Pupuk Bersubsidi Bangkitkan Semangat Petani Milenial di Lampung, Swasembada Pangan Bukan Sekadar Jargon
Zahrun Abidin Latif, 30 tahun, petani milenial di Lampung Timur, yang merasakan manfaat penurunan harga pupuk bersubsidi. (Dimas Choirul/JawaPos.com)
15:27
28 Desember 2025

Pupuk Bersubsidi Bangkitkan Semangat Petani Milenial di Lampung, Swasembada Pangan Bukan Sekadar Jargon

– Embun masih menggantung di ujung daun ketika matahari pagi mulai naik perlahan di Dusun V Rejo Mukti, Desa Ratna Daya, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur.

Di sela bedengan tanah yang lembap, Zahrun Abidin Latif, 30 tahun, menjejakkan kaki tanpa alas. Tangannya dengan cekatan merapikan tanaman, sesekali menengok jagung yang tumbuh seragam tak jauh dari ladang sayurannya.

Bagi Abidin, demikian ia biasa disapa, pagi bukan sekadar waktu memulai hari. Ini adalah waktu yang tepat untuk berdialog dengan tanaman sekaligus memikirkan masa depan swasembada pangan.

"Orang kota mau makan apa jikalau petani di desa sudah tidak produksi bahan pokok ataupun sayuran?" ungkapnya kepada Jawapos.com, Kamis (18/12).

Abidin telah mengenal dunia pertanian sejak belia. Itu berkat jasa orang tuanya yang berprofesi sebagai petani.

Sejak dini, pria 30 tahun itu sudah diajarkan mengenai apa yang semestinya ditanam dan bagaimana memperlakukan lahan.

Namun, seperti anak petani lainnya, bagi Abidin dulu sawah hanyalah tempat bermain: menghabiskan waktu berlari- larian bersama teman, memancing belut, menerbangkan layangan hingga azan maghrib tiba.

Seiring berjalan waktu, keputusan Abidin untuk menanam sendiri baru Ia ambil saat awal pandemi Covid-19. Atau sekitar setahun lebih setelah ia lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 2018 lalu.

“Untuk terjun ke ladang (sawah) dan mencoba menanam sendiri khusus palawija (sayur-sayuran) itu mulainya 2019/2020 ketika covid," ujarnya.

Abidin mengelola sekitar tiga perempat hektare lahan milik ayahnya. Lahan itu tak pernah ia biarkan kosong.

Ia membaginya dalam tiga area tanam. Seperempat hektare ditanami pisang dan alpukat, seperempat lainnya jagung, dan sisanya aneka sayuran—terong, cabai, hingga kacang panjang.

“Kalau menanam padi waktu sebelum penghujan. Setelah bulan penghujan ya jagung sama sayuran," tambah pria yang juga hobi naik gunung itu.

Di balik rutinitas paginya, Abidin menyimpan ingatan tentang masa-masa sulit bertani. Tantangan terbesarnya dulu bukan hanya cuaca, melainkan pupuk dan harga. Tapi, itu semua sudah berlalu.

Jika dulu hanya dengan membeli pupuk bisa menggerogoti isi dompetnya, saat ini Ia tersenyum lega. Karena pemerintah secara resmi telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk hingga 20 persen.

Selain soal pupuk, Ia juga merasakan betul bahwa saat ini hasil panen dihargai cukup tinggi sehingga petani tidak rugi.

“Tidak seperti sebelumnya, harga jagung di Rp 2.000 per kilogram. Terus di harga padi (gabah), padi dulu cuma Rp 3.000–Rp 4.000 per kilogram. sekarang Alhamdulillahnya udah di harga Rp 5.000-7.000 per kilogram," ungkapnya.

Bagi Abidin, bertani bukan hanya sekadar untuk bertahan hidup. Namun, ada tanggung jawab menjaga pasokan pangan negara. "Ya kita namanya petani di desa juga menjadi penyokong pangan orang-orang di kota," ungkapnya.

Di Provinsi Lampung, Pemerintah melalui PT Pupuk Indonesia mengalokasikan 118.041 ton pupuk bersubsidi pada 2025.

