Intip Prediksi Sektor-sektor Pasar Saham yang Bakal Bersinar pada 2026
Ilustrasi logo Bursa Efek Indonesia (BEI). (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
14:44
6 Januari 2026

Intip Prediksi Sektor-sektor Pasar Saham yang Bakal Bersinar pada 2026

Pasar saham Indonesia diproyeksikan bergerak menanjak sepanjang 2026. Optimisme menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang menembus level psikologis 10.000.

Rekor tertinggi sepanjang 2025 memunculkan pertanyaan baru. Arah pasar saham 2026 masih bergantung pada saham konglomerasi atau mulai bergeser ke sektor lain.

Vice President Equity Research PT BNI Sekuritas Yulinda Hartanto menilai penggerak pasar tahun depan akan berasal dari rotasi sektor. Fokus bergeser dari saham spekulatif ritel menuju saham berfundamental kuat dan berkapitalisasi besar.

Sektor konsumer menjadi salah satu andalan. Sektor ini mencakup telekomunikasi serta Fast Moving Consumer Goods.

“Sebagai penerima manfaat penurunan suku bunga dan stimulus fiskal,” ujar Yulinda dalam Outlook Pasar Modal Indonesia 2026.

Sektor kesehatan dan bahan bangunan juga diproyeksikan menguat. Keduanya terkait langsung dengan realisasi APBN dan siklus perumahan.

Komoditas tertentu masih menyimpan peluang. Batubara, crude palm oil, dan nikel dinilai berada dekat level dasar harga.

“Seiring harga yang diperkirakan telah mendekati dasar dan permintaan global membaik,” ungkap dia.

BNI Sekuritas mematok target IHSG akhir 2026 pada level 9.100. Target tersebut setara price to earning ratio sekitar 13 kali. Valuasi tersebut berada 0,9 standar deviasi di bawah rerata lima tahun dan dinilai masih wajar dalam fase pemulihan.

Laju IHSG 2026 sangat bergantung pada kebijakan moneter. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga total 125 basis poin sepanjang 2025. Ruang pelonggaran masih terbuka selama stabilitas rupiah terjaga.

Likuiditas sistem juga membaik. Penurunan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia serta relokasi dana pemerintah ke bank BUMN memperkuat likuiditas perbankan dan pasar keuangan.

Dukungan lain datang dari arah fiskal. APBN 2026 diarahkan pro-pertumbuhan dengan target ekonomi 5,4 persen dan defisit sekitar 2,7 persen PDB. Belanja sosial meningkat, termasuk perumahan, energi, pangan, dan infrastruktur.

Sentimen global turut memengaruhi. Stimulus fiskal dan stabilisasi properti China membantu menjaga harga dan volume ekspor komoditas Indonesia.

Risiko tetap ada. Perlambatan global atau stagflasi Amerika Serikat berpotensi memperkuat dollar AS. Eskalasi tarif Amerika Serikat meningkatkan volatilitas global.

Tekanan domestik juga muncul. Implementasi Core Tax System berisiko menekan kepercayaan bisnis dan konsumsi pada fase awal. Ketidakpastian regulasi eksternal, termasuk aturan deforestasi Uni Eropa untuk rantai CPO, masih membayangi.

Sektor teknologi Indonesia memiliki karakter berbeda dibanding pasar global. Prospeknya dinilai masih menarik meski selektif.

Yulinda menjelaskan kekhawatiran gelembung teknologi lebih relevan untuk pasar Amerika Serikat. Konsentrasi saham kecerdasan buatan berkapitalisasi besar menjadi sumber risiko utama.

Sektor teknologi Indonesia memiliki basis likuiditas lebih sempit. Kinerja saham pada 2025 kuat, namun valuasi dan model bisnis lebih terkendali. Risiko gelembung sistemik relatif rendah.

Dalam kondisi global risk-off, saham teknologi lokal cenderung volatil. Tekanan sistemik terhadap pasar dinilai terbatas.

“Kesimpulannya, sektor teknologi Indonesia tetap oportunistik, bukan core allocation, dan sangat bergantung pada seleksi saham serta arus likuiditas domestik,” ungkap dia.

Perhatian investor global masih tertuju pada sektor teknologi. Riset Philip Sekuritas Indonesia mencatat keraguan investor terkait keberlanjutan reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Agenda Consumer Electronics Show di Las Vegas pada 6 Januari 2026 menjadi sorotan. Acara ini menghadirkan CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO AMD Lisa Su. Kecerdasan buatan menjadi tema utama.

Sementara itu, sektor perbankan diproyeksikan memasuki fase pemulihan pada 2026. Penurunan suku bunga menjadi katalis utama perbaikan kinerja.

Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai 2026 berpotensi menjadi fase turnaround bagi saham bank. Tekanan sepanjang 2025 berasal dari tingginya cost of fund yang menekan margin bunga bersih.

“Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru bisa naik karena penurunan CoF biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” ujar Wafi.

Fundamental perbankan diperkirakan beralih dari fase bertahan menuju ekspansi. Permintaan kredit berpeluang meningkat. Kualitas aset membaik. Beban provisi menurun. Laba bersih berpotensi tumbuh lebih kuat.

Wafi menyarankan strategi front-running. Investor dinilai perlu masuk lebih awal sebelum penurunan suku bunga terealisasi.

“Investor bisa mulai akumulasi sekarang ketika valuasi masih diskon. Jangan menunggu BI rate turun, karena pasar biasanya bergerak lebih dulu sebelum berita resmi keluar,” jelasnya.

Target harga saham bank besar pada 2026 versi Wafi mencakup BBRI Rp 5.800, BMRI Rp 7.800, BBCA Rp 11.200, dan BBNI Rp 5.200.

Pandangan serupa disampaikan Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila. Tahun 2026 dinilai menjadi fase pemulihan sektor perbankan.

Perbaikan kredit, likuiditas longgar, dan suku bunga stabil mendukung profitabilitas. Dukungan pemerintah terhadap penyaluran kredit produktif turut menjaga margin bunga.

“Harapannya juga ada dukungan pemerintah dalam penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif. Dengan kondisi tersebut, NIM bank bisa tetap terjaga di tengah pertumbuhan kredit yang moderat hingga agresif,” ujar Indy.

Indy merekomendasikan akumulasi bertahap untuk jangka panjang. Fokus pada saham berfundamental kuat dengan harga masih rendah.

Target jangka panjang versi Indy mencakup BBCA Rp 9.800, BBRI Rp 5.025, dan BMRI Rp 5.200.

Dengan kombinasi pelonggaran moneter, perbaikan fundamental, dan valuasi menarik, sektor perbankan masih menjadi salah satu pilihan utama investor pada 2026.

Tag:  #intip #prediksi #sektor #sektor #pasar #saham #yang #bakal #bersinar #pada #2026

KOMENTAR