Menghadapi Biaya Hidup Mahal dengan Dana Darurat, Ini Strateginya
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah (SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON)
16:12
7 Januari 2026

Menghadapi Biaya Hidup Mahal dengan Dana Darurat, Ini Strateginya

Di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik, mulai dari harga pangan, transportasi, hingga layanan kesehatan, risiko guncangan keuangan mendadak menjadi semakin nyata bagi banyak rumah tangga.

Kendaraan mogok, perangkat kerja hilang, atap rumah bocor, atau kebutuhan mendesak untuk berobat bisa terjadi kapan saja, sering kali tanpa peringatan.

Kondisi tersebut membuat keberadaan dana darurat kian relevan sebagai penyangga keuangan, terutama ketika ruang fiskal rumah tangga semakin sempit.

Ilustrasi dana darurat.SHUTTERSTOCK/MOZAKIM Ilustrasi dana darurat.

“Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang tidak kita duga dan sebagian besar membutuhkan dana untuk mengatasinya,” kata Miklos Ringbauer, akuntan publik bersertifikat, dikutip dari Associated Press, Rabu (7/1/2026).

Apa itu dana darurat?

Mengutip Investopedia, dana darurat adalah uang yang disisihkan untuk menutupi pengeluaran tak terduga.

Membangun dana darurat memberi Anda jaring pengaman finansial setiap kali menghadapi keadaan yang tak terduga, termasuk pengeluaran sehari-hari setelah kehilangan pekerjaan atau tagihan medis yang tak terduga, dan lain sebagainya.

Dana darurat harus disimpan di tempat yang mudah diakses jika dibutuhkan. Dana darurat Anda tidak boleh digunakan untuk membayar pengeluaran yang tidak penting, tetapi harus diisi kembali setiap kali digunakan.

Dana darurat dapat membantu menutupi segala hal mulai dari pengeluaran sehari-hari setelah kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan, atau membayar tagihan medis darurat, perbaikan rumah, dan keadaan darurat keuangan lainnya.

Ilustrasi dana darurat.SHUTTERSTOCK/BANGOLAND Ilustrasi dana darurat.

Guncangan dari biaya mendadak ini dan lainnya dapat sangat menghancurkan, itulah sebabnya penting untuk membangunnya.

Tidak memiliki dana darurat dapat menimbulkan stres, mengganggu tabungan Anda yang lain dan berpotensi meningkatkan utang.

Itu karena ketika keadaan darurat terjadi, Anda mungkin harus bergantung pada sarana tabungan lain, seperti dana liburan atau rekening pensiun, atau utang seperti kartu kredit dan pinjaman.

Standar dana darurat di tengah tekanan biaya hidup

Secara umum, banyak perencana keuangan merekomendasikan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran.

Namun, target tersebut kerap terasa berat bagi mereka yang hidup dari gaji ke gaji, terlebih ketika inflasi membuat pengeluaran bulanan semakin membengkak atau ketika cicilan utang menyerap sebagian besar pendapatan.

Meski demikian, para perencana keuangan menilai kondisi tersebut justru memperkuat urgensi membangun dana darurat.

“Dana darurat memungkinkan Anda untuk mencegah utang lebih lanjut,” tutur Jaime Eckels, perencana keuangan bersertifikat dan wealth management leader di Plante Moran Financial Advisors.

Dalam situasi tanpa dana cadangan, kebutuhan mendesak sering kali berujung pada penggunaan kartu kredit atau pinjaman berbunga tinggi, yang pada akhirnya memperberat tekanan keuangan rumah tangga.

Menyeimbangkan dana darurat dan utang

Bagi mereka yang masih memiliki utang kartu kredit atau pinjaman lain, membangun dana darurat kerap dipersepsikan sebagai dilema.

Namun, menurut Rachel Lawrence, kepala penasihat dan perencanaan di Monarch Money, strategi tersebut tetap bisa dilakukan secara bertahap.

Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.

Ia merekomendasikan agar pembayaran utang dilakukan sebatas minimum, sembari mulai membangun dana darurat. Setelah jumlah dana cadangan dianggap memadai sesuai gaya hidup, barulah pelunasan utang dapat digenjot lebih agresif.

Pendekatan ini dinilai relevan di tengah biaya hidup yang meningkat, karena dana darurat berfungsi sebagai penyangga agar rumah tangga tidak kembali terjerat utang saat terjadi guncangan.

Memulai dana darurat dari target kecil

Target dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran bisa terasa menakutkan, terutama ketika harga kebutuhan pokok terus naik. Karena itu, Lawrence menyarankan untuk memecah target besar tersebut menjadi pencapaian yang lebih kecil.

Ia merekomendasikan memulai dengan tujuan awal menabung dana darurat yang realistis untuk Anda, lalu secara bertahap meningkatkan target menjadi satu bulan, tiga bulan, hingga enam bulan pengeluaran.

Pendekatan ini dinilai lebih realistis di tengah tekanan inflasi, karena memberi ruang bagi rumah tangga untuk beradaptasi dengan kondisi keuangan mereka tanpa merasa terbebani.

“Memulai dari yang kecil tidak apa-apa. Hal-hal kecil itu dapat bertambah,” kata Eckels.

