jadi reference untuk memulai peningkatan berikut yang ada,” lanjutnya.
Saran dari Asosiasi Emiten Indonesia
Lebih jauh, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyarankan kepada otoritas pasar modal agar penyesuaian porsi kepemilikan saham publik alias free float 15 persen diterapkan secara bertahap atau step by step.
Ketua Umum AEI, Armand Wahyudi Hartono, mengatakan peningkatan free float idealnya tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan bertahap.
Pendekatan step by step dipandang lebih realistis karena memberi ruang bagi emiten dan pasar untuk saling menyesuaikan.
Jika pada tahap awal saham yang dilepas dapat terserap dengan baik, barulah emiten dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
Sebaliknya, apabila respons pasar kurang optimal, strategi dapat dievaluasi dan disesuaikan.
“Secara kesiapan biasanya kalau ketika meningkatkan free float ini, masukan kami sebaiknya dilakukan step by step. Itu lebih umum lah dipasarkan, coba jualan, coba dulu segini, nanti lihat laku atau tidak. Kalau ternyata ada strategi khusus itu memang harus dilakukan sesuai dengan permintaan pasar,” ucap Armand saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia.
Kendati begitu, AEI memandang peningkatan free float menjadi 15 persen merupakan upaya regulator pasar modal memperbaiki kualitas emiten.
Untuk jangka panjang, jika pasar modal ingin naik kelas dan sejajar dengan pasar global, maka emiten yang tercatat di dalamnya juga harus memiliki standar kelas dunia, baik dari sisi fundamental, tata kelola, transparansi, maupun kinerja bisnis.
“Pertama-tama meningkatkan kualitas emiten-nya sendiri. Karena untuk jangka panjang, sebuah pasar modal Indonesia kalau mau menjadi kelas dunia, ya emiten-nya juga harus menjadi kelas dunia,” katanya.
Dengan kualitas emiten yang lebih baik, basis investor pun diharapkan semakin luas, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari investor global.
Menurutnya, peningkatan porsi saham publik penting untuk memperdalam likuiditas, namun keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan pasar menyerap saham.
“Tentu harus cukup banyak investor-nya yang lebih banyak lah dari Indonesia maupun di global itu sih yang utama sih. Jadi ketika ini fokus pembicaraan, tentu fokus dalam memastikan free float-nya ini bisa lebih banyak, tapi itu tergantung kemampuan pasar menyerap juga, itu sih fokus utama,” lanjut Armand.
Baca juga: Free Float Naik Jadi 15 Persen, OJK Harap Dana Jumbo Asabri-Taspen Masuk Bursa
Tag: #kebut #free #float #persen #emiten #caps #jadi #pilot #project