Prediksi Harga Bitcoin 2026: Analis Perkirakan hingga Rp 3,78 Miliar
- Setelah sempat menembus titik tertinggi sepanjang masa dan kemudian mengalami koreksi tajam sepanjang tahun lalu, prospek harga bitcoin (BTC) pada 2026 kembali menjadi perdebatan di kalangan pelaku industri dan investor global.
Dikutip dari CNBC, Kamis (8/1/2026), sejumlah eksekutif industri kripto dan investor mengatakan harga bitcoin berpeluang mencetak rekor baru pada 2026, namun dengan tingkat volatilitas yang tetap tinggi.
Kisaran harga BTC pada 2026 diperkirakan sangat lebar.
Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.
Beberapa analis memproyeksikan harga terendah di sekitar 75.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 1,26 miliar (asumsi kurs Rp 16.828 per dollar AS), sementara prediksi paling optimistis menempatkan bitcoin hingga 225.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,78 miliar.
Pada Oktober 2025 lalu, harga bitcoin sempat menyentuh rekor tertinggi lebih dari 126.000 dollar AS sebelum berbalik turun tajam ke level terendah sekitar 80.000 dollar AS, berdasarkan data CoinMetrics.
Posisi tersebut menempatkan harga bitcoin sekitar 30 persen di bawah titik tertinggi sepanjang masa.
Pergerakan ekstrem tersebut terjadi di tengah dinamika pasar yang kompleks.
Sepanjang tahun lalu, pasar kripto mendapat dorongan dari apa yang dinilai sebagai lingkungan regulasi yang lebih bersahabat di Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Selain itu, minat investor institusional dan pemain keuangan tradisional, termasuk bank, turut meningkat.
Ilustrasi Bitcoin.
Di sisi lain, muncul fenomena perusahaan yang dikenal sebagai perusahaan perbendaharaan aset digital atau digital asset treasury (DAT).
Perusahaan-perusahaan ini mengakumulasi bitcoin dan aset kripto lain dalam jumlah besar sebagai bagian dari strategi keuangan mereka.
Namun, sentimen positif tersebut berjalan beriringan dengan perdebatan mengenai valuasi saham teknologi dan kekhawatiran bahwa ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi berubah menjadi gelembung.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang terjadinya aksi jual besar-besaran di pasar kripto pada akhir tahun.
Ketika investor menilai ulang aset-aset berisiko dan pemegang kripto melepas kepemilikannya, likuidasi paksa terjadi dan memperparah tekanan jual. Situasi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pasar kripto memasuki 2026.
“Kita berada dalam lingkungan investasi yang kompleks. Valuasi ekuitas terlalu tinggi, lingkungan geopolitik kacau dan terus berkembang, ada kekhawatiran tentang daya tahan jangka pendek dari penyebaran belanja modal AI, kondisi kebijakan moneter tampaknya bergeser, dan pemilihan paruh waktu AS sudah di depan mata,” kata Alex Thorn, Kepala Riset Galaxy kepada CNBC.
“Dengan latar belakang ini, prospek bitcoin pada tahun 2026 sulit diprediksi,” ujar Thorn.
Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah lembaga dan analis tetap menyampaikan proyeksi harga bitcoin untuk 2026, dengan pendekatan dan asumsi yang berbeda-beda.
Kisaran volatilitas tinggi menurut akademisi
Carol Alexander, profesor keuangan di University of Sussex, memperkirakan harga bitcoin akan tetap berada dalam kisaran volatilitas tinggi pada 2026, dengan rentang harga antara 75.000 hingga 150.000 dollar AS.
Menurut Alexander, pusat gravitasi harga bitcoin berada “sekitar” 110.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,85 miliar. Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena pasar sedang mencerna transisi dari siklus yang didominasi investor ritel menuju distribusi likuiditas yang semakin bersifat institusional.
Ilustrasi bitcoin.
“Secara historis, harga bitcoin didorong oleh pedagang ritel,” terang Alexander.
