Nelayan Angke Curhat Ke Titiek Soeharto, 48 Jam Baru Bisa Sandarkan Kapal
- Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, James Willing, menceritakan kapalnya membutuhkan waktu dua hari dua malam untuk bisa merapat ke Dermaga Kali Asin.
Kesulitan itu James sampaikan langsung kepada Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto yang meninjau carut marutnya Dermaga Kali Asin bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Selasa (3/2/2026).
James mengeluhkan, kapalnya membutuhkan waktu begitu lama untuk bisa bersandar dan membongkar hasil tangkapan, padahal jika ditempuh jalan kaki jarak yang sama hanya memerlukan waktu lima menit.
Baca juga: Apa Itu Kampung Nelayan Merah Putih? Tujuan, Fasilitas, dan Progres Pembangunannya
“Kalau di tempat dalam Bu lebih parah Bu lama. Biasa kita jalan kaki dari sini paling 5 menit 10 menit tapi dari sana tuh bisa sampai 2 hari 2 malam,” kata James di Dermaga Kali Asin.
Pantauan Kompas.com di lokasi, kondisi Dermaga Kali Asin memang memperihatinkan.
Ribuan kapal terjebak di area dermaga dan sulit bergerak.
Hanya tampak satu kapal yang tengah membongkar muatan hasil melaut.
Selain sulit masuk, kapal-kapal nelayan yang sudah terparkir di bagian dalam dermaga tidak bisa keluar.
Sebagai pemilik kapal yang puluhan tahun beroperasi di Muara Angke, James mengaku tidak bisa menemukan jalan keluar untuk kapalnya yang sudah tertambat di dalam.
Padahal, kapal itu harus segera melaut.
“Di sana penuh, di sini penuh sini Bu. Jadi kita sebenarnya kolam ini kita tahu banget Pak, tahu banget kita dari 20 tahun-an. Jadi benar-benar ini tidak bisa keluar. Mau lari juga enggak bisa Bu,” kelu James.
“Rusak dan juga sudah palang lintang sudah semrawut lah,” sambungnya.
Nelayan lain, Wahid, juga mengeluhkan hal yang sama.
Kapal yang dinahkodai selama 130 hari di perairan selatan Pulau Sumatera membutuhkan waktu 8 jam untuk bisa bersandar.
Padahal, dalam kondisi normal kapalnya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk bersandar dan membongkar muatan hasil tangkapan.
“8 jam baru bisa nurunin ini?” tanya Titiek.
“Iya, dari jam 4 sampai jam 10 baru kelar,” jawab Wahid.
Kepada para nelayan itu, Titiek menjelaskan kedatangannya bersama Trenggono dan jajaran Komisi IV DPR RI bermaksud untuk menguraikan carut marutnya Dermaga Kali Angke.
Titiek pun mengapresiasi para nelayan yang telah menyuarakan nasib mereka sendiri melalui media massa sehingga persoalan itu sampai ke telinganya.
“Kami ke sini untuk mengurai ini. Makasih ya masukan-masukan juga di media,” ujar Titiek.
Sementara itu, di hadapan para nelayan Trenggono memerintahkan langsung Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Lotharia Latif untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia memerintahkan 67 kapal rusak yang mangkrak di dermaga sehingga menghambat lalu lintas nelayan ditarik keluar.
“67 kapal saya minta dalam dua hari ini diberesin,” ujar Trenggono kepada Latif.
Sebelumnya, kondisi Dermaga Kali Asin parah sejak November 2025.
Saat itu, sekitar 1.000 kapal nelayan memadati dermaga membuat lalu lintas sulit.
Persoalan itu timbul di antaranya akibat musim angin barat yang membuat nelayan lebih memilih di darat.
Sementara, kapasitas dermaga tidak cukup menampung kapal-kapal nelayan.
Di sisi lain, nelayan juga dihadapkan pada proses penerbitan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang lama terbit.
Sementara nelayan dihadapkan pada carut marut dermaga hingga risiko konflik satu sama lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai abai.
“Saya bilang ini mudah sebenarnya permasalahan ini bisa selesai asal Pemprov turun. Selesai. Tapi kalau Pemprov tidak turun kami itu sebagai masyarakat doang yang punya kapal. Bagaimana cara mengatasinya?” kata James saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: KKP Berencana Tata Kapal Nelayan yang Dianggap Menumpuk di Muara Angke
Tag: #nelayan #angke #curhat #titiek #soeharto #baru #bisa #sandarkan #kapal