2026: Saham Blue Chip RI Bangkit, Obligasi Tak Lagi Bergantung Asing
Ilustrasi saham.(SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO)
12:44
31 Desember 2025

2026: Saham Blue Chip RI Bangkit, Obligasi Tak Lagi Bergantung Asing

- Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan dunia, optimisme pasar keuangan Tanah Air justru menguat.

PT Simpan Asset Management menilai tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi pasar keuangan Indonesia, ditandai dengan kebangkitan saham-saham blue chip serta ketangguhan pasar obligasi yang semakin mandiri dari ketergantungan investor asing.

Pandangan tersebut tertuang dalam laporan strategis Simpan Macro Outlook 2026 yang dirilis Tim Investasi Simpan Asset Management pada Selasa (30/12/2025). Laporan ini disusun sebagai panduan bagi investor untuk membaca arah ekonomi dan pasar keuangan sepanjang 2026, sekaligus menavigasi peluang dan risiko di tengah dinamika global yang terus berubah.

Simpan mengambil sikap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan pasar saham, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar, sementara untuk pasar obligasi dipandang relatif stabil dengan kekuatan utama berasal dari investor dalam negeri.

Brand Manager Simpan Asset Management, Jesika Rumenda, menyampaikan lembaganya melihat fondasi ekonomi Indonesia tetap solid meski dunia dihadapkan pada ketegangan geopolitik, perubahan arah kebijakan moneter global, serta volatilitas pasar keuangan internasional.

Optimisme tersebut berangkat dari kinerja ekonomi Indonesia yang dinilai tetap terjaga sepanjang 2025, dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berada di atas 5 persen.

Struktur ekonomi nasional masih ditopang oleh tingkat penetrasi industri yang relatif rendah, peluang peningkatan produktivitas, serta profil demografi yang menguntungkan.

Memasuki 2026, Simpan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5,1 persen secara tahunan, seiring kebijakan fiskal dan moneter yang cenderung lebih akomodatif.

Di sisi fiskal, berbagai inisiatif strategis pemerintah untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang diperkirakan mulai menunjukkan dampak bertahap.

Meski tidak memberikan efek instan, kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah hingga panjang, sekaligus menjaga kepercayaan pelaku pasar.

“Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,1 persen YoY, seiring kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif. Inisiatif strategis seperti Danantara diperkirakan menjadi katalis penting bagi pertumbuhan jangka panjang, meskipun dampaknya akan terealisasi secara bertahap,” ujar Jesika Rumenda lewat keterangan pers.

Salah satu sorotan utama dalam laporan tersebut adalah perubahan struktur pasar obligasi Indonesia.

Sepanjang 2025, kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara (SBN) tercatat turun hingga sekitar 14 persen dari total outstanding.

Namun kondisi tersebut tidak diikuti dengan gejolak signifikan di pasar.

Pergerakan imbal hasil obligasi tetap relatif stabil dan bahkan sempat menurun pada periode tertentu.

Menurutnya, fenomena ini menandai pergeseran struktural yang penting.

Ketahanan pasar obligasi Indonesia kini semakin bertumpu pada basis investor domestik yang kian solid, bukan semata-mata bergantung pada arus dana asing.

Dengan fondasi tersebut, pasar obligasi diperkirakan tetap resilien pada 2026, meskipun terdapat potensi kenaikan imbal hasil tenor menengah hingga panjang.

Kenaikan tersebut dapat dipicu oleh agenda pertumbuhan pemerintah, pelebaran defisit fiskal, serta potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dari pasar saham, Simpan melihat peluang perubahan tren yang cukup signifikan.

Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor tertinggi baru, terutama didorong oleh kinerja saham-saham momentum.

Di sisi lain, saham-saham blue chip justru relatif tertinggal akibat minimnya arus dana asing.

Memasuki 2026, kondisi tersebut dinilai mulai berubah.

Valuasi saham blue chip saat ini berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sementara tanda-tanda pemulihan siklus laba mulai terlihat.

Ditambah dengan kondisi likuiditas global yang berpotensi membaik, Simpan mencatat peluang terjadinya rotasi investasi kembali ke saham-saham berfundamental kuat semakin terbuka.

“Dengan valuasi saham blue-chip yang berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, pemulihan siklus laba yang mulai terlihat, serta kondisi likuiditas global yang semakin kondusif, tahun 2026 membuka peluang terjadinya pembalikan arus dana kembali ke saham-saham blue-chip Indonesia,” paparnya.

Dari perspektif global, ketahanan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih berlanjut hingga 2026.

Volatilitas yang sempat muncul akibat ketegangan perdagangan dan kebijakan tarif pada awal 2025 perlahan mereda, tecermin dari indeks-indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite yang kembali mencetak level tertinggi.

Kinerja pasar global banyak ditopang oleh sektor teknologi, terutama tema kecerdasan buatan (IA) yang masih menjadi motor utama pertumbuhan.

Meski demikian, Jesika mengingatkan valuasi pasar saham global yang sudah relatif tinggi membuat pasar menjadi lebih rentan terhadap kejutan negatif.

Dengan demikian, volatilitas diperkirakan tetap ada, sementara potensi imbal hasil pada 2026 cenderung lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Laporan tersebut juga menyoroti berakhirnya era yen carry trade sebagai salah satu faktor risiko global.

Perubahan struktural dalam perekonomian Jepang dinilai mulai mengikis peran yen sebagai mata uang pendanaan murah global.

Seiring melemahnya dominasi yen, pasar keuangan global diperkirakan akan beralih ke sumber pendanaan alternatif dengan biaya yang lebih tinggi, yang berpotensi memperketat leverage serta meningkatkan risiko guncangan suku bunga dan nilai tukar.

Dengan berbagai dinamika tersebut, Simpan Asset Management menekankan pentingnya strategi investasi yang disiplin, terukur, dan berfokus pada kualitas fundamental aset.

Tag:  #2026 #saham #blue #chip #bangkit #obligasi #lagi #bergantung #asing

KOMENTAR