Harga Kebutuhan Naik, Ini Strategi Menghindari “Makan Tabungan”
Ilustrasi mengatur keuangan. (SHUTTERSTOCK/PROSTOCK-STUDIO)
17:44
6 Januari 2026

Harga Kebutuhan Naik, Ini Strategi Menghindari “Makan Tabungan”

- Istilah “makan tabungan” makin sering terdengar ketika harga kebutuhan sehari-hari naik, sementara gaji tidak selalu ikut menyesuaikan.

Di lapangan, situasinya sering sederhana, yakni uang belanja bertambah, pos-pos rutin membengkak, lalu tabungan yang semula untuk tujuan jangka panjang pelan-pelan terkuras untuk menutup kebutuhan harian.

Fenomena makan tabungan digambarkan sebagai kondisi ketika pendapatan tergerus dan rumah tangga terpaksa "mengorek" tabungan.

Ilustrasi inflasi. SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.

Tekanan itu punya konteks data yang jelas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 sebesar 2,92 persen dengan IHK 109,92.

Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/mtm) pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen.

BPS juga menjelaskan, inflasi Desember 2025 terutama didorong komponen harga pangan bergejolak (volatile food) yang inflasinya 2,74 persen dan memberi andil 0,45 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan telur ayam ras.

Ketika kenaikan harga banyak datang dari kebutuhan dasar (makanan), ruang mengencangkan ikat pinggang menjadi lebih sempit.

Di titik inilah, strategi menghindari makan tabungan perlu dimulai dari langkah yang terukur, yaitu memahami sumber tekanan, memetakan arus kas, lalu membangun sistem agar tabungan tidak jadi pos penutup defisit bulanan.

Kenali gejala makan tabungan sejak awal bulan

Ilustrasi tabungan, menabung. SHUTTERSTOCK/MINTRATH Ilustrasi tabungan, menabung.

Makan tabungan biasanya tidak terjadi sekaligus, melainkan lewat kebiasaan kecil yang berulang. Beberapa gejala yang kerap muncul antara lain sebagai berikut.

  1. Tabungan terpakai untuk belanja rutin (bukan keadaan darurat).
  2. Saldo akhir bulan makin sering minus atau keteteran, lalu “ditambal” dari rekening simpanan.
  3. Pengeluaran impulsif meningkat karena promo, FOMO, atau self-reward, sementara kebutuhan pokok ikut naik.

Dikutip dari Antara, perencana keuangan Rista Zwestika menyoroti kebiasaan yang cenderung spontan dan rentan tergiur promo serta tren gaya hidup, sehingga banyak orang terjebak dalam siklus keuangan tanpa bisa menyisakan sebagiannya untuk simpanan atau tabungan.

Jika gejala ini dibiarkan, tabungan berubah fungsi, yakni bukan lagi bantalan risiko, melainkan “pengganti gaji” yang menutup selisih antara penghasilan dan biaya hidup.

Mengapa tabungan cepat terkuras: tekanan biaya hidup dan ruang menabung yang menyempit

Sejumlah indikator menunjukkan kelompok simpanan kecil menghadapi tekanan.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pada November 2025, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio), proporsi pembayaran cicilan/utang (debt to income ratio), dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) relatif stabil dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu masing-masing 74,6 persen, 11,0 persen, dan 14,4 persen.

Sementara itu, proporsi konsumsi terhadap pendapatan relatif stabil, dipengaruhi peningkatan proporsi konsumsi pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta dan di atas Rp 5 juta, yang diiringi penurunan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta. 

Adapun proporsi konsumsi pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta relatif stabil sebesar 76,5 persen. 

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Porsi pendapatan yang ditabung mengalami peningkatan pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta (14,3 persen) dan Rp 4,1 juta sampai Rp 5 juta (14,6 persen), sementara kelompok di atas Rp 5 juta mengalami penurunan (15,9 persen).

Di sisi lain, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada September 2025 berada di level 77,3, turun 1,6 poin dari posisi bulan sebelumnya.  Hal ini sejalan dengan pelemahan Indeks Intensitas Menabung (IIM) pada periode yang sama, yakni 3,6 poin ke level 67,1. 

