Di Tengah Negosiasi dengan MSCI, Investor Diimbau Fokus ke Fundamental
Media Gathering DBS, Rabu (4/2/2026)(KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI)
20:08
4 Februari 2026

Di Tengah Negosiasi dengan MSCI, Investor Diimbau Fokus ke Fundamental

Regulator telah menyodorkan proposal solusi kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait sejumlah isu yang menjadi perhatian pengelola indeks global tersebut.

Gagasan tersebut terdiri dari perluasan pengungkapan kepemilikan saham emiten, pendalaman klasifikasi investor, serta rencana kenaikan ambang free float minimum.

Proposal juga tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi disertai rencana tindak lanjut untuk memastikan seluruh isu dapat dijawab dan diimplementasikan sesuai dengan komitmen yang telah disepakati.

Baca juga: IHSG Rebound, Airlangga Ungkap Investor Asing Kembali Masuk

Indeks MSCI jadi penyebab utama anjloknya IHSG selama dua hari berturut-turut. Simak penjelasan lengkap soal MSCI dan dampaknya pada pasar saham RI Indeks MSCI jadi penyebab utama anjloknya IHSG selama dua hari berturut-turut. Simak penjelasan lengkap soal MSCI dan dampaknya pada pasar saham RI

Indonesia's Head of Research DBS William Simadiputra mengatakan, pemangku kepentingan di Indonesia menjalankan kebijakan yang sudah tepat.

"Mereka mencoba mengatasi kekhawatiran Amerika Serikat (AS) dengan potensi mengungkap lebih lanjut tentang struktur kepemilikan saham di samping peningkatan modal," kata dia dalam Media Gathering, Rabu (4/2/2026).

Ia menambahkan, dua langkah tersebut akan membantu meningkatkan kredibilitas dan transparansi pasar modal Indonesia dalam hal konstituen indeks komoditas.

Sedikit catatan, pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembekuan sementara perdagangan atau trading halt selama dua hari berturut-turut imbas pengumuman dari MSCI.

Baca juga: Praktisi Saham Ingatkan Investor Pemula Tak Tergoda Untung Instan

Ia berharap ke depan MSCI juga akan terus berbagi apa yang dibutuhkan, serta membantu regulator untuk memenuhi persyaratan apa yang perlu dipenuhi untuk membuat bobot indeks pasar saham Indonesia tetap berada di indeks pasar negara berkembang.

"Indeks saat ini mengalai naik turun, tetapi tentu saja, saya melihat Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar," imbuh dia.

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Investor fokus pada fundamental

Lebih lanjut, William mengimbau investor pasar modal untuk fokus pada kondisi fundamental. Hal tersebut dapat berupa mencermati kinerja perusahaan, pendapatan, hingga bagaimana rencana perusahaan ke depan.

"Ini adalah pertanyaan klasik yang menurut saya adalah sesuatu yang harus kita lakukan sekarang," ungkap dia.

Baca juga: Demutualisasi BEI Harus Utamakan Kepentingan Nasional dan Investor Ritel

Selain itu, William bilang, pihaknya memasukkan sektor konsumer dalam equity strategy.

"Walaupun saat ini mungkin bisa dibilang relatively market belum banyak yang membeli sektor konsumer, soalnya kebanyakan larinya ke komoditas," ungkap dia.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya pergerakan harga emas maupun ekspektasi kenaikan harga nikel yang tengah terjadi.

Menurut William, sektor konsumer seolah-olah belum menemukan momentum pada tahun ini, padahal terdapat beberapa peristiwa seperti bulan Ramadhan.

Baca juga: Luhut Minta Investor Tetap Tenang, Koreksi IHSG Dinilai Wajar

Menurut dia, ini disebabkan karena investor secara umum telah melewati beberapa kuartal tanpa adanya perbaikan angka konsumsi yang signifikan.

"Jadi mereka kali ini tunggu dulu. Jadi instead mereka front load, mereka akan melihat hasil atau angka di first quarter 2026," ucap dia.

"Nah di sini menurut kami lebih baik beli di awal tahun karena ya tadi ada festival di kuartal pertama tahun ini. Ekpektasi investor sebenarnya relatively rendah," tambah dia.

Dengan kondisi ini, valuasi sektor konsumer saat ini dinilai masih relatif murah dan merupakan posisis yang lumayan bagus untuk sektor ini.

