China Sanksi Boeing Cs setelah AS Jual Senjata ke Taiwan
– Pemerintah China menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan pertahanan Amerika Serikat (AS), termasuk Boeing, setelah Presiden Donald Trump menyetujui penjualan senjata AS ke Taiwan.
Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (26/12/2025) menyatakan, sanksi tersebut dikenakan terhadap 10 individu dan 20 perusahaan AS. Salah satu yang terdampak adalah pusat produksi Boeing di St Louis, Missouri.
Langkah tersebut mencakup pembekuan aset perusahaan dan individu yang berada di wilayah China. Selain itu, organisasi dan individu di dalam negeri China dilarang melakukan bisnis dengan pihak-pihak yang masuk daftar sanksi.
Dikutip dari Guardian, Minggu (28/12/2025), sanksi itu diumumkan setelah pemerintah AS pekan lalu menyetujui paket penjualan senjata ke Taiwan dengan nilai lebih dari 10 miliar dollar AS.
Paket tersebut mencakup rudal jarak menengah dan drone, serta menjadi penjualan senjata terbesar dalam sejarah hubungan bilateral AS-Taiwan.
China menegaskan posisinya bahwa Taiwan harus bersatu dengan Republik Rakyat China, sebuah pandangan yang ditolak oleh pemerintah Taipei yang dipilih secara demokratis.
Isu Taiwan selama ini menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan China-AS, di tengah ketegangan lain terkait perdagangan dan tarif.
Kementerian Luar Negeri China juga menyebutkan bahwa individu yang masuk daftar sanksi, termasuk pendiri perusahaan pertahanan Anduril Industries dan sembilan eksekutif senior dari perusahaan terkait, dilarang memasuki wilayah China.
Selain Boeing, perusahaan lain yang turut dikenai sanksi antara lain Northrop Grumman Systems Corporation dan L3Harris Maritime Services.
Boeing sendiri memproduksi pesawat tempur di St Louis, lokasi yang tahun ini sempat mengalami aksi mogok lebih dari 3.000 pekerja serikat buruh terkait isu upah.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa isu Taiwan merupakan inti dari kepentingan utama China dan menjadi garis merah dalam hubungan China-AS.
“Setiap tindakan provokatif yang melampaui batas terkait isu Taiwan akan dihadapi dengan respons tegas dari China,” kata juru bicara tersebut.
China juga mendesak AS untuk menghentikan upaya yang disebutnya berbahaya dalam mempersenjatai Taiwan.
Di sisi lain, AS terikat oleh undang-undang untuk menyediakan sarana pertahanan bagi Taiwan. Namun, penjualan senjata tersebut selama ini menjadi sumber gesekan yang berulang dengan China.
Delapan perjanjian dalam paket penjualan senjata tersebut mencakup 420 Army Tactical Missile Systems (Atacms). Sistem ini serupa dengan persenjataan yang dikirimkan AS ke Ukraina di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden untuk menghadapi Rusia.
Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menyatakan bahwa penjualan senjata ke Taiwan bertujuan mendukung kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan AS.
Langkah tersebut juga disebut mendukung modernisasi militer Taiwan serta menjaga kemampuan pertahanan yang kredibel.
“Penjualan yang diusulkan akan membantu meningkatkan keamanan penerima serta menjaga stabilitas politik, keseimbangan militer, dan kemajuan ekonomi di kawasan,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan dalam masing-masing kesepakatan.