Hingga 11 November 2025, sebanyak 66 persen atau 78.018 ton telah ditebus petani. Salah satunya telah menghidupi ladang Abidin.

Ia mengaku mendapat akses pupuk dengan mudah di sebuah kios di desanya. "Kita biasa ngambil di situ dari dulu, soalnya lebih dekat," ujarnya.

Meski harga pupuk saat ini lebih terjangkau, Abidin menilai pendampingan pemerintah terkait pertanian masih minim di desanya.

Selain itu, harga pestisida atau insektisida (bahan kimia pembasmi hama atau serangga) juga menurut dia masih mahal. Ia berharap pemerintah memerhatikan lagi hal tersebut.

Upaya Swasembada Pangan

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampak serius mengurusi soal pangan.

Hal itu terlihat dari visi mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan yang masuk dalam poin asta cita.

Salah satu gebrakan yang dibuat adalah memastikan ketersediaan pupuk dengan harga yang lebih terjangkau untuk petani. Dengan menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk hingga 20 persen.

Penurunan harga ini sesuai Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 tanggal 22 Oktober 2025, tentang Perubahan atas kepmentan Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 tentang Jenis, Harga Eceran Tertinggi dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2025.

Penurunan harga ini meliputi seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani. Yaitu urea dari Rp 2.250 menjadi Rp 1.800 per kg; NPK dari Rp 2.300 menjadi Rp 1.840 per kg; NPK kakao dari Rp 3.300 menjadi Rp 2.640 per kg; ZA khusus tebu dari Rp 1.700 menjadi Rp 1.360 per kg; dan pupuk organik dari Rp 800 menjadi Rp 640 per kg.

Kebijakan ini langsung dirasakan oleh lebih dari 155 juta penerima manfaat yang terdiri dari petani dan keluarganya di seluruh Indonesia.

“Ini adalah terobosan Bapak Presiden, tonggak sejarah revitalisasi sektor pupuk. Bapak Presiden Prabowo memerintahkan agar pupuk harus sampai ke petani dengan harga terjangkau. Tidak boleh ada keterlambatan, tidak boleh ada kebocoran,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di Jakarta, Jumat (26/12).

“Kami langsung menindaklanjuti dengan langkah konkret: merevitalisasi industri, memangkas rantai distribusi, dan menurunkan harga 20 persen tanpa menambah subsidi APBN,” lanjutnya.

Upaya penegakan hukum yang tegas bagi pihak yang menyalahgunakan pupuk bersubsidi juga diberlakukan, termasuk korporasi besar yang menggunakan pupuk subsidi secara tidak sah.

Bagi yang terbukti melanggar, akan dikenakan sanksi pencabutan izin usaha serta proses hukum pidana sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara dan denda hingga Rp 5 miliar.

Dalam jangka panjang, pemerintah akan membangun tujuh pabrik pupuk baru untuk memperkuat kemandirian industri pupuk nasional.

Lima di antaranya ditargetkan selesai paling lambat pada tahun 2029. Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, biaya produksi dapat ditekan lebih dari seperempat dan ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi secara signifikan.

Gerak Cepat Pupuk Indonesia

Sebagai pihak yang menjalankan amanah penyaluran pupuk bersubsidi dari Pemerintah, Pupuk Indonesia Group bergerak cepat memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi ke seluruh pelosok negeri, baik melalui angkutan darat maupun laut.

Pada musim tanam Oktober–Maret (Okmar) sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian nasional, Pupuk Indonesia menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 1.200.679 ton, atau sekitar 259 persen dari batas minimum yang ditetapkan pemerintah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pupuk Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sekaligus memastikan kebutuhan pupuk petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dapat terpenuhi secara tepat waktu.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, Pupuk merupakan salah satu instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.

“Pupuk Indonesia hadir untuk memenuhi kebutuhan petani dengan menyiapkan stok sesuai regulasi, dan menjalankan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi sesuai aturan baru yang banyak memberikan kemudahan bagi petani dalam penebusan,” ungkapnya, dikutip Jumat (26/12).

Rahmad menjelaskan, penyaluran pupuk bersubsidi dilaksanakan sesuai dengan tata kelola baru sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi serta Permentan Nomor 15 Tahun 2025 sebagai peraturan pelaksanaannya.