Sementara itu, komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) tercatat sedikit meningkat, yakni sebesar 0,4 poin ke level 87,4.

IMK pada beberapa kelompok pendapatan rumah tangga (RT) tercatat menurun pada September 2025. IMK kelompok rumah tangga berpendapatan di atas Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta per bulan mengalami kontraksi paling dalam, yakni turun 6,1 poin).

Kemudian, diikuti IMK RT berpendapatan di atas Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per bulan turun 1,9 poin, dan IMK RT berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan turun 0,4 poin.

"Meski menurun, IMK RT berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan tetap berada di atas 100. Sebaliknya, terjadi peningkatan IMK pada kelompok RT berpendapatan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan (naik 21,8 poin secara bulanan/MoM)," tulis LPS dalam laporannya.

Dikutip dari Kontan, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengaitkan perlambatan simpanan dengan turunnya disposable income.

“Data juga menunjukkan bahwa disposable income itu terus mengalami penurunan. Jadi uang yang bisa dibelanjakan makin berkurang, lapangan kerja di sektor formalnya juga semakin terbatas," jelasnya.

Di level rumah tangga, penjelasannya sering berulang, kebutuhan pokok naik, kewajiban tetap (cicilan atau kontrak) tidak ikut turun, sementara kenaikan pendapatan terbatas.

Tanpa penyesuaian sistem pengelolaan uang, tabungan menjadi korban yang paling mudah diakses.

Ilustrasi tabungan, menabung.SHUTTERSTOCK/FARKNOT ARCHITECT Ilustrasi tabungan, menabung.

Strategi praktis agar tidak makan tabungan

Agar Anda tidak mengakses tabungan untuk "menambal" biaya hidup, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan.

1. Pisahkan “uang bertahan hidup” dan “uang tujuan” sejak hari gajian

Langkah pertama untuk menghentikan kebocoran adalah memutus akses tabungan dari belanja harian. Kuncinya bukan sekadar niat, melainkan pemisahan rekening atau pos.

Rista menekankan prinsip menyisihkan tabungan di awal, bukan menunggu sisa.

“Begitu punya pendapatan, sisihkan dulu 10 persen di awal, kalau pun cuma bisa lima persen pun tidak apa-apa, yang penting menyisihkan, bukan menunggu sisa,” katanya.

Praktiknya:

  • Buat minimal 2 rekening atau pos, yakni operasional bulanan dan tabungan atau tujuan.
  • Aktifkan auto-debit atau auto-save pada tanggal gajian (nominal kecil pun tidak masalah, yang penting konsisten).
  • Jika perlu, tempatkan tabungan tujuan di rekening yang tidak memiliki kartu debit utama agar tidak terpakai tanpa sadar.

2. Bangun dana darurat agar “tabungan tujuan” tidak ikut terkuras

Banyak orang mengira semua tabungan sama. Padahal, “tabungan tujuan”, misal untuk pendidikan, DP rumah, maupun investasi jangka panjang seharusnya tidak dipakai untuk kejutan bulanan.

Banyak perencana keuangan menyarankan dana darurat setara tiga sampai enam kali pengeluaran rata-rata per bulan* dan menyarankan menyisihkan 10 hingga 15 persen pendapatan untuk mengejar target dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

Praktiknya:

  • Prioritaskan dana darurat sebelum mengejar target investasi agresif.
  • Pisahkan dana darurat dalam instrumen yang mudah dicairkan (likuid), tetapi tidak terlalu “menggoda” untuk dipakai belanja.

3. Lakukan audit inflasi rumah tangga: cari pos yang naik paling tajam

Karena BPS menyebut pendorong inflasi Desember 2025 banyak berasal dari volatile food alias harga pangan seperti cabai rawit, ayam, bawang merah, telur, ikan segar, maka audit belanja dapur sering memberi dampak cepat.

Praktiknya:

  • Bandingkan belanja dua sampai tiga bulan terakhir: komoditas apa yang paling sering membuat pengeluaran membengkak?
  • Ubah pola belanja: ganti merek atau ukuran, ubah menu, belanja di jam atau pasar berbeda, dan kurangi waste.
  • Buat menu mingguan berbasis stok dan harga, bukan berbasis keinginan harian.