Ia juga menyarankan agar dana darurat disimpan di rekening terpisah dari tabungan reguler, idealnya di rekening tabungan berbunga tinggi yang menawarkan imbal hasil lebih baik dibandingkan tabungan konvensional.

Menentukan jumlah dana darurat sesuai situasi

Besaran dana darurat ideal tidak bersifat seragam dan sangat bergantung pada situasi hidup masing-masing individu.

Lawrence menyarankan agar seseorang mengukur tanggung jawab keuangan yang dimiliki, mulai dari cicilan rumah, kendaraan, hingga tanggungan keluarga, untuk menentukan target dana darurat yang realistis.

Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.SHUTTERSTOCK/TINNAKORN JORRUANG Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.

Profesional lajang tanpa kewajiban finansial besar, misalnya, mungkin cukup menargetkan dana darurat setara pengeluaran tiga bulan.

Sebaliknya, keluarga dengan anak dan hewan peliharaan umumnya perlu menyiapkan dana cadangan setara enam bulan pengeluaran, terutama untuk mengantisipasi lonjakan biaya hidup dan kebutuhan tak terduga.

“Tidak ada solusi yang cocok untuk semua orang. Setiap orang berbeda, terutama jika Anda memiliki pengeluaran yang bervariasi setiap bulannya,” kata Ringbauer.

Bagi pekerja lepas atau wiraswasta dengan pendapatan tidak tetap, Lawrence merekomendasikan dua lapis dana darurat.

Pertama, dana penyangga untuk menopang bulan-bulan dengan pendapatan rendah. Kedua, dana khusus untuk keadaan darurat yang sesungguhnya.

“Anda sisihkan sejumlah uang itu di rekening cadangan Anda sampai Anda memiliki dana untuk dua atau tiga bulan yang Anda inginkan,” katanya.

“Karena dengan cara itu, setiap bulan di mana Anda memiliki uang lebih sedikit, Anda dapat mengambil dari rekening cadangan dan itu bukan masalah besar," imbuh Lawrence.

Mengandalkan otomatisasi tabungan

Di tengah biaya hidup yang menyerap sebagian besar pendapatan, disiplin menabung sering kali menjadi tantangan. Eckels menyarankan penggunaan fitur tabungan otomatis sebagai solusi praktis.

Dengan menjadwalkan penarikan tabungan segera setelah gaji diterima, kebiasaan menabung dapat terbentuk tanpa harus bergantung pada keputusan manual setiap bulan.

“Saya selalu mengatakan kepada orang-orang, jika uang itu tidak pernah ada di rekening bank Anda, Anda tidak pernah memilikinya, bukan?” tutur Eckels.

Ilustrasi dana darurat.Dok. Shutterstock/ChristianChan Ilustrasi dana darurat.

Ia juga menganjurkan agar rekening dana darurat tidak berada di bank yang sama dengan rekening giro, untuk meminimalkan godaan menggunakan dana tersebut di luar kondisi darurat.

Membuat kemajuan menjadi visual

Menjaga motivasi menabung di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat bukan perkara mudah. Lawrence menilai visualisasi kemajuan dapat membantu seseorang tetap konsisten.

Ia menyarankan agar pelacakan dana darurat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan memberi rasa pencapaian, misalnya menggunakan grafik, pelacak kebiasaan di ponsel, atau fitur pelacak di aplikasi penganggaran.

“Anda ingin otak Anda mendapatkan penghargaan sesering mungkin ketika Anda melihat banyak kemajuan,” terang Lawrence.

Menyimpan rezeki tak terduga

Ketika anggaran bulanan sudah sangat ketat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, Lawrence menyarankan agar rezeki tak terduga dimanfaatkan sebagai sumber utama dana darurat.

Pendapatan tak terduga bisa berasal dari pengembalian pajak, gaji ketiga dalam sebulan tertentu, atau bonus.

“Pendapatan tak terduga, seperti pengembalian pajak atau menerima gaji ketiga ketika biasanya Anda dibayar dua kali sebulan, atau bonus, adalah cara terbaik untuk maju ketika Anda sedang kekurangan uang,” kata Lawrence.

Secara umum, ia merekomendasikan agar 10 persen dari pendapatan tak terduga digunakan untuk kebutuhan mendesak, sementara sisanya dialokasikan ke dana darurat.

Ilustrasi dana darurat.Dok. Kredivo Ilustrasi dana darurat.

Dengan pembagian tersebut, individu tetap dapat menabung sekaligus merasakan manfaat langsung dari pendapatan tambahan.

Menggunakan dana darurat tanpa rasa bersalah

Ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, penggunaan dana darurat tidak seharusnya disertai rasa bersalah.

Lawrence menekankan, dana tersebut memang disiapkan untuk menghadapi situasi sulit, terutama ketika biaya hidup tinggi membuat kesalahan finansial menjadi semakin mahal.

“Anda tidak akan merasa buruk menggunakan uang muka Anda untuk membeli rumah, Anda tidak akan merasa buruk menabung untuk pensiun, benar-benar untuk pensiun,” tutur Lawrence.

Tag:  #menghadapi #biaya #hidup #mahal #dengan #dana #darurat #strateginya

KOMENTAR