IHSG Trading Halt Lagi, Efek Pengumuman Goldman Sach dan UBS?
Grafik pergerakan IHSG usai penerapan trading halt pada perdagangan Kamis (29/1/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI RTI/BEI)
14:24
29 Januari 2026

IHSG Trading Halt Lagi, Efek Pengumuman Goldman Sach dan UBS?

- Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dihentikan sementara (trading halt) pada sesi pertama hari ini.

Analis mengungkapkan, pelemahan IHSG masih terkait dari efek pengumuman MSCI. Tak hanya itu, penurunan bobot indeks oleh Goldman Sachs juga menjadi sentimen buruk yang baru.

Analis sekaligus VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpandangan, tekanan IHSG hingga menyebabkan trading halt kembali dan sempat lowest ke level 7.481 disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, IHSG melemah karena pembekuan sementara (interim freeze) pada rebalancing MSCI Februari 2026. Hal itu masih ditambah dengan skenario terburuk ketika Indonesia turun kelas (downgrade class) menjadi frontier market, dari emerging market.

"Hal ini akan berdampak luas terhadap perspektif dan flow investasi asing," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Meski demikian, ia beranggapan, peluang ini masih dapat dicegah dengan regulator yang dapat melakukan negosiasi dengan MSCI.

Di sisi lain, IHSG juga melemah karena adanya kekhawatiran gelombang downgrade saham Indonesia oleh institusi keuangan global.

Baca juga: IHSG Anjlok, Purbaya: Kalau Takut, Lari Aja ke Saham Blue Chip

Sedikit catatan, Goldman Sachs dan UBS baru saja mengubah bobot pasar modal Indonesia menjadi neutral.

"Ini merupakan dampak dari MSCI yang dikhawatirkan memasukkan ke dalam frontier market," ungkap dia.

Pelemahan IHSG tak hanya dipengaruhi aksi jual ritel

Kecemasan terhadap kondisi eksternal tersebut diduga membuat investor ritel berbondong-bondong melakukan aksi jual di pasar saham. Meskipun demikian, aksi jual investor ritel tersebut juga tidak menjadi satu-satunya faktor yang membuat IHSG anjlok.

Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan, anjloknya IHSG hingga memicu trading halt pagi ini lebih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan tekanan teknis.

"Bukan semata aksi jual ritel," ungkap dia.

Ia menambahkan, pasar masih merespons sentimen MSCI yang belum sepenuhnya selesai.

"Khususnya terkait ekspektasi aliran dana asing yang keluar dari IHSG," tambah dia.

Reydi berpandangan, investor cenderung ikut terseret kepanikan setelah level penurunan melewati ambang psikologis.

Efek MSCI kemungkinan masih berlanjut dalam jangka pendek, tetapi sifatnya lebih ke penyesuaian portofolio.

"Selama tidak ada sentimen global baru yang lebih negatif, tekanan ini berpotensi mereda," ungkap Reydi.

Baca juga: Trading Halt Dua Hari Berturut-turut, Purbaya Tetap Optimistis IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini

Efek MSCI dan Goldman Sachs untuk IHSG

Senada, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila mengatakan, pelemahan IHSG hari ini masih merupakan turunan efek dari pengumuman MSCI kemarin.

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh potensi dana investor asing yang masih keluar dari Indonesia.

"Iya betul masih karena efek dari MSCI dan juga potensi outflow asing," ungkap dia.

Lalu, ia menyebut, saat ini masih terlihat investor juga masih menunggu transparansi data.

"Dan juga ada efek Goldman Sachs yang menurunkan rating pasar Indonesia," ungkap dia.

Sedikit catatan, bank investasi global Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) di pasar modal Tanah Air.

Langkah ini dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif.

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menurunkan peringkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight.

Analis Goldman menilai keputusan MSCI tersebut akan menjadi sentimen negatif yang membebani kinerja pasar saham Indonesia ke depan.

"Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan perkembangan ini menjadi hambatan bagi pergerakan pasar," tulis Goldman Sachs dalam risetnya.

Selain Goldman Sach, UBS ikut menurunkan peringkat saham Indonesia. UBS menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight.

Pemangkasan ini setelah MSCI meningkatkan kekhawatiran tentang kelayakan investasi dan memperingatkan potensi reklasifikasi ke status pasar negara berkembang.

BEI lakukan trading halt lagi

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga menyentuh ambang batas penurunan harian.

Tekanan jual yang masif tak berselang lama sejak pembukaan perdagangan membuat IHSG merosot 665,89 poin atau setara 8,00 persen ke level 7.654,66.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 658 saham tertekan di zona merah, hanya 33 saham yang menguat, dan 20 saham bergerak stagnan.

Berdasarkan aturan bursa, penerapan trading halt dilakukan sebagai langkah stabilisasi untuk memberikan waktu bagi pelaku pasar mencerna informasi dan menahan kepanikan.

Kemarin, BEI juga menerapkan trading halt pada sesi kedua perdagangan. Data BEI menunjukkan IHSG turun 718,44 poin atau 8,00 persen ke level 8.261,78 pada pukul 13.43 WIB. Indeks dibuka di level 8.393,51.

Perdagangan kembali dibuka pada pukul 14.13 WIB.

Dampak Pengumuman MSCI terhadap IHSG

Sebagai informasi, nilai IHSG merosot setelah MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.

Pengumuman tersebut diberikan karena adanya kekhawatiran atas tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.

Penangguhan itu akan berlaku hingga otoritas pasar, termasuk BEI, dinilai mampu mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dianggap terlalu terkonsentrasi.

Kebijakan tersebut menjadi tekanan terbaru bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di Asia Tenggara.

Berdasarkan pengumumannya, MSCI menyebutkan akan menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.

Keputusan itu diambil dengan alasan masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi pembentukan harga saham.

MSCI juga mengingatkan bahwa apabila hingga Mei 2026 belum terdapat kemajuan memadai dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.

Peninjauan ulang ini berpotensi berdampak signifikan, mulai dari penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan perubahan status Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier.

Tag:  #ihsg #trading #halt #lagi #efek #pengumuman #goldman #sach

KOMENTAR