Namun, dalam dua tahun terakhir, semakin banyak investor institusional yang masuk ke ruang kripto. Tren ini, menurut sejumlah pengamat, diperkirakan berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Alexander dikenal memiliki rekam jejak yang relatif baik dalam memprediksi pergerakan bitcoin dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, ia sebelumnya sempat menyebut bitcoin berpotensi mencapai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,36 miliar pada 2026, yang tidak terwujud.
Ia juga pernah menyatakan bahwa pada musim panas 2025 bitcoin bisa diperdagangkan “sekitar 150.000 dollar AS plus atau minus 50.000 dollar AS”.
Dalam kenyataannya, pada periode tersebut bitcoin memang diperdagangkan di atas 100.000 dollar AS.
Fokus pasar pada The Fed dan regulasi
Manajer aset kripto CoinShares memperkirakan kisaran harga bitcoin pada 2026 berada di antara 120.000 hingga 170.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,01 miliar hingga Rp 2,86 miliar.
Kepala Riset CoinShares, James Butterfill, mengatakan pergerakan harga yang lebih konstruktif kemungkinan terjadi pada paruh kedua tahun.
Butterfill menilai investor akan mencermati siapa yang akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve AS setelah masa jabatannya berakhir pada Mei 2026.
Ketua baru tersebut, menurut Butterfill, kemungkinan akan bersikap lunak, namun pasar akan menunggu kejelasan sebelum kembali menilai aset berisiko secara lebih tegas.
Ilustrasi aset kripto, kripto.
Selain kebijakan moneter, perhatian investor juga tertuju pada pembahasan undang-undang Clarity Act di AS. Aturan ini bertujuan menciptakan kerangka regulasi yang lebih jelas bagi aset digital.
“Regulasi telah menjadi beban yang terus-menerus; penyelesaian di sini akan menjadi katalis yang berarti,” terang Butterfill.
Ia juga menyinggung potensi risiko berupa lonjakan inflasi atau kesalahan kebijakan dari The Fed sebagai faktor yang dapat mendorong permintaan terhadap “aset moneter alternatif non-negara” seperti bitcoin.
Pada Desember 2024, Butterfill memperkirakan bitcoin dapat turun hingga sekitar 80.000 dollar AS pada 2025, yang kemudian terjadi. Namun, proyeksinya bahwa bitcoin dapat mencapai 150.000 dollar AS pada tahun lalu tidak tercapai.
Revisi proyeksi harga bitcoin dari Standard Chartered
Bank Standard Chartered merevisi proyeksi harga bitcoin untuk 2026 menjadi 150.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 2,52 miliar, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 300.000 dollar AS atau sekitar Rp 5,04 miliar.
Revisi tersebut disampaikan pada Desember setelah bank menilai dinamika pasar kripto sepanjang 2025.
Geoff Kendrick, Kepala Riset Aset Digital Global Standard Chartered, mengatakan penurunan harga bitcoin pada 2025 “masih dalam batas yang diharapkan”. Namun, tekanan tersebut mendorong bank untuk menyesuaikan proyeksinya.
“Secara khusus, kami pikir pembelian oleh perusahaan perbendaharaan aset digital Bitcoin (DAT) kemungkinan sudah berakhir, karena valuasi tidak lagi mendukung ekspansi DAT Bitcoin lebih lanjut,” tutur Kendrick dalam catatannya.
Ia memperkirakan pasar akan memasuki fase konsolidasi, bukan penjualan langsung. Namun, pembelian oleh DAT dinilai tidak lagi memberikan dukungan signifikan terhadap harga bitcoin.
Ilustrasi aset kripto.
DAT merupakan entitas yang membeli dan menyimpan bitcoin dengan tujuan mengungguli pasar. Namun, koreksi harga kripto telah menekan valuasi perusahaan-perusahaan tersebut.
Sejumlah analis menilai kondisi ini dapat membatasi kemampuan mereka untuk menghimpun dana tambahan.
