Vila Ilegal dan Macet Bikin Bali Kehilangan Daya Saing
Sepinya minat wisatawan berkunjung ke Bali dinilai berkaitan dengan menjamurnya vila tak berizin dan persoalan kemacetan.
Bali bahkan disebut mulai kalah bersaing dengan destinasi regional seperti Penang di Malaysia dan Bangkok di Thailand.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai Bali sejatinya tidak kalah dari destinasi lain di kawasan, baik dari sisi budaya maupun sumber daya alam. Persoalan utama justru datang dari faktor internal yang belum tertangani dengan baik.
“Bali sebenarnya tidak kalah dibandingkan Malaysia atau Thailand. Namun, ada sejumlah persoalan internal yang harus segera dibenahi,” ujar Ferry secara virtual, Rabu (7/1/2026).
Maraknya pembangunan vila dan homestay tanpa izin menjadi sorotan utama. Keberadaan akomodasi ilegal tersebut dinilai merugikan penerimaan pajak daerah dan menekan kinerja hotel resmi.
“Yang pertama terlihat itu memang dari sisi internal kita memang, sekarang ini kan marak pembangunan villa-villa yang tidak berizin, kemudian homestay-homestay yang juga tidak berizin, sehingga itu memang dari sisi pendapatan pajak pun itu memang sangat merugikan buat pemerintah,” kata Ferry.
Kondisi tersebut membuat pasar wisata tidak terserap optimal oleh hotel legal. Hotel resmi kehilangan pangsa pasar, sementara tingkat hunian tidak tumbuh signifikan.
“Hotel yang harusnya mereka lebih berhak atau hotel resmi yang beroperasi, mereka yang lebih berhak itu tidak kebagian pasar dari situ. Sehingga memang kelihatan jadi hotel occupancy itu nggak terlalu signifikan tumbuhnya,” ujar Ferry.
“Kalau bisa ini mulai ditertipkan, mungkin harusnya bisa lebih baik tingkat huniannya,” tambah dia.
Persoalan lain muncul dari sisi infrastruktur, terutama transportasi. Ferry menilai Bali masih tertinggal karena belum memiliki sistem transportasi massal yang memadai di kawasan wisata utama.
“Infrastruktur yang sekarang itu menjadi kendala adalah transportasi, infrastruktur jalan, infrastruktur transportasi massal yang memang sudah direncanakan, tapi memang belum terrealisasi,” ujarnya.
Kemacetan parah di kawasan wisata seperti Canggu dinilai menggerus kenyamanan pengunjung. Wisatawan harus menghabiskan banyak waktu hanya untuk berpindah lokasi.
“Kemacetan di beberapa kawasan sudah luar biasa. Wisatawan harus menghabiskan waktu lama hanya untuk berpindah tempat, ini jelas mengurangi pengalaman berwisata mereka,” kata Ferry.
Situasi tersebut membuat Bali kurang kompetitif dibandingkan destinasi Asia Tenggara lain yang telah ditopang sistem transportasi publik yang efisien.
Pandangan serupa disampaikan Research Executive Departemen Riset Colliers Indonesia Saskia Ananda. Ia menyebut data pelaku perhotelan menunjukkan Bali tertinggal dari Thailand dari sisi jumlah kunjungan.
“Kalau secara statistik memang kita kalah dibandingkan Thailand untuk kunjungan wisatawan, itu sudah rahasia umum lah,” ujar Saskia.
Kemacetan, menurut dia, turut menurunkan kualitas pengalaman wisatawan. Akses transportasi menjadi faktor penting dalam daya saing destinasi.
“Tingkat kemacetan itu juga membuat experience tamu itu jadi berkurang. Itu cukup berpengaruh. Terkait transportasi masal, kita melihat di beberapa daerah pariwisata, transportasi masalnya itu sangat mendukung. Mungkin itu bisa jadi bahan pertimbangan juga buat pemerintah,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya mencatat penurunan kunjungan wisatawan domestik sepanjang 2025. Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut capaian tahun lalu belum mampu menyamai tahun sebelumnya.
Tahun 2024, kunjungan wisatawan domestik mencapai 10,1 juta orang. Hingga 26 Desember 2025, jumlahnya baru sekitar 9,2 juta orang. Hingga akhir tahun, angka tersebut diperkirakan mencapai 9,4 juta orang, atau turun sekitar 600.000 sampai 700.000 kunjungan.
Secara total, jumlah wisatawan mancanegara dan domestik pada 2025 juga mengalami penurunan. Penurunan tersebut terutama dipicu merosotnya wisatawan domestik.
“Jumlah wisman dengan wisatawan nusantara pada tahun 2024 itu mencapai 16,4 juta. Sampai 26 Desember 2025 ini 16,1 juta. Jadi ada penurunan sekitar 300.000. Sampai 31 Desember mungkin akan menurun totalnya sekitar 200.000,” kata Koster.
Tag: #vila #ilegal #macet #bikin #bali #kehilangan #daya #saing