Harga Perak Melonjak di 2025, Investor Cermati Arah 2026
- Seperti emas, harga perak mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025 dan menarik perhatian investor, baik yang telah lama berkecimpung di pasar logam mulia maupun investor pemula yang mencari alternatif investasi di tengah volatilitas pasar ekuitas global.
Meski harga perak tidak menyentuh level ribuan dollar AS per ons seperti emas, kenaikan persentasenya dinilai luar biasa.
Perak mengawali 2025 di kisaran 30 dollar AS per ons dan melonjak hingga sekitar 70 dollar AS per ons troy pada akhir Desember 2025. Dengan demikian, nilainya meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun.
Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak melonjak 143 persen dalam setahun dan melampaui kenaikan emas. Lonjakan ini dipicu faktor investasi hingga kebutuhan industri.
Kenaikan tajam tersebut tidak semata-mata didorong oleh sentimen investor. Tekanan inflasi, kendala pasokan, ketidakpastian geopolitik, serta meningkatnya permintaan industri turut berkontribusi terhadap lonjakan harga perak.
Di sisi lain, pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir 2025 juga memperkuat minat investor terhadap aset berharga, termasuk perak.
Dengan posisi harga yang kini mendekati level tertinggi sepanjang sejarah, muncul pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah harga perak masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan atau justru berpotensi mengalami koreksi pada 2026.
Untuk menjawab hal tersebut, sejumlah analis dan pelaku industri logam mulia memberikan pandangan mereka mengenai faktor yang berpotensi mendorong kenaikan, penurunan, maupun stabilitas harga perak pada tahun depan.
Faktor yang berpotensi mendongkrak harga perak 2026
Tekanan inflasi dinilai masih menjadi salah satu pendorong utama harga perak.
Peter Reagan, ahli strategi pasar keuangan di Birch Gold Group, menyebutkan bahwa inflasi yang tinggi atau kembali meningkat umumnya akan mendorong kenaikan harga logam mulia.
Ilustrasi perak, investasi perak.
“Inflasi memang sempat mendingin, tetapi tingkat inflasi saat ini masih berada di atas target 2 persen, sehingga ketidakpastian inflasi masih membayangi saat kita memasuki 2026,” ujar Reagan, dikutip dari CBS News, Minggu (28/12/2025).
Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada perencanaan keuangan masyarakat, termasuk dana pensiun.
“Tekanan inflasi kemungkinan akan terus meningkat, sehingga semakin sulit bagi masyarakat untuk merencanakan pensiun,” kata Reagan.
“Khusus untuk perak, meskipun tidak ada yang dijamin, meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kita dapat melihat harga yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih kuat di tahun baru," imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Joshua D Glawson, manajer konten di Money Metals Exchange. Ia menilai permintaan terhadap instrumen investasi berbasis perak, seperti exchange traded fund (ETF) logam mulia, masih akan menjadi faktor pengerek harga.
“ETF menciptakan lebih banyak ‘permintaan’ dibandingkan jumlah logam fisik yang benar-benar tersedia di atas tanah. Bahkan, beberapa pemerintah kini turut mempromosikan ETF perak, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga perak berjangka dan harga spot,” ungkap Glawson.
Menurut dia, meski tidak ada yang bisa memprediksi masa depan secara pasti, tren tersebut membuka peluang bagi harga perak untuk melanjutkan penguatan pada 2026.
Kondisi yang dapat menekan harga perak pada 2026
Di sisi lain, sejumlah faktor juga berpotensi menekan harga perak. Salah satunya adalah kemungkinan perubahan kebijakan moneter.
Jika bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada 2026, minat investor terhadap perak dapat berkurang.
Lingkungan suku bunga tinggi cenderung meningkatkan imbal hasil instrumen investasi lain, seperti deposito dan rekening tabungan berbunga tinggi.
Gedung bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Dalam kondisi tersebut, sebagian investor dinilai lebih memilih instrumen yang menawarkan likuiditas dan kepastian imbal hasil dibandingkan perak yang relatif fluktuatif.
Henry Yoshida, CEO dan salah satu pendiri Rocket Dollar, menilai pelemahan ekonomi Amerika Serikat serta perlambatan manufaktur global juga dapat membebani harga perak.
“Perlambatan ekonomi AS dan melemahnya aktivitas manufaktur global berpotensi menekan permintaan industri terhadap perak,” tutur Yoshida.
Ia menambahkan, kebijakan tarif yang membatasi impor juga dapat mendorong kenaikan harga barang dan menekan konsumsi.
“Investor perlu mencermati tiga metrik utama yang memengaruhi harga perak, yaitu suku bunga riil, aktivitas manufaktur global, dan laju ekspansi energi terbarukan,” kata Yoshida.
“Jika inflasi mereda dan suku bunga bertahan tinggi terlalu lama, harga perak berpotensi tertingga," imbuh dia.
Skenario stabilitas harga perak pada 2026
Selain skenario kenaikan atau penurunan, para ahli juga melihat peluang harga perak bergerak stabil pada 2026.
Kondisi ini dinilai dapat terjadi apabila terdapat keseimbangan antara kebijakan suku bunga The Fed yang relatif stabil dan perlambatan moderat pada permintaan industri.
“Jika permintaan industri melambat dan imbal hasil riil kembali naik, perak dapat bergerak stabil atau turun dari level harga saat ini,” terang Yoshida.
Dalam pandangan para pelaku industri logam mulia, prospek harga perak pada 2026 masih sangat dipengaruhi oleh dinamika inflasi, kebijakan moneter, serta kondisi ekonomi global. Yoshida juga menekankan pentingnya perspektif jangka panjang bagi investor.
“Jika Anda seorang investor jangka panjang, perak sebaiknya dipandang sebagai instrumen diversifikasi portofolio, bukan sebagai taruhan arah jangka pendek,” jelas Yoshida.
Tag: #harga #perak #melonjak #2025 #investor #cermati #arah #2026