Emas Jadi Primadona 2025, Harga Naik Sepanjang Tahun
Ilustrasi emas, emas batangan.(FREEPIK/RAWPIXEL.COM)
15:44
28 Desember 2025

Emas Jadi Primadona 2025, Harga Naik Sepanjang Tahun

Harga emas menutup 2025 dengan catatan reli yang jarang terjadi. Di pasar global, logam mulia itu menembus rekor demi rekor hingga mendekati akhir tahun.

Harga emas naik ditopang kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan pergeseran perilaku investor.

Di Indonesia, tren global itu diterjemahkan menjadi kenaikan harga emas ritel, terutama emas Antam, yang makin terasa karena efek kurs rupiah dan preferensi masyarakat terhadap aset “safe haven”.

Harga Antam hari ini.ANTARA FOTO/Putra M. Akbar Harga Antam hari ini.

Di Butik Logam Mulia, harga emas Antam 1 gram pada Minggu (28/12/2025) tercatat Rp 2.605.000 per gram.

Sementara itu, data historis menunjukkan pada 23 Desember 2024 harga emas Antam masih sekitar Rp 1,53 juta per gram, sebelum kemudian melaju naik sepanjang 2025 dan sempat berada di Rp 2,56 juta per gram pada 23 Desember 2025.

Lonjakan itu bukan terjadi karena satu pemicu tunggal.

Sepanjang 2025, harga emas bergerak mengikuti tarikan beberapa tema besar, yakni arah suku bunga bank sentral global, melemahnya dollar AS pada periode tertentu, permintaan lindung nilai di tengah tensi geopolitik dan perdagangan, pembelian bank sentral, hingga arus dana investasi, terutama melalui ETF emas.

Penyebab harga emas naik sepanjang tahun 2025

Berikut beberapa penyebab harga emas naik sepanjang tahun 2025. 

1. Arah kebijakan suku bunga: “biaya peluang” memegang emas makin kecil

Emas tidak memberikan kupon atau bunga. Karena itu, daya tariknya biasanya menguat ketika pasar melihat suku bunga akan turun atau imbal hasil aset berbunga kurang menarik. Tema ini menjadi salah satu pendorong dominan harga emas naik pada 2025.

Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia pada Kamis (18/12/2025) menguat dan bergerak mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela.DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia pada Kamis (18/12/2025) menguat dan bergerak mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela.

Reuters mencatat, harga emas melonjak lebih dari 70 persen sepanjang tahun dan reli itu dipicu campuran permintaan tehafap aset safe haven, taruhan pemangkasan suku bunga AS, pembelian emas oleh bank sentral, tren dedolarisasi, dan pembelian ETF.

Pada 22 Desember 2025 lalu, harga emas dunia menyentuh rekor 4.383,73 dollar AS per ons, didorong oleh harapan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed, ditambah daya tarik safe haven. 

Dalam konteks domestik, narasi serupa muncul dari pelaku pasar.

Dikutip dari Kontan, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai lonjakan harga emas Antam dipicu faktor global, termasuk ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.

Ia menyebut pasar kian yakin Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada 2026 seiring melemahnya data tenaga kerja dan melandainya inflasi AS, yang membuat emas semakin menarik dibandingkan aset berbunga.

Implikasinya sederhana. Ketika proyeksi suku bunga turun, imbal hasil riil cenderung melemah, dan investor lebih bersedia “membayar” untuk aset yang dianggap pelindung nilai.

2. Geopolitik dan ketidakpastian global: fungsi “asuransi” kembali menonjol

Sepanjang 2025, beberapa periode penguatan harga emas juga ditandai meningkatnya ketidakpastian global, baik terkait konflik geopolitik maupun tensi perdagangan.

Dalam kerangka ini, emas kembali diperlakukan sebagai “asuransi portofolio”.

Salah satu pemicu lonjakan harga emas adalah  ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi penurunan suku bunga AS, serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia. 

Dilansir Kontan, Phillip Streible dari Blue Line Futures  menyebut dukungan struktural berasal dari pembelian stabil bank sentral, arus masuk kuat ke ETF emas, ketegangan dagang AS-China, dan prospek penurunan suku bunga AS. 

Ilustrasi emas.  Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam MuliaDOK. Pexels/Michael Steinberg. Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia

Ketika risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan meningkat, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan menambah porsi lindung nilai.

Di sinilah permintaan emas bisa melonjak dalam waktu relatif singkat.

3. Pembelian bank sentral: permintaan struktural yang mengunci tren

Selain investor ritel dan institusi, bank sentral menjadi pilar penting permintaan emas beberapa tahun terakhir dan berlanjut di 2025.

World Gold Council (WGC) mencatat, pada kuartal III 2025, pembelian emas oleh bank sentral berada di level 220 ton, naik 28 persen dibandingkan pada kuartal sebelumnya, meski akumulasi secara year-to-date lebih lambat dibanding tahun lalu.

