Sempat Menguat Tembus 94.000 Dollar AS, Harga Bitcoin Melemah 1,6 Persen
Ilustrasi bitcoin. (UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN)
09:24
7 Januari 2026

Sempat Menguat Tembus 94.000 Dollar AS, Harga Bitcoin Melemah 1,6 Persen

- Harga Bitcoin (BTC) terkoreksi atau turun 1,68 persen ke posisi Rp 92.327 dollar AS selama 24 jam terakhir.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Rabu (7/1/2026), Bitcoin sempat bergerak volatil di rentang Rp 91.286 - Rp 94.395 dollar AS.

Meski terkoreksi secara harian, posisi Bitcoin secara umum masih relatif kuat.

Secara year to date (YTD) Bitcoin masih membukukan kinerja positif sekitar 4 persen, dengan kapitalisasi pasar bertahan di level Rp 1,84 triliun dollar AS dan dominasi pasar mencapai 58,13 persen.

Volume perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir tercatat Rp 53,9 miliar dollar AS.

Tekanan pada Bitcoin turut menyeret pergerakan aset kripto berkapitalisasi besar.

XRP terkoreksi paling dalam di jajaran teratas dengan penurunan sekitar 4,7 persen, diikuti Cardano (ADA) yang melemah lebih dari 3,5 persen, serta Bitcoin Cash (BCH) turun 3,1 persen.

Dogecoin (DOGE) dan BNB juga bergerak di zona merah, meski dengan penurunan yang lebih terbatas.

Di tengah koreksi tersebut, aset kripto lainnya justru menunjukkan ketahanan.

Ethereum (ETH) masih mampu mencatat kenaikan tipis 0,5 persen, Solana (SOL) menguat 0,8 persen dan TRON (TRX) naik tipis.

Sementara itu, stablecoin seperti USDT dan USDC relatif stabil di sekitar level Rp 1 dollar AS.

Sebenarnya optimisme sudah mulai menyelimuti pasar kripto global. Sinyal ini tecermin dari pergerakan Bitcoin (BTC), di mana para trader kembali membidik level psikologis Rp 100.000 dollar AS setelah meredanya kekhawatiran pascakejatuhan pasar kripto pada kuartal IV-2025.

Mengutip Bloomberg, data pasar menunjukkan minat terbuka (open interest) di opsi Bitcoin kini terkonsentrasi pada kontrak yang jatuh tempo 30 Januari dengan harga kesepakatan Rp 100.000 dollar AS.

Nilai nosional kontrak tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontrak opsi terpadat berikutnya, yakni opsi jual (put) di level Rp 80.000 dollar AS dengan jatuh tempo yang sama.

Data tersebut bersumber dari bursa derivatif Deribit milik Coinbase Global Inc.

"Ukurannya memang belum masif, tetapi arahnya jelas dan konsisten, melanjutkan minat besar di strike Rp 100.000 dollar AS yang sudah terlihat sejak pekan lalu," ujar Jake Ostrovskis, Head of Over-the-Counter Trading di Wintermute.

Menurutnya, premi opsi lindung nilai penurunan harga masih terlihat, namun telah melemah signifikan. "Pasar tampaknya tidak lagi mempersiapkan skenario terburuk dan mulai melihat kondisi yang lebih stabil," katanya.

Perubahan sentimen ini menjadi kontras tajam dibandingkan kondisi akhir 2025, ketika pasar kripto berada dalam tekanan berat.

Saat itu, aksi jual masif di pasar spot dibarengi lonjakan harga opsi jual yang mahal, mencerminkan kekhawatiran mendalam akan penurunan lanjutan.

Seiring membaiknya sentimen, harga Bitcoin sempat melonjak hingga 3,6 persen ke level Rp 94.494 dollar AS pada perdagangan New York, mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Sebelumnya, Bitcoin mencatat penurunan sekitar 24 persen sepanjang kuartal IV-2025 dan menutup tahun di level Rp 87.648 dollar AS.

Adapun harga Rp 100.000 dollar AS terakhir disentuh pada 14 November.

Momentum pemulihan ini juga diperkuat oleh kembalinya aliran dana ke produk investasi kripto.

Pada 2 Januari, produk berbasis Bitcoin mencatat arus masuk bersih sebesar Rp 471 juta dollar AS, sementara Ether mencatat Rp 174 juta dollar AS, menurut data Wintermute.

Tingkat permintaan itu terakhir terlihat pada November lalu, sebelum pasar kripto mengalami arus keluar besar sejak kejatuhan awal Oktober, ketika sekitar Rp 19 miliar dollar AS aset digital lenyap hanya dalam satu hari.

Kenaikan Bitcoin turut sejalan dengan reli di pasar global lainnya.

Harga emas melonjak ke rekor tertinggi, sementara pasar saham menguat berkat kinerja saham-saham teknologi.

"Kondisi ini menciptakan peluang menarik untuk membeli opsi beli Bitcoin dengan horizon hingga 2026," ujar Greg Magadini, Direktur Derivatif di Amberdata.

Ia menilai pasar mulai menyadari bahwa Bitcoin tertinggal dibandingkan reli logam mulia.

Dalam beberapa bulan terakhir, Bitcoin berulang kali gagal menembus level kunci dan kerap berujung pada koreksi tajam yang disertai likuidasi besar.

Tekanan jual yang konsisten serta minimnya aliran modal spekulatif dari pasar derivatif membuat pasar kripto terjebak dalam fase lesu berkepanjangan.

Meski demikian, peluang reli lanjutan dinilai masih terbuka.

CEO bursa hybrid Rails, Satraj Bambra, menyebut pengujian ulang area Rp 100.000 hingga Rp 106.000 dollar AS bukan hal yang mustahil.

Namun agar tren benar-benar berbalik bullish, Bitcoin perlu mampu merebut kembali dan bertahan di atas Rp 106.000 dollar AS secara mingguan untuk membuka jalan menuju rekor tertinggi baru.

Sementara itu, struktur posisi opsi menunjukkan potensi kenaikan relatif cepat di rentang Rp 90.000-an dollar AS, dengan titik jeda berikutnya diperkirakan berada di sekitar Rp 105.000 dollar AS.

Jika momentum ini berlanjut, pasar kripto berpeluang memasuki fase pemulihan yang lebih solid setelah periode tekanan panjang.

Tag:  #sempat #menguat #tembus #94000 #dollar #harga #bitcoin #melemah #persen

KOMENTAR