IHSG Menantang Gejolak Venezuela-AS, Rekor Baru Tercipta saat Investor Pilih Optimisme
Ilustrasi IHSG. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang menembus level 10.000.(DOKUMENTASI BEI)
14:52
6 Januari 2026

IHSG Menantang Gejolak Venezuela-AS, Rekor Baru Tercipta saat Investor Pilih Optimisme

Kekhawatiran pasar global akibat meningkatnya tensi geopolitik menyusul langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak sepenuhnya menjadi momok bagi pelaku pasar. Investor memilih bersikap optimistis.

Sikap tersebut tercermin dari kinerja bursa saham global, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026), IHSG menguat 1,27 persen ke level 8.859. Tren positif berlanjut pada Selasa (6/1/2026). Menjelang penutupan perdagangan, indeks berada di level 8.905,88, naik 46,69 poin atau 0,53 persen dari hari sebelumnya.

Kinerja pasar modal domestik sejalan dengan bursa global. Di Asia, indeks Nikkei melonjak 2,97 persen. Kospi mencatat kenaikan 3,43 persen. Wall Street juga menguat. Dow Jones Industrial Average naik 1,23 persen dan S&P 500 bertambah 0,64 persen.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelaku pasar global belum memandang eskalasi geopolitik sebagai ancaman serius. Fokus investor masih tertuju pada prospek pemulihan ekonomi.

“Tampaknya pelaku pasar dan investor tidak begitu peduli dengan situasi dan kondisi yang ada, karena mereka optimis terhadap pemulihan ekonomi atau bahkan tidak terlalu mempermasalahkan langkah Amerika Serikat,” ujar Nico.

Ia menilai harga minyak juga relatif stabil meski tensi geopolitik meningkat. Cadangan minyak global masih dinilai memadai sehingga tidak memicu lonjakan harga, berbeda dengan respons pasar pada konflik geopolitik sebelumnya.

Sebaliknya, aset lindung nilai menunjukkan penguatan. Harga emas melonjak signifikan seiring meningkatnya tensi geopolitik. Kondisi ini membuka peluang bagi saham-saham berbasis emas kembali dilirik investor.

Pasar obligasi turut mencatat kinerja positif meski penguatannya terbatas. Nico menilai peluang kenaikan lanjutan masih terbuka, baik di pasar saham maupun obligasi, selama sentimen risk-on tetap terjaga.

Dari sisi data ekonomi Amerika Serikat, indikator terbaru menunjukkan sinyal beragam. ISM Manufacturing Index turun tipis dari 48,2 menjadi 47,9. Aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi, meski beberapa komponen menunjukkan perbaikan.

“Apa yang bisa dilihat saat ini, ISM Manufacturing memang turun dari 48,2 menjadi 47,9, sementara ISM Prices Paid relatif stabil di level 58,5,” jelas Nico.

ISM New Orders naik dari 47,4 menjadi 47,7. ISM Employment meningkat dari 44 menjadi 44,9. Data ini memberi sinyal awal arah pemulihan ekonomi Amerika Serikat.

Sentimen positif global juga datang dari Asia Timur. Tiongkok dan Korea Selatan mengintensifkan komunikasi tingkat tinggi untuk menstabilkan hubungan bilateral. Kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama di sektor strategis, termasuk kecerdasan buatan, barang konsumsi, dan industri budaya.

Target perdagangan bilateral dipatok di kisaran 300 miliar dollar AS. Pertemuan tersebut menghasilkan 14 nota kesepahaman di berbagai bidang. Langkah ini dipandang positif bagi stabilitas ekonomi kawasan Asia.

Indonesia berpotensi menikmati dampak tidak langsung dari stabilnya hubungan ekonomi regional. Arus perdagangan dan investasi di kawasan diperkirakan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

“Tentu hal ini menjadi salah satu sentimen positif bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia sebagai mitra dagang utama Tiongkok,” kata Nico.

Pasar domestik juga mendapat dukungan dari kebijakan fiskal. Pemerintah memastikan kelanjutan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun sepanjang 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90 Tahun 2025.

Insentif PPN DTP 100 persen berlaku untuk rumah baru dan siap huni dengan harga maksimal Rp 5 miliar, khusus bagian harga hingga Rp 2 miliar.

Kebijakan ini dinilai menjadi katalis bagi sektor properti. Beban pajak yang ditanggung pemerintah membuat harga efektif properti lebih terjangkau sehingga mendorong keputusan pembelian.

Bagi pengembang, insentif tersebut berpotensi mengurangi stok unit siap huni, memperbaiki arus kas, dan meningkatkan pendapatan sepanjang 2026. Dampak lanjutan juga dirasakan sektor perbankan melalui peningkatan penyaluran kredit pemilikan rumah.

Kualitas aset perbankan dinilai relatif terjaga karena pembelian didorong kebutuhan end-user. Efek berganda mengalir ke sektor konstruksi, bahan bangunan, dan industri pendukung lain, menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Tag:  #ihsg #menantang #gejolak #venezuela #rekor #baru #tercipta #saat #investor #pilih #optimisme

KOMENTAR