Utang Masih Menumpuk? Coba 5 Strategi Ini agar Keuangan Lebih Ringan
- Utang kerap secara perlahan mengendalikan kondisi keuangan seseorang. Beban cicilan dapat menekan anggaran dan membuat tujuan lain, seperti menabung dan berinvestasi, terasa semakin sulit dicapai.
Padahal, Januari dapat menjadi waktu yang tepat untuk melakukan penataan ulang keuangan. Perubahan kecil yang dilakukan sejak awal tahun berpotensi memberikan dampak besar hingga akhir tahun.
Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (28/12/2025), sejumlah pakar keuangan membagikan langkah praktis untuk mengurangi utang lebih awal dan menghindari beban yang berkepanjangan hingga 2026. Berikut lima langkah yang disarankan.
1. Periksa laporan kredit
Sebelum mulai melunasi utang, penting untuk meninjau laporan kredit, terutama jika sudah lama tidak diperiksa. Hal ini disampaikan Melissa Cox, perencana keuangan bersertifikat (CFP) di Future-Focused Wealth, Dallas.
“Anda tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak Anda ketahui, dan menemukan kesalahan sejak dini dapat menghemat ribuan dollar AS,” ujar Cox.
Dengan memeriksa laporan kredit di awal tahun, seseorang dapat mendeteksi kesalahan data yang merugikan, menemukan akun yang terlupa, mengetahui total utang secara menyeluruh, serta mengidentifikasi tagihan yang telah masuk penagihan.
Laporan kredit gratis dapat diminta dari tiga biro utama, Equifax, Experian, dan TransUnion, melalui AnnualCreditReport.com.
Saat meninjau laporan, perhatikan tanda peringatan seperti akun yang tidak dikenal, saldo yang keliru, keterlambatan pembayaran yang tidak pernah terjadi, atau akun yang seharusnya sudah ditutup.
“Pastikan setiap akun tercatat dengan benar, terutama jika Anda pernah berganti pemberi pinjaman, pindah alamat, atau melakukan konsolidasi utang,” kata Cox.
Sengketa atas kesalahan data memang tidak menghapus utang, tetapi dapat meningkatkan skor kredit dan membuka peluang mendapatkan suku bunga yang lebih rendah.
2. Lacak seluruh pengeluaran
Melacak pengeluaran membantu menyoroti kebiasaan belanja yang sering dianggap wajar, seperti langganan bulanan yang terlupakan atau pengeluaran makan yang hampir menyamai biaya sewa.
Joe Conroy, CFP dan pemilik Harford Retirement Planners di Maryland, mengatakan kebiasaan ini akan memperlihatkan pola belanja secara jelas.
“Melacak pengeluaran secara alami akan mengubah kebiasaan belanja karena Anda tahu semuanya harus dicatat,” ujarnya.
Kesadaran tersebut dapat mengubah perilaku tanpa harus menerapkan aturan anggaran yang terlalu ketat. Pelacakan menjadi penting dalam upaya mengurangi utang karena setiap kelebihan dana memiliki tujuan yang jelas. Tanpa kontrol, pelunasan utang akan selalu terasa sulit dicapai.
“Ketika Anda tidak melacak pengeluaran, Anda hampir selalu membelanjakan lebih banyak dari yang Anda sadari,” kata Conroy. Pelacakan dapat dilakukan melalui aplikasi anggaran, spreadsheet, atau fitur bawaan dari perbankan.
3. Otomatiskan pembayaran utang
Mengaktifkan pembayaran otomatis merupakan cara sederhana untuk menjaga konsistensi dalam melunasi utang, terutama jika membayar lebih dari jumlah minimum.
Langkah ini juga mengurangi risiko keterlambatan pembayaran yang dapat merusak skor kredit dan memicu denda. “Otomatisasi memastikan kewajiban dasar tetap terpenuhi,” kata Cox.
Setelah itu, pembayaran tambahan dapat dilakukan secara manual ketika kondisi keuangan memungkinkan dan dilakukan dengan lebih terencana.
Sebagai acuan, pembagian anggaran 50/30/20 dapat digunakan. Aturan ini mengalokasikan 50 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan non-pokok, dan 20 persen untuk tabungan atau pelunasan utang.
Jika pelunasan utang menjadi prioritas utama pada 2026, porsi 20 persen tersebut dapat sepenuhnya dialokasikan untuk pembayaran utang.
Alternatifnya, dana dapat dibagi antara utang dan tabungan. Angka ini dapat menjadi titik awal dalam menentukan besaran pembayaran otomatis setiap bulan.
4. Tinggalkan kesalahan di masa lalu
Pola pikir negatif kerap menjadi penghambat dalam upaya melunasi utang. Nate Baim, CFP dan pendiri Pursuit Planning and Investments di Oregon, menilai kebiasaan menyesali masa lalu justru membuat seseorang berhenti berproses.
“Saya melihat banyak orang terlalu terpaku pada kesalahan masa lalu, sehingga berhenti secara konsisten mengurangi utang dan menambah tabungan,” ujar Baim.
Ia menyarankan untuk fokus pada capaian kecil di awal, seperti melunasi pinjaman berjumlah kecil atau memanfaatkan poin kartu kredit untuk mengurangi saldo. Langkah ini dapat membangun rasa percaya diri dan menjaga momentum.
“Kemenangan kecil yang dicapai lebih awal dapat mengubah perasaan dari kewalahan menjadi lebih berdaya,” kata Baim.
5. Pertimbangkan puasa belanja selama 90 hari
Awal tahun juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan puasa belanja. Dalam periode ini, pengeluaran non-esensial seperti makan di luar, belanja impulsif, peningkatan layanan, dan pembelian tambahan dihentikan sementara dan dialihkan untuk melunasi utang berbunga tinggi.
Puasa belanja bukan berarti berhenti selamanya, melainkan menunda pengeluaran untuk sementara waktu.
“Terkadang, kita hanya membutuhkan pengaturan ulang gaya hidup untuk mengingat kembali apa yang benar-benar kita hargai, dibandingkan pengeluaran yang sudah menjadi kebiasaan otomatis,” kata Cox.
Selama masa puasa belanja, kebutuhan pokok seperti tempat tinggal, utilitas, bahan makanan, dan transportasi tetap dipenuhi. Pengeluaran diskresioner ditekan semaksimal mungkin, sementara seluruh dana yang dihemat dialihkan untuk pembayaran utang.
Puasa belanja dari Januari hingga Maret berpotensi membebaskan ratusan hingga ribuan dollar AS. Lebih dari sekadar meringankan utang, langkah ini juga membantu memutus kebiasaan finansial yang kurang sehat sebelum kembali berbelanja secara lebih terencana.
Tag: #utang #masih #menumpuk #coba #strategi #agar #keuangan #lebih #ringan