Sentimen Pasar Berubah, Harga Minyak Dunia Kembali Melemah
– Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Asia, Jumat (16/1/2026), dan melanjutkan tren penurunan dari sesi sebelumnya.
Pelemahan terjadi seiring meredanya kekhawatiran risiko pasokan setelah peluang serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran dinilai menurun.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent turun 21 sen atau 0,3 persen ke level 63,55 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 15 sen atau 0,3 persen ke posisi 59,04 dollar AS per barel pada pukul 04.18 GMT.
Sentimen Geopolitik Berubah
Sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada pekan ini.
Kenaikan terjadi setelah protes merebak di Iran dan Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan potensi serangan ke negara tersebut. Brent bahkan masih mencatatkan peluang kenaikan untuk pekan keempat berturut-turut.
Namun, situasi berubah pada Kamis (15/1/2026). Trump menyatakan bahwa tindakan keras Teheran terhadap para pengunjuk rasa mulai mereda.
Pernyataan itu menenangkan pasar dan mengurangi kekhawatiran akan aksi militer yang dapat mengganggu pasokan minyak global.
Harga Terkoreksi, Masih Lebih Tinggi Secara Mingguan
Analis BMI mencatat, harga Brent telah menghapus sebagian penguatan sebelumnya, meski masih berada di level yang lebih tinggi dibandingkan sepekan lalu.
“Penurunan harga dipicu oleh pernyataan Trump bahwa ia akan menunda serangan militer ke Iran,” tulis analis BMI dalam catatannya.
Meski demikian, BMI menilai potensi ketidakstabilan politik di Iran masih dapat memicu volatilitas harga minyak ke depan.
“Mengingat potensi gejolak politik di Iran, harga minyak kemungkinan akan mengalami volatilitas yang lebih tinggi seiring pasar mencerna potensi gangguan pasokan,” ujar analis BMI.
Fundamental Pasokan Dinilai Masih Longgar
Di sisi lain, analis tetap bersikap bearish terhadap prospek pasokan jangka panjang tahun ini, meski sebelumnya OPEC memperkirakan pasar berada dalam kondisi seimbang.
“Sentimen memang menggerakkan pasar, tetapi dampak berita biasanya hanya bersifat sementara, terutama ketika fundamental terlihat cukup nyaman,” kata analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Ia menambahkan, meskipun risiko geopolitik dan spekulasi makro terus berlanjut, keseimbangan pasar masih menunjukkan pasokan yang melimpah.
“Kecuali ada kebangkitan nyata permintaan dari China atau hambatan signifikan pada aliran fisik minyak, harga minyak cenderung bergerak dalam kisaran, dengan Brent berada di rentang 57 hingga 67 dollar AS per barel,” ujarnya.
Proyeksi OPEC dan Shell
Pada Rabu (14/1/2026), OPEC menyatakan pasokan dan permintaan minyak global diperkirakan tetap seimbang pada 2026.
Permintaan diproyeksikan meningkat pada 2027 dengan laju yang sejalan dengan pertumbuhan tahun ini.
Sementara itu, raksasa energi Shell merilis Energy Security Scenarios 2026 pada Kamis (15/1/2026).
Dalam laporannya, Shell menyampaikan pandangan yang lebih optimistis terhadap pertumbuhan permintaan energi dan minyak.
Shell memperkirakan permintaan energi primer global pada 2050 dapat mencapai 25 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Tag: #sentimen #pasar #berubah #harga #minyak #dunia #kembali #melemah