Mengapa Menabung Kerap Gagal? Ini Penyebab dan Solusinya
Ilustrasi menabung. Tips menabung yang efektif untuk Gen Z agar keuangan tetap aman.(Dok. Shutterstock/iHumnoi)
17:00
1 Januari 2026

Mengapa Menabung Kerap Gagal? Ini Penyebab dan Solusinya

- Setiap awal tahun, niat dan target keuangan sering sama: gaji berikutnya harus “lebih rapi”, tabungan harus mulai jalan, dana darurat harus terbentuk.

Namun beberapa minggu kemudian, rencana itu buyar pelan-pelan, bukan selalu karena kurang disiplin, melainkan karena menabung adalah kompetisi antara biaya hidup, kebiasaan, dan cara otak kita mengambil keputusan harian.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, laporan Bankrate yang dikutip CBS News menunjukkan 59 persen responden pada 2025 tidak punya tabungan cukup untuk menutup pengeluaran darurat 1.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 16,69 juta (asumsi kurs Rp 16.694 per dollar AS).

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Bankrate menyebut kondisi itu sebagai konsekuensi harga yang masih tinggi setelah periode inflasi yang menekan daya beli.

Sementara di Indonesia, tantangannya berbeda tetapi ujungnya serupa, yakni literasi dan kebiasaan finansial belum merata. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan kenaikan indeks literasi keuangan menjadi 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. 

Hasil SNLIK 2025 ini meningkat dibanding SNLIK 2024 yang menunjukkan indeks literasi keuangan 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 persen.

Artinya, akses ke layanan keuangan sudah luas, tetapi pemahaman dan kebiasaan mengelolanya belum selalu sejalan.

Penyebab gagal menabung

Mengapa gagal menabung begitu umum, bahkan pada orang yang merasa penghasilan sudah naik? Ada beberapa penyebab besar yang sering saling menumpuk dan solusinya.

Ilustrasi menabung. Tips investasi gasi pas-pasan. Tips investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung. Tips investasi gasi pas-pasan. Tips investasi.

1. Biaya hidup naik, ruang napas menipis

Gagal menabung sering dimulai dari hal paling keras, yakni uangnya memang tidak tersisa setelah kebutuhan pokok dibayar.

Dalam laporan CBS News, Bankrate menyatakan, tekanan harga, seperti makanan, sewa, kebutuhan harian, membuat rumah tangga sulit menyisihkan dana cadangan.

Masalahnya, tekanan biaya hidup tidak selalu tampak dramatis dalam satu transaksi, tetapi muncul sebagai akumulasi, misalnya langganan kecil, ongkir, biaya layanan, makan di luar, dan tambahan-tambahan yang terasa wajar karena masing-masing tampak murah.

Intinya, ketika biaya tetap (sewa, cicilan, transportasi, atau tagihan) membesar, tabungan kalah prioritas, kecuali tabungan dibuat wajib seperti tagihan.

2. Menabung tanpa tujuan yang jelas

Sebagian orang sebenarnya punya ruang menabung, tetapi gagal karena tujuan menabung terlalu kabur, antara lain biar aman, biar punya tabungan, atau biar tidak boros.

Tujuan yang kabur membuat proses menabung terasa seperti larangan, bukan proyek yang punya makna.

Terapis keuangan Aja Evans menyebut menabung bisa didorong rasa takut dan pola pikir kelangkaan (scarcity mindset).

“Scarcity mindset bisa mendorong seseorang menabung karena rasa ketakutan," kata Evans, dikutip dari Investopedia.

Evans menekankan perlunya sasaran yang jelas. Ia bilang, menabung perlu target yang bisa diukur dan ditutup ketika tercapai, lalu lanjut ke target berikutnya.

Intinya, tanpa target yang spesifik, menabung mudah kalah oleh pengeluaran yang juga punya alasan.

Ilustrasi menabung. Tips hidup hemat agar bisa menabung. Tips agar bisa menabung.pexels.com Ilustrasi menabung. Tips hidup hemat agar bisa menabung. Tips agar bisa menabung.

3. Mengandalkan sisa uang

Kesalahan klasik adalah menabung dari sisa: belanja dulu, bayar ini-itu dulu, kalau ada lebih baru ditabung. Dalam praktiknya, lebih ini sering habis oleh hal-hal kecil dan impulsif.

Michelle Singletary, penulis buku "What to Do With Your Money When Crisis Hits: A Survival Guide" menyarankan kebiasaan paling sederhana, yakni sisihkan sedikit setiap kali gajian untuk ditabung.