Tujuannya bukan mengurangi kualitas gizi, melainkan mengurangi pembelian spontan yang biasanya paling mahal.

4. Pasang pagar untuk cegah pengeluaran impulsif

Banyak orang rentan tergiur dengan promo, tren hiburan, atau kebutuhan sosial, seperti kuliner, olahraga berbiaya mahal, hingga kebiasaan nongkrong.

Agar keuangan terkendali, maka Anda perlu memasang "pagar" agar tidak terjebak pengeluaran impulsif.

Praktiknya:

  • Terapkan aturan sederhana: tunda 24 jam untuk pembelian non-esensial di atas nominal tertentu.
  • Buat pos “gaya hidup” yang jelas batasnya per bulan (kalau habis, berhenti).
  • Hapus atau kurangi kartu tersimpan di aplikasi belanja untuk menambah “friksi” saat checkout.

Ilustrasi mengatur keuangan. Unsplash Ilustrasi mengatur keuangan.

5. Rapikan kewajiban tetap: cicilan, langganan, dan tagihan rutin

Makan tabungan sering dipicu biaya tetap yang diam-diam membesar, seperti langganan streaming berlapis, paket data mahal yang tidak optimal, biaya layanan yang jarang dipakai, hingga cicilan konsumtif.

Langkah yang bisa dilakukan tanpa mengubah kualitas hidup secara drastis antara lain sebagai berikut.

  • Audit langganan: putuskan mana yang dipakai rutin.
  • Negosiasikan paket internet/telepon, pertimbangkan bundling yang lebih murah.
  • Jika memiliki cicilan, susun ulang prioritas pembayaran agar tidak memunculkan denda (denda sering jadi “pajak kemiskinan” yang mempercepat tabungan habis).

6. Jika defisit tetap terjadi, tambah pemasukan dengan cara yang realistis

Di level individu, mengurangi pengeluaran punya batas. Karena itu, opsi menambah pemasukan perlu dipertimbangkan ketika selisih penghasilan vs biaya hidup sudah struktural.

Rista juga menekankan peningkatan nilai diri dan jaringan.

“Upgrade value-nya, perbesar link-nya. Peluang itu datang kalau kita siap," ucapnya.

Ia menyebut side hustle atau pekerjaan sampingan dapat dimulai dari kemampuan yang sudah ada, selama manajemen waktu dan peningkatan kompetensi dijaga.

Kuncinya adalah mulai kecil, terukur, dan tidak mengganggu pekerjaan utama.

Cara mengecek apakah strategi Anda berhasil tanpa menunggu setahun

Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.SHUTTERSTOCK/DRAGON IMAGES Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.

Agar upaya tidak sekadar wacana, pakai indikator sederhana per bulan:

  1. Tabungan tidak lagi jadi penutup belanja rutin (target utama).
  2. Minimal ada setoran otomatis ke dana darurat atau tabungan tujuan, berapa pun nominalnya.
  3. Pengeluaran makanan lebih stabil karena ada menu atau budget mingguan, terutama saat harga-harga pangan bergejolak.
  4. Frekuensi pengeluaran impulsif menurun karena ada pagarnya.

Jika indikator 1 masih gagal, jangan langsung menyalahkan disiplin.

Evaluasi struktur anggaran, bisa jadi biaya tetap terlalu besar, atau penghasilan memang belum menutup kebutuhan dasar, sehingga perlu langkah tambahan seperti restrukturisasi cicilan atau menambah pemasukan.

Menahan tabungan tetap utuh berarti membangun bantalan, bukan menunda hidup

Kenaikan harga, terutama bahan pangan, tetap menjadi faktor penting dalam tekanan biaya hidup.

Dalam situasi seperti ini, strategi menghindari makan tabungan paling efektif biasanya bukan yang ekstrem, tetapi yang sistematis. Pisahkan pos, otomatisasikan setoran, bangun dana darurat, kendalikan impuls, dan bila perlu cari tambahan pemasukan yang realistis.

Tag:  #harga #kebutuhan #naik #strategi #menghindari #makan #tabungan

KOMENTAR