AS Serang Venezuela, Bagaimana Nasib Ekspor Otomotif RI?
- Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai ekspor Indonesia ke Venezuela sepanjang 2025 mencapai 66.661.137 atau 66,6 juta dollar Amerika Serikat (AS).
Nilai itu setara dengan Rp 1.117.173.994.983 atau Rp 1,1 triliun dengan kurs Rp 16.760 per dollar 1 dollar AS.
Adapun Venezuela saat ini menjadi sorotan setelah AS menggelar operasi militer dan berujung pada penangkapan presidennya, Nicolas Maduro atas tuduhan kasus penyelundupan narkoba.
Berdasarkan laporan Satu Data Perdagangan Kemendag, jumlah itu meningkat 40,59 persen dibanding tahun 2024 (year to year).
Sementara, nilai impor Indonesia dari Venezuela mencapai 13.999.761 dollar AS atau Rp 234.621.994.599 (Rp 234,6 miliar).
Transaksi ekspor impor itu membuat Indonesia surplus 54.661.376 dollar AS atau Rp 916.070.000.384 (Rp 916 miliar), meningkat 91,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Produk otomotif (HS 87) menjadi komoditas yang paling banyak diekspor dengan nilai mencapai 46.386.740 dollar AS atau Rp 777.395.375.660 (Rp 777,3 miliar).
Nilai ekspor itu meningkat 177,26 persen dibanding tahun sebelumnya di angka 16.730.602 dollar AS.
Komoditas top kedua adalah sabun, bahan aktif permukaan organik, preparat pelumas, preparat pembersih, hingga lilin dan pasta gigi sebesar 11.286.146 dollar AS atau Rp 189.144.520.814.
Ekspor komoditas dengan kode HS 34 ini turun 49,83 persen dibanding tahun sebelumnya.
Berikutnya adalah ekspor serat stapel buatan dengan kode HS 55 senilai 3.827.676 dollar AS atau senilai Rp 64.148.022.084.
Kemudian, ekspor produk kertas dan kertas karton dan barang dari pulp kertas dengan kode HS 48 senilai Rp 2.355.219; pakaian dan aksesori pakaian, barang rajutan atau kaitan sebesar 1.036.366.
Lalu, alas kaki, pelindung kaki, dan sejenisnya senilai 475.203 dollar AS; aneka produk kimia senilai 474.947 dollar AS serta lemak dari minyak hewani, nabati, mikroba, dan produk terkait sebesar 388.925 dollar AS.
Permintaan Diprediksi Melemah
Usai agresi militer dan penangkapan Nicolas Maduro, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memprediksi permintaan impor dari Venezuela akan melemah.
Meski demikian, situasi politik dan keamanan di Venezuela yang tidak stabil dinilai belum sampai membuat ekspor Indonesia ke negara tersebut berhenti sama sekali.
“Karena kan apa gejolaknya mungkin baru baru diprediksi tidak akan lama begitu ya,” kata Tauhid saat dihubungi Kompas.com.
Kendati demikian, menurutnya yang penting diperhatikan adalah inflasi di Venezuela yang pasca penangkapan Maduro.
Inflasi tersebut, kata Tauhid, akan sangat mempengaruhi situasi ekonomi Venezuela.
“Mungkin kalau saya gambarkan ya ada sedikit pelemahan permintaannya gitu ya karena situasi kondisi sosial-politik yang bergejolak biasanya pelemahan permintaannya,” ujar Tauhid.
Diketahui, AS mengerahkan pasukan elite Delta Force untuk menculik Nicolas Maduro dan istrinya, Cillia Flores pada Sabtu (3/1/2026).
Sebelum penculikan itu, AS mengerahkan ratusan jet tempurnya dan menggempur pangkalan militer Venezuela.
Maduro lalu dibawa ke AS dan didakwa atas dugaan kejahatan penyelundupan narkotka.
Namun, Maduro membantah dakwaan tersebut dan menyatakan dirinya masih presiden yang sah.
Sebelumnya ia juga menuding AS ingin menguasai minyak Venezuela yang memiliki cadangan terbesar di dunia.