WGC juga melaporkan, pada Oktober 2025, bank sentral membukukan pembelian bersih sebesar 53 ton, level tertinggi secara bulanan sepanjang tahun hingga saat itu, dengan pembelian terkonsentrasi pada beberapa bank sentral.

Dari perspektif pasar, pembelian bank sentral dipandang sebagai permintaan yang lebih “kaku” (tidak mudah berbalik hanya karena harga naik), karena terkait strategi cadangan devisa dan diversifikasi aset.

Permintaan seperti ini sering disebut “struktural”, menambah tekanan beli yang bertahan lebih lama ketimbang arus spekulatif.

4. ETF, bar-koin, dan arus investasi: ketika permintaan finansial mendominasi

Kenaikan harga emas pada 2025 juga tidak bisa dilepaskan dari arus investasi finansial.

WGC mencatat pada kuartal III 2025 terjadi pembelian ETF yang besar, yakni lebih dari 222 ton, disertai permintaan bar dan koin sebanyak 316 ton.

Reuters melaporkan arus masuk ke ETF emas berbasis fisik mencapai 64 miliar dollar AS secara year-to-date per Oktober 2025, dan bahkan 17,3 milia dollar AS masuk pada September 2025 saja.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Selain itu, permintaan emas global naik menjadi 1.313 ton pada kuartal III 2025, disebut sebagai total kuartalan tertinggi, didorong lonjakan permintaan investasi. 

Arus dana seperti ini penting karena memperkuat reli lewat dua jalur sekaligus, yakni pertama, menciptakan permintaan pembelian fisik untuk backing produk ETF tertentu, dan kedua, memperlebar partisipasi investor, yang pada periode volatilitas dapat mempercepat kenaikan.

5. Dollar AS dan pergerakan kurs: efek ganda ke harga domestik

Harga emas dunia umumnya dikutip dalam dollar AS. Ketika dollar AS melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain dan permintaan bisa menguat.

Sebaliknya, dollar AS  yang menguat dapat menjadi penahan harga emas.

Di Indonesia, faktor kurs memberi lapisan tambahan. Ketika rupiah melemah terhadap dollar AS, maka harga emas ritel dalam rupiah bisa naik lebih cepat atau turun lebih lambat dibanding pergerakan global.

Artinya, investor domestik sering mengalami efek ganda, yakni kenaikan harga emas dunia ditambah efek kurs, atau setidaknya salah satu dari keduanya.

Inilah mengapa reli harga emas 2025 terasa lebih nyata di tingkat ritel. Pada hari ini saja, harga emas Antam 1 gram di Butik Logam Mulia bertahan di Rp 2.605.000.

Di sisi lain, data historis menunjukkan harga emas Antam yang sekitar Rp 1,53 juta per gram pada 23 Desember 2024 sempat naik menjadi Rp 2,56 juta pada 23 Desember 2025, atau naik sekitar 67 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

6. Faktor domestik: transmisi pasar global ke emas Antam, Pegadaian, dan perilaku ritel

Di pasar Indonesia, harga emas Antam dipengaruhi oleh harga emas global dan kurs, lalu diterjemahkan ke harga jual dan buyback ritel.

Namun, perilaku permintaan domestik juga berperan dalam dinamika harian.

Ilustrasi emas batangan Galeri 24 Pegadaian. Simak update harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 hari ini.SHUTTERSTOCK/VIN CENTIUS Ilustrasi emas batangan Galeri 24 Pegadaian. Simak update harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 hari ini.

Ketika harga bergerak terlalu cepat, sebagian pembeli menunggu koreksi. Ketika volatilitas meningkat, sebagian lain justru masuk karena motif lindung nilai.

Kontan menekankan bahwa ke depan, sentimen pendukung pergerakan emas berasal dari siklus pelonggaran suku bunga global serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang belum mereda, ditambah permintaan struktural bank sentral dan risiko inflasi jangka panjang. 

Bagi investor ritel, kombinasi faktor-faktor tersebut tercermin pada pola 2025.

Saat harga emas dunia menembus rekor, harga emas ritel domestik ikut menanjak. Ketika kurs bergerak tidak bersahabat, penyesuaian di rupiah bisa lebih tajam.

7. Menjelang penutupan tahun: rekor global menegaskan arah tren

Menjelang akhir Desember 2025, reli harga emas kembali menguat. Reuters melaporkan pada 26 Desember 2025 harga emas menyentuh rekor intraday 4.530,60 dollar AS  per ons dan harga emas spot berada sekitar 4.501,44 dollar AS per ons.

Kenaikan harga emas ditopang permintaan safe haven dan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.

Tag:  #emas #jadi #primadona #2025 #harga #naik #sepanjang #tahun

KOMENTAR