Melalui regulasi tersebut, pendistribusian pupuk bersubsidi dipastikan berjalan sesuai prinsip 7T, yakni Tepat Jenis, Jumlah, Harga, Tempat, Waktu, Mutu, dan Penerima.

Untuk mendukung kelancaran implementasi HET terbaru, Pupuk Indonesia berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna memastikan kebijakan ini terlaksana sesuai aturan.

Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi kepada seluruh rantai distribusi, utamanya pada titik serah juga segera dilaksanakan secara menyeluruh agar implementasi di lapangan dapat berjalan dengan optimal.

Sosialisasi juga dilakukan kepada seluruh anak perusahaan melalui kegiatan Rembuk Tani. Program ini menjadi ruang dialog dan edukasi bagi petani untuk memahami keterjangkauan harga pupuk subsidi, serta inovasi berkelanjutan melalui program pendampingan dan penerapan teknologi digital untuk produktivitas pertanian.

Transformasi Tata Kelola Digital

Di samping sosialisasi, Pupuk Indonesia juga menjalankan transformasi digital di semua lini bisnis perusahaan.

Tidak hanya menjadikan prosesnya lebih efektif dan efisien, tapi juga mampu memberikan nilai tambah, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Transformasi digital yang digunakan yakni melalui platform iPubers, yang telah terintegrasi dengan database e-Alokasi Kementerian Pertanian (Kementan) serta data stok Pupuk Indonesia Grup yang dapat diakses secara real-time.

Sejak beroperasi pada Januari 2024, sistem ini telah memproses sekitar 44 juta transaksi, dengan rata-rata 2,5 juta transaksi setiap bulan.

Tak hanya itu, Pupuk Indonesia juga mengoperasikan Command Center Distribusi yang berfungsi untuk memantau penyaluran produk secara presisi dan real-time.

Kehadiran Command Center Distribusi membuat proses pengiriman menjadi lebih efisien dan tepat waktu, sekaligus berdampak pada meningkatnya kepuasan pelanggan.

Command Center Distribusi ini juga dilengkapi dengan sistem optimasi dan simulasi yang mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan persediaan.

Fitur lainnya mencakup pemilihan moda distribusi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta pemanfaatan data analytics.

Di tingkat petani, Pupuk Indonesia mengembangkan iFarms—sebuah platform digital yang digunakan untuk pendataan petani dan lahan, pemberian rekomendasi pemupukan, hingga integrasi berbagai layanan off-farm.

Selain itu, perusahaan juga menghadirkan Petro Spring—layanan teknologi pemupukan berbasis drone yang dirancang untuk mendukung penerapan smart farming.

“Transformasi digital yang dijalankan Pupuk Indonesia mampu memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi perusahaan, tapi juga untuk stakeholder dan pertanian di Indonesia” ujar Senior Vice President (SVP) Strategi Pemasaran Pupuk Indonesia, Junianto Simaremaren.

Di sektor operasional dan logistik, transformasi digital mampu meraih supply chain excellence, sementara di sektor services dapat memberikan berbagai dukungan bagi petani. Selain itu optimalisasi teknologi juga bisa menciptakan ekonomi berkelanjutan.

Dengan berbagai inovasi digital yang terus dikembangkan, Pupuk Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola distribusi pupuk, meningkatkan layanan kepada petani, serta mendukung terwujudnya pertanian nasional yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Matahari perlahan mulai tenggelam. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.55 WIB. Waktu bagi Abidin beranjak dari ladang.

Dengan baju yang sedikit kusam dan langkah kaki telanjang di atas pematang sawah, Ia menyimpan sebuah harapan: selama pupuk masih terjangkau dan ladang tetap digarap, swasembada pangan nasional bukan sekadar jargon, tapi dapat diwujudkan dari kerja-kerja kecil petani desa sepertinya.

 

 

 

Editor: Bayu Putra

Tag:  #pupuk #bersubsidi #bangkitkan #semangat #petani #milenial #lampung #swasembada #pangan #bukan #sekadar #jargon

KOMENTAR