Gandeng OJK, BI Luncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia
- Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), Senin (23/2/2026).
Inisiatif tersebut bertujuan memperkuat fondasi ekonomi dan keuangan digital nasional, sekaligus menjawab tantangan literasi, keamanan, serta perluasan inklusi di tengah lonjakan transaksi digital.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, menyebut pertumbuhan ekonomi digital Indonesia kini memasuki fase akselerasi yang signifikan sejak implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025-2030.
Baca juga: Waspada Phishing, Ini Cara Jaga Keamanan Akun Keuangan Digital
Hal itu tecermin dari lonjakan volume transaksi QRIS yang hampir mencapai 300 miliar transaksi per tahun dengan nilai melampaui Rp 50 triliun, menandakan semakin luasnya adopsi pembayaran digital di berbagai lapisan masyarakat dan sektor usaha.
“Sejak Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025-2030 berjalan, pertumbuhan ekonomi keuangan digital kita sangat kuat. Volume transaksi QRIS hampir mencapai 300 miliar per tahun dengan nilai lebih dari Rp50 triliun,” ujar Dicky saat peluncuran PIDI.
Lonjakan juga tecermin pada kanal pembayaran lainnya.
Sebanyak 90 persen perbankan nasional telah memiliki layanan mobile banking, sementara nilai transaksi melalui BI-FAST telah menembus Rp 1,7 kuadriliun.
Baca juga: QRIS Jadi Infrastruktur Keuangan Digital: Dari Warung hingga Wisata Mancanegara
Namun, Dicky mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut harus diimbangi penguatan ekosistem.
Literasi digital, perlindungan konsumen, serta perluasan akses hingga ke wilayah pedesaan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditangani satu institusi saja.
“Tidak bisa hanya Bank Indonesia. Kita perlu orkestrasi inovasi. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” paparnya.
Ilustrasi keuangan digital. Terjadi pergeseran industri keuangan global menuju pasar privat.
PIDI dibentuk sebagai hub inovasi digital nasional yang mempertemukan talenta muda, industri, asosiasi, hingga regulator.
Baca juga: 48 Persen Treasurer Indonesia Khawatir Risiko Siber Hambat Transformasi Keuangan Digital
BI berharap lembaga ini menjadi motor pengembangan solusi digital yang aplikatif bagi sektor sistem keuangan, sekaligus menjembatani kebutuhan industri dengan ketersediaan talenta.
Dicky menjelaskan, PIDI memiliki dua fokus utama.
Pertama, menjawab kebutuhan industri melalui pelatihan, pengembangan proyek percontohan (pilot project), hingga business matching. Kedua, membangun talent pipeline untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor digital.
Program unggulan yang dikembangkan bertajuk Digital Talent Berdaya dan Berkarya (DIGDAYA). Skemanya terdiri atas level esensial, practitioner, hingga capstone project. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan mengikuti hackathon untuk menghasilkan solusi konkret yang siap diimplementasikan industri.
Baca juga: Transaksi Keuangan Digital 2024 Melesat, QRIS Melonjak 175,2 Persen
“PIDI bukan sekadar ruang kompetisi, melainkan engine inovasi nasional. Kita ingin talenta digital Indonesia tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membangun startup dan menciptakan solusi nyata bagi sistem keuangan,” beber Dicky.
Pada gelombang awal, BI menargetkan sekitar 3.000 peserta.
Tahun sebelumnya, program serupa berhasil menjaring 2.700 peserta dengan ratusan proposal inovasi.
Melalui PIDI, BI berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar ekonomi digital yang besar, tetapi juga pusat penciptaan inovasi dan talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global.
Tag: #gandeng #luncurkan #pusat #inovasi #digital #indonesia