Urus Kereta Cepat hingga Stabilitas Ekonomi, Purbaya Pede Rupiah Menguat
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui di Kementerian Keuangan pada Selasa (20/1/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
06:40
21 Januari 2026

Urus Kereta Cepat hingga Stabilitas Ekonomi, Purbaya Pede Rupiah Menguat

- Di tengah tekanan global yang kembali membayangi pasar keuangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru disibukkan dengan berbagai pertemuan.

Mulai dari membicarakan percepatan proyek restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh, hingga menjaga stabilitas ekonomi makro.

Usai pertemuan dengan Menkeu Purbaya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membahas restrukturisasi utang KCJB alias Whoosh.

AHY menjelaskan, pertemuan dengan Purbaya akan membahas soal restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang sampai saat ini belum menemukan titik terang.

"Konektivitas yang saya sampaikan di awal tadi juga pasti akan terkait dengan kereta cepat. Kereta cepat Jakarta-Bandung yang beberapa saat yang lalu juga mendapatkan perhatian masyarakat luas," ujar AHY ditemui di Kementerian Keuangan pada Selasa (20/1/2026).

Lebih lanjut, kata AHY, pemerintah tidak hanya menargetkan agar Whoosh dapat beroperasi dengan baik dan berkelanjutan, tetapi juga membuka peluang pengembangan jalur kereta cepat ke wilayah lain di masa depan.

Namun sayangnya Purbaya belum berbicara terkait kelanjutan restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh.

Kondisi Rupiah

Purbaya memang tidak berkomentar tentang utang kereta cepat. Namun ia tetap optimistis meski nilai tukar rupiah sempat tertekan, nyaris Rp 17.000.

Menurutnya, mata uang Garuda akan kembali menguat seiring perbaikan fundamental ekonomi domestik.

Purbaya menilai fluktuasi rupiah yang terjadi belakangan bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Menkeu menyatakan perekonomian Indonesia seharusnya sudah cukup terlatih menghadapi guncangan eksternal, baik yang berasal dari kebijakan moneter global maupun ketegangan geopolitik.

"Dibanding level sebelumnya, pelemahannya relatif lebih rendah. Jadi harusnya sistem kita juga sudah terbiasa," kata Purbaya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Selasa (20/1/2026).

Ia menegaskan, kunci utama untuk menarik kembali kepercayaan investor, termasuk investor asing, bukan semata pada stabilisasi jangka pendek, melainkan konsistensi dalam memperbaiki fondasi ekonomi nasional.

Ilustrasi rupiahSHUTTERSTOCK/RODWORKS Ilustrasi rupiahAktivitas ekonomi di dalam negeri, kata dia, harus terus didorong agar memberikan sinyal positif ke pasar. Pelemahan rupiah dinilai bersifat sementara.

Kondisi tersebut tidak mencerminkan dasar ekonomi nasional.

Ia juga mengingatkan pelaku pasar agar tidak berspekulasi berlebihan di tengah pergerakan nilai tukar yang tidak sejalan dengan fundamental.

Purbaya menegaskan pelemahan rupiah secara tahunan masih tergolong kecil.

Dampaknya dinilai masih bisa dikelola pelaku usaha, termasuk importir.

"Ini berapa persen rupiah melemah dibanding sebelumnya? Year to date berapa? 2–3 persen. Anda importir ada kenaikan 2–3 persen, masih bisa dikendalikan tidak? Saya pikir sih masih bisa," ujar Purbaya.

Ia menilai nilai tukar rupiah saat ini lebih lemah dibandingkan kondisi fundamental ekonomi.

Situasi tersebut berpotensi menarik minat investor masuk ke pasar domestik.

Dari sisi fiskal, termasuk subsidi energi, Purbaya memastikan tekanannya masih terkendali.

Nilai tukar dan harga minyak bergerak relatif dekat dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

"Dollarnya naik berapa sih, tidak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya, ya gampangnya, relatif terkendali selama ini," katanya.

Purbaya menambahkan, koordinasi kebijakan terus diperkuat melalui sinergi antarotoritas di Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Ia berharap mesin ekonomi terus bergerak seiring koordinasi tersebut. Meskipun begitu, ia menegaskan kebijakan nilai tukar berada di bawah kewenangan otoritas moneter.

Tag:  #urus #kereta #cepat #hingga #stabilitas #ekonomi #purbaya #pede #rupiah #menguat

KOMENTAR