Ramadhan Jadi Motor Ekonomi Kreatif, Industri Fashion Lokal Tangkap Peluang dari Perubahan Pola Belanja
–Ramadhan tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga periode penting yang menggerakkan roda ekonomi, khususnya sektor ekonomi kreatif.
Di antara subsektor yang paling merasakan dampaknya adalah fashion. Setiap menjelang bulan suci, kebutuhan akan busana muslim, pakaian kasual, hingga perlengkapan ibadah meningkat signifikan, mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi produksi dan distribusi.
Namun, Ramadhan di era digital menghadirkan dinamika baru. Jika sebelumnya lonjakan permintaan terjadi di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan, kini arus belanja bergeser ke platform digital yang mengandalkan konten visual, rekomendasi kreator, dan interaksi real time.
Perubahan perilaku konsumen ini membuka peluang baru bagi pelaku ekonomi kreatif, terutama brand fashion lokal yang mampu beradaptasi dengan ekosistem discovery commerce.
Secara historis, Ramadhan dikenal sebagai musim puncak konsumsi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, momentum ini tidak lagi dipandang semata sebagai periode penjualan jangka pendek.
Bagi sektor ekonomi kreatif, Ramadhan menjadi ajang penguatan merek, perluasan jaringan, hingga pemberdayaan komunitas. Fashion muslim, misalnya, tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kenyamanan dan kualitas busana ibadah.
Konsumen tidak lagi sekadar mencari produk murah, tetapi juga mempertimbangkan fungsi, estetika, dan nilai emosional. Di sinilah peran konten menjadi krusial, video yang menampilkan detail bahan, cara penggunaan, hingga cerita di balik produk kerap menjadi pemicu keputusan belanja.
Sakura Baru, merek mukena asal Tasikmalaya yang berdiri sejak 2008, menjadi contoh bagaimana pelaku usaha fashion muslim memaknai Ramadhan sebagai momentum strategis.
Berangkat dari penjualan luring, usaha tersebut kini berkembang mengikuti kebutuhan pasar dan kini mengandalkan kanal digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, terutama menjelang bulan suci.
Menurut pendirinya, H. Firman, Ramadhan identik dengan kebutuhan akan produk yang mendukung kenyamanan ibadah. Karena itu, konsumen cenderung lebih teliti sebelum membeli. Konten video dan siaran langsung memungkinkan calon pembeli melihat langsung kualitas produk, sehingga membangun kepercayaan tanpa harus datang ke toko fisik.
Usaha lokal tersebut juga menggandeng ribuan kreator afiliasi yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga. Menjelang Ramadhan, mereka aktif membagikan pengalaman menggunakan produk melalui konten sederhana yang relevan dengan keseharian.
Pola ini menciptakan efek ganda, memperoleh jangkauan yang lebih luas, sementara para afiliasi mendapatkan peluang penghasilan tambahan di bulan yang identik dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu berpusat pada kota besar atau pelaku usaha skala besar. Dengan dukungan teknologi, masyarakat di berbagai daerah dapat terlibat langsung dalam rantai nilai, menjadikan Ramadhan sebagai momentum inklusif bagi pertumbuhan ekonomi keluarga.
Di segmen berbeda, Jiniso Jeans menangkap peluang Ramadhan dari sisi gaya hidup anak muda. Meski identik dengan busana muslim, Ramadhan juga menjadi momen pembaruan gaya berpakaian untuk silaturahmi dan Lebaran.
Anak muda kini mencari busana yang tetap kasual, nyaman, namun relevan dengan suasana hari raya. Pendiri dan CEO JINISO Jeans Roby Chandra menilai, interaksi langsung dengan audiens menjadi kunci di tengah banjir informasi.
Melalui sesi real time, konsumen bisa bertanya dan mendapatkan respons cepat, sehingga proses belanja terasa lebih personal. Kolaborasi dengan kreator afiliasi dari berbagai komunitas juga membantu brand menjangkau segmen yang lebih luas, baik perempuan maupun laki-laki.
Kisah dua brand tersebut mencerminkan arah baru ekonomi kreatif Indonesia. Ramadhan tidak lagi sekadar musim diskon, tetapi menjadi panggung bagi transformasi model bisnis.
Discovery commerce, yang menggabungkan konten, komunitas, dan transaksi, membuat proses belanja lebih kontekstual dan berbasis pengalaman.
Selain itu, menjelang Ramadhan 2026, potensi sektor ekonomi kreatif, khususnya fashion, diperkirakan terus menguat. Dengan populasi besar, budaya konsumsi yang kuat, dan adopsi teknologi yang semakin luas, Ramadhan berpeluang menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan. Bukan hanya bagi brand besar, tetapi juga bagi komunitas kreatif dan pelaku usaha di berbagai daerah seperti yang tengah diupayakan TikTok Shop by Tokopedia.
Tag: #ramadhan #jadi #motor #ekonomi #kreatif #industri #fashion #lokal #tangkap #peluang #dari #perubahan #pola #belanja