Dikutip dari CNN, ia bahkan menekankan nominal kecil pun bisa berarti sebagai bantalan saat darurat.

Sementara itu, influencer keuangan Humphrey Yang mendorong pendekatan serupa lewat reverse budgeting, alias tabungan dijadikan pengeluaran pertama.

"Mulailah dengan menyisihkan untuk tabungan terlebih dahulu," tutur Yang, dikutip dari Nasdaq.

Intinya, menabung yang berhasil biasanya bukan yang besar, tetapi yang dibuat otomatis dan didahulukan.

4. Tidak punya sistem, hanya niat

Niat menabung kuat di awal, tetapi tanpa sistem, kita mengandalkan kemauan (willpower) setiap hari. Masalahnya, kemauan itu cepat terkuras oleh stres kerja, pilihan konsumsi, dan kejutan kecil.

Evansenyebut salah satu solusi praktis yang bisa dilakukan agar sukses menabung, yakni otomatisasi.

"Bagi sebagian orang, itu mungkin berarti mengotomatiskan tabungan Anda sehingga uang tersebut masuk ke rekening secara otomatis, menyembunyikan rekening tabungan Anda di rekening lain yang tidak Anda kaitkan dengan uang yang Anda gunakan sehari-hari, atau mendahulukan menabung untuk diri sendiri," terangnya.

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Intinya, disiplin terbantu ketika keputusan menabung dipindahkan dari tiap hari menjadi “sekali setel”.

5. Tabungan terlalu mudah dijangkau

Banyak orang gagal menabung bukan karena tidak bisa menyisihkan, melainkan karena tabungan kembali kebobolan saat tergoda belanja atau saat ada kebutuhan yang sebenarnya bukan darurat.

Yang menyarankan membuat rekening “vault” agar tabungan sulit diakses impulsif. Ia menyebut konsep vault account dan menggambarkannya seperti peti harta karun yang dikunci dan hanya dibuka untuk situasi kritis.

Intinya, tabungan perlu jarak, baik secara psikologis dan akses, agar tidak jadi dana “serbaguna”.

Solusi dan tips agar sukses menabung demi kesejahteraan finanasial

Berikut strategi yang lebih operasional yang bisa dipakai sebagai kerangka menabung.

1. Ubah definisi tabungan

Pilih nominal yang realistis, lalu perlakukan seperti tagihan wajib yang dipotong di awal. Prinsipnya konsisten dengan reverse budgeting yang dijelaskan Yang.

Praktik cepat:

  • Tentukan angka bulanan (misal 5 sampai 10 persen dulu)
  • Jadwalkan autodebet H+0 atau H+1 setelah gajian.

2. Mulai dari kecil, tapi rutin untuk membangun ritme

Singletary menekankan memulai dari angka kecil demi membentuk bantalan dan kebiasaan.  Ini penting terutama untuk yang baru keluar dari pola “gaji habis”.

Ilustrasi menabung.SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO Ilustrasi menabung.

3. Audit kebocoran 30 hari: cari 3 pos terbesar

Banyak “kebocoran” bukan dari hal mewah, tetapi dari pos besar yang tidak terasa: makan di luar, transportasi, cicilan, dan layanan berulang. Contoh, pengeluaran makan di luar yang membengkak karena sebelumnya tidak dicatat rinci.

Praktik cepat:

  • Catat semua transaksi 30 hari (bisa secara manual atau aplikasi).
  • Tandai 3 pos terbesar.
  • Targetkan pemangkasan 5 sampai 10 persen dari pos besar itu (lebih efektif daripada memangkas pos kecil).

4. Pisahkan rekening: harian vs tabungan vs darurat

Jika tabungan bercampur dengan rekening belanja, tabungan mudah dianggap saldo yang boleh dipakai.

Buat rekening terpisah yang sengaja dibuat sulit dijangkau dan hanya digunakan saat ada kondisi darurat.

5. Buat target yang spesifik dan bernilai personal

Evans menekankan menabung perlu tujuan yang jelas dan selaras nilai hidup. Target menabung yang baik berarti ada angka, ada tanggal, ada alasan.

Contoh:

  • Dana darurat Rp 15 juta dalam 10 bulan.
  • Uang muka rumah Rp 60 juta dalam 24 bulan.
  • Dana pendidikan Rp 500.000 per bulan selama 3 tahun.

Tag:  #mengapa #menabung #kerap #gagal #penyebab #solusinya

KOMENTAR