Di sisi lain, Kendrick menilai dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF) berbasis bitcoin berpotensi menjadi pendorong harga utama pada 2026.
“Akibatnya, kami sekarang berpikir bahwa kenaikan harga bitcoin di masa mendatang secara efektif hanya akan didorong oleh satu faktor, (yakni) pembelian ETF,” sebut Kendrick.
Optimisme dari sektor keuangan terdesentralisasi
Dari sektor keuangan terdesentralisasi, CEO Maple Finance Sidney Powell memasang target harga bitcoin sebesar 175.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,94 miliar pada 2026.
Proyeksi tersebut didukung oleh ekspektasi pemotongan suku bunga dan meningkatnya adopsi bitcoin oleh institusi.
Pada Desember 2024, Powell memperkirakan akan terjadi sejumlah koreksi harga pada 2025, yang kemudian terbukti. Namun, prediksinya bahwa bitcoin akan naik ke kisaran 180.000–200.000 dollar AS pada tahun lalu tidak tercapai.
Powell menilai tonggak penting bagi bitcoin pada 2026 adalah ketika nilai pinjaman yang dijaminkan dengan bitcoin melampaui 100 miliar dollar AS.
“Para pemegang Bitcoin semakin canggih, mereka tidak ingin menjual BTC mereka; mereka ingin meminjam dengan jaminan BTC. Ini menciptakan siklus yang baik: tekanan jual berkurang, utilitas meningkat, harga lebih tinggi,” papar Powell.
Ilustrasi bitcoin.
Rentang harga bitcoin terlebar dari penambang kripto
Prediksi dengan rentang terlebar datang dari Bit Mining. Kepala Ekonom Bit Mining, Youwei Yang, memperkirakan bitcoin akan diperdagangkan dalam kisaran yang sangat luas pada 2026, yakni antara 75.000 hingga 225.000 dollar AS.
“Tahun 2026 bisa menjadi tahun yang kuat bagi Bitcoin, didukung oleh potensi penurunan suku bunga dan sikap regulasi yang lebih akomodatif terhadap kripto,” ujar Yang.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas tinggi kemungkinan tetap terjadi di tengah ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik global yang berlanjut.
Pada Desember 2024, sebagian prediksi Yang terbukti. Ia memperkirakan bitcoin bisa turun ke sekitar 80.000 dollar AS pada 2025, yang kemudian terjadi.
Namun, proyeksinya bahwa bitcoin akan diperdagangkan di kisaran 180.000 hingga 190.000 dollar AS tidak terwujud.
Pandangan bursa kripto Nexo
Bursa kripto Nexo juga menyampaikan pandangannya terkait prospek bitcoin.
Menurut analis Nexo, Iliya Kalchev, kegagalan bitcoin mencapai target 250.000 dollar AS pada 2025 bukanlah penolakan terhadap tesis jangka panjang, melainkan dampak dari mekanisme pasar yang berbenturan dengan perubahan kondisi makroekonomi.
Kalchev mengatakan harga tersebut tidak tercapai karena pemegang jangka panjang yang mengakumulasi bitcoin di harga rendah mulai menjual, sementara investor institusional menyerap pasokan tersebut.
Untuk 2026, Kalchev menilai prospek terlihat “lebih konstruktif”. Ia menyebut fase penjualan oleh pemegang jangka panjang mendekati akhir, sementara alokasi institusional diperkirakan meningkat secara bertahap dari level yang masih relatif rendah.
“Bitcoin memasuki tahun 2026 dengan risiko pasokan yang lebih rendah dan basis modal yang lebih luas,” kata Kalchev.
“Jika kondisi keuangan menjadi lebih mendukung, melalui pelonggaran kebijakan, dollar AS yang lebih lemah, atau perluasan likuiditas yang diperbarui, bitcoin dapat kembali mencapai dan melampaui level tertinggi sebelumnya,” tambahnya.
Tag: #prediksi #harga #bitcoin #2026 #analis #perkirakan #hingga #miliar