Baca juga: IHSG Masih Merah, Purbaya: Pasar Mungkin Masih Menunggu Ketua OJK...

Fundamental Indonesia kuat

Ilustrasi ekonomi, perekonomian. SHUTTERSTOCK/TIPPAPATT Ilustrasi ekonomi, perekonomian.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, William menyebut, Indonesia tetap menunjukkan fundamental ekonomi yang relatif kuat, sehingga menghadirkan peluang bagi investor untuk tetap mengelola portofolio secara terukur.

Permintaan domestik yang kuat terus menjadi pendorong utama pertumbuhan, sementara inflasi yang terjaga memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas dan aktivitas ekonomi.

Dari sisi fiskal, konsolidasi yang berkelanjutan turut memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dalam jangka menengah.

“Bagi investor, kondisi ini membuka peluang pada sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik, termasuk ritel dan e-commerce, seiring dengan meningkatnya adopsi digital masyarakat," ucap dia.

Baca juga: Memahami Strategi Transaksi Saham: Swing Trading untuk Investor Pemula

Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi terbarukan, juga menghadirkan peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional.

Di luar faktor domestik, daya tarik investasi Indonesia juga ditopang oleh posisinya dalam lanskap ekonomi regional dan global.

Posisi strategis Indonesia serta perannya dalam kerja sama regional, seperti ASEAN, memungkinkan diversifikasi arus perdagangan dan investasi, sehingga membantu meredam sebagian risiko eksternal.

Upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha melalui reformasi regulasi, transformasi digital, serta pengembangan kerangka keuangan berkelanjutan turut memperluas pilihan investasi yang tersedia.

Baca juga: Analis Efek: Reformasi Pasar Modal Kunci Daya Saing Investor Global

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko global, dinamika kebijakan domestik, serta tantangan lingkungan dan perubahan iklim dalam menyusun strategi investasi yang berkelanjutan.

Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.PIXABAY/TUNG NGUYEN Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.

Ada potensi pertumbuhan baru

Sementara itu, Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook mengatakan, di tengah ketidakpastian fiskal dan volatilitas pasar, beberapa sektor justru muncul sebagai pendorong pertumbuhan baru.

Sektor teknologi kini menjadi pendorong pertumbuhan yang signifikan dalam lanskap investasi global, khususnya di Amerika Serikat, yang mencatat lonjakan historis investasi di pusat data dan perangkat keras untuk mendukung model bahasa besar (LLM).

Lonjakan ini disertai perhatian pasar terhadap keseimbangan antara belanja modal dan pertumbuhan pendapatan, menandai tantangan bagi keberlanjutan ekspansi.

Baca juga: Jaga Kepercayaan Investor, OJK Siapkan 8 Langkah Reformasi Pasar Modal

Dengan lonjakan investasi di sektor teknologi, termasuk akal imitasi (AI), muncul potensi risiko yang perlu diperhatikan.

Wey Fook menyampaikan, ketika ekspektasi pertumbuhan terlalu tinggi dibandingkan fundamental bisnis, beberapa segmen pasar berisiko membentuk ‘gelembung AI’.

Kondisi ini menuntut investor untuk menyesuaikan strategi, dengan menempatkan perhatian pada perusahaan yang mampu mengadaptasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan nilai operasional, ketimbang sekadar berfokus pada pemain AI murni (pure-play).

Asia bakal tumbuh setelah ketidakpastian perdagangan reda

Meski menghadapi kompleksitas dinamika global, ia bilang, peluang pertumbuhan tetap muncul secara selektif di sejumlah kawasan.

Baca juga: Investor Berharap Bursa Bisa Penuhi Permintaan MSCI

Asia diproyeksikan kembali mencatatkan momentum pertumbuhan seiring meredanya ketidakpastian perdagangan.

Kekuatan perdagangan intra-regional dan kemampuan adaptasi menjadi penopang utama bagi keberlanjutan pertumbuhan di kawasan ini, memberikan peluang bagi investor yang mampu menempatkan portofolio secara strategis.

Ilustrasi aturan free float saham. SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi aturan free float saham.

Sementara itu, Wey Fook menyebut, pasar komoditas diperkirakan memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026, didukung oleh ekspektasi gencatan dagang dan penurunan suku bunga yang memberikan dorongan positif bagi sentimen makro.

