Menjaga Kemenyan, Menanam Masa Depan: Kisah Warga Tapanuli Tumbuh Bersama
Program penanaman cabai dari PT Toba Pulp Lestari Tbk di KTH Pargamanan Bintang Maria, Desa Simataniari, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. (Istimewa).
11:45
7 Januari 2026

Menjaga Kemenyan, Menanam Masa Depan: Kisah Warga Tapanuli Tumbuh Bersama

 Di wilayah Tapanuli Utara, kemenyan tumbuh perlahan bersama kesabaran warganya. Ia bukan sekadar pohon, melainkan warisan hidup yang dijaga lintas generasi. Senyampang menunggu waktu panen yang panjang, masyarakat menanam harapan baru bersama PT Toba Pulp Lestari tbk (TPL) agar kehidupan hari ini tetap berjalan.

Bagi warga Desa Simataniari, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, kemenyan adalah kisah panjang tentang kesabaran. Pohon itu ditanam bukan untuk segera dipanen, melainkan untuk diwariskan. Butuh delapan hingga sepuluh tahun sebelum kemenyan bisa disadap, dan selama menunggu, warga merawatnya seperti menjaga titipan orang tua mereka.

“Kemenyan ini bukan sekadar tanaman. Ini identitas kami,” ujar Manahan Purba Pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Pargamanan Bintang Maria saat dihubungi pada Selasa, (30/12).

Menurut Manahan, pohon kemenyan bisa hidup sangat lama tetapi ketika sudah terlalu tua, hasil getahnya makin berkurang. Kondisi tersebut membuat pendapatan warga tidak selalu stabil.

Padahal, getah kemenyan memiliki nilai ekonomi tinggi. Getah kemenyan dapat menjadi bahan baku berbagai produk bernilai tambah, mulai dari parfum, dupa dan aromaterapi, hingga campuran industri keramik dan produk kerajinan bernilai premium.

Kesadaran itulah yang membuat warga tetap bertahan menjaga kemenyan. Namun, menunggu saja tidak cukup. Kebutuhan hidup berjalan setiap hari, biaya pendidikan anak terus datang, dan cuaca tidak selalu bersahabat. Di sinilah perubahan mulai ditenun.

Sejak beberapa tahun terakhir, TPL hadir mendampingi warga melalui pendekatan berbasis kemitraan. Pada 2019, perusahaan menyalurkan sekitar 4.000 bibit kemenyan ke KTH Marsada Simataniari dan pada 2020-2021, sebanyak 6.000 bibit kemenyan disalurkan ke KTH Bersama Sionom Hudon.

Pemberian bibit kemenyan ini sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan komoditas kemenyan. Bibit tersebut memang belum dapat disadap dalam waktu dekat, namun diharapkan dapat melengkapi keberadaan kemenyan tua yang produktivitasnya kian menurun.

Program penanaman cabai dari PT Toba Pulp Lestari Tbk di KTH Pargamanan Bintang Maria, Desa Simataniari, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. (Istimewa).

Direktur TPL, Anwar Lawden, menegaskan bahwa komitmen perusahaan tidak berhenti pada pemberian bibit. “Kami juga memberikan pendampingan teknis, mulai dari cara tanam, perawatan berkelanjutan, hingga pemupukan yang ramah lingkungan. Harapannya, ini memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Namun, kemenyan tetaplah tanaman jangka panjang. Karena itu, warga diajak untuk tidak menggantungkan hidup pada satu komoditas saja. Sejak 2018, melalui tim Community Development TPL, warga Simataniari membentuk KTH Pargamanan Bintang Maria dan mulai mengenal cabai serta kopi sebagai sumber penghasilan alternatif.

Cabai dan Kopi
Cabai menjadi komoditas pertama yang dikembangkan. Masa panennya singkat, hasilnya bisa dipetik rutin setiap minggu. Sementara kopi diperkenalkan sebagai penopang jangka menengah—tidak instan, tetapi
stabil. “Dulu kami hanya fokus ke kemenyan dan padi. Sekarang kami punya pilihan lain,” kata Manahan Purba.

Perubahan ini perlahan terasa di rumah-rumah warga. Pendapatan dari cabai membantu memenuhi kebutuhan harian, sementara kopi memberi harapan baru untuk beberapa tahun ke depan. Pola ini membuat warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim dan cuaca.

Cerita serupa juga datang dari Desa Pondok Buluh, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun. Di sana, KTH Dolok Parmonangan Nauli yang berdiri pada 2022 berhasil memanen 1.091 kilogram cabai dari lahan satu hektare. Capaian ini didukung pendampingan TPL melalui penyediaan bibit, pupuk, kompos, mulsa, serta pembinaan dan monitoring rutin.

Program tumpang sari dan tanaman kehidupan yang dijalankan TPL bersama kelompok tani menjadi jembatan antara menjaga lingkungan dan menguatkan ekonomi masyarakat. Hingga Agustus 2025, TPL telah bermitra dengan 18 KTH di berbagai wilayah Tapanuli dan Simalungun. Beberapa di antaranya adalah KTH Dolok Parmonangan Nauli, Karya Tani, Marsada, Tungkonisolu, Lammiduk, Aek Napa, Berjuang Lumban Toruan, serta Onan Harbangan Nagasaribu.

Anwar menyampaikan, pola kemitraan dan pembinaan ini merupakan komitmen TPL untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi desa. “TPL akan terus berkomitmen untuk memastikan pola kemitraan dan pembinaan ini dijalankan secara berkelanjutan, terukur, dan inklusif, sehingga mampu menciptakan nilai tambah nyata bagi masyarakat desa”, ujarnya.

Bagi warga, kemitraan ini bukan sekadar program. Ia adalah ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang berharap. Kemenyan tetap dijaga sebagai warisan, sementara cabai dan kopi menopang kehidupan hari ini. Dari ladang-ladang kecil di perbukitan Tapanuli, sebuah pelajaran tumbuh perlahan: menjaga alam dan menumbuhkan ekonomi bisa berjalan beriringan, selama dilakukan bersama.

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #menjaga #kemenyan #menanam #masa #depan #kisah #warga #tapanuli #tumbuh #bersama

KOMENTAR