Meski begitu, tarif yang masih bertahan menuntut investor untuk tetap selektif dalam menempatkan portofolio. Logam industri, khususnya tembaga dan logam tanah jarang, dipandang berada pada posisi strategis mengingat peran strukturalnya dalam ekonomi global.

Baca juga: Jalan Pulang Kepercayaan Investor Pasar Saham

"Di sisi lain, tren kenaikan jangka panjang emas tetap solid sebagai aset lindung nilai, didukung oleh tekanan monetasi, ketidakpastian, serta strategi diversifikasi cadangan bank sentral," ujar dia.

Keuntungan Indonesia masuk MSCI

Terkait dengan pasar modal Indonesia, Wey Fook mengungkapkan, MCSI memang merupakan indeks yang banyak diikuti.

Sedikit catatan, MSCI adalah indeks yang paling banyak diikuti untuk pasar berkembang di Asia. MSCI dinilai memiliki jumlah pengikut terbanyak.

Seperti di Amerika Serikat (AS) terdapat indeks S&P dan semua pihak ingin berada di dalam indeks tersebut.

Baca juga: OJK Buka Pintu Investor Masuk Bursa Setelah Demutualisasi, Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham

"Karena begitu Anda masuk ke dalam indeks, ada banyak dana yang yang akan mengikuti indeks tersebut, demikian pula MSCI, banyak uang akan ikuti ke indeks tersebut," ungkap dia.

Sebagai contoh, ketika Indonesia dapat menyesuaikan peraturan yang yang diminta MSCI, maka modal asing yang dialokasikan ke MCSI emerging capital akan masuk.

Ia menyampaikan, akan lebih banyak terdapat hal baik ketika pasar modal suatu negara tetap masuk dalam indeks-indeks seperti MSCI.

"Mari berharap regional indeks dan pasar modal akan berkembang dan menarik lebih banyak modal asing untuk Indonesia," ucap dia.

Ilustrasi saham, pergerakan saham. SHUTTERSTOCK/SHUTTER_O Ilustrasi saham, pergerakan saham.

Baca juga: Prospek Saham Perbankan Besar di Masa Pemulihan IHSG, Jadi Pilihan Investor?

Ia menambahkan, masuk ke dalam indeks seperti MSCI merupakan hal yang penting.

"Ini adalah hal yang penting, jika Anda tidak terlibat, maka hal itu dapat memengeruhi aliran uang. Jadi itulah mengapa ini seperti sebuah tolok ukur," ungkap dia.

IHSG anjlok imbas pengumuman MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu anjlok cukup dalam selama dua hari berturut-turut akibat pengumuman MSCI.

Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok 8 persen atau 718,44 poin ke level 8.261,78 sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt.

Baca juga: IHSG Anjlok, Danantara: Pasar Modal Cerminan Kepercayaan Investor

Setelah dibuka kembali, IHSG terus turun hingga posisi terendah 8.237,64 dan ditutup melemah 7,35 persen di 8.320,56.

Keesokan harinya, Kamis (29/1/2026), trading halt kembali diberlakukan saat IHSG turun 8 persen ke 7.654,66.

Setelah pembukaan kembali, IHSG turun lebih dalam ke 7.485,35 namun akhirnya ditutup turun tipis 1,06 persen di 8.232,20.

Pada Jumat (30/1/2026), IHSG sempat melemah setelah pengumuman pengunduran diri Iman Rachman dari posisi direktur utama BEI, tetapi tekanan jual tersebut tidak berlangsung lama. IHSG akhirnya ditutup menguat 1,18 persen atau 97,40 poin ke posisi 8.329,61.

Baca juga: IHSG Trading Halt, Ini Langkah yang Bisa Selamatkan Investor Ritel

Dalam keterangannya, MSCI menyatakan akan menghentikan sementara penambahan saham Indonesia ke dalam berbagai indeksnya, sekaligus membekukan kenaikan jumlah saham yang dikategorikan bebas diperdagangkan (free float) bagi investor.

Kebijakan ini didasari adanya isu mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu mekanisme pembentukan harga saham.

MSCI juga menegaskan bahwa apabila hingga Mei 2026 belum terlihat perbaikan berarti dalam aspek transparansi pasar, lembaga tersebut akan melakukan evaluasi ulang terhadap tingkat aksesibilitas pasar Indonesia.

Tag:  #tengah #negosiasi #dengan #msci #investor #diimbau #fokus #fundamental

KOMENTAR