Ekonomi AS Tumbuh Kencang, Tapi Warganya Merasa Tak Lebih Sejahtera?
- Data ekonomi Amerika Serikat pekan ini menunjukkan bahwa ekonomi Paman Sam ini tumbuh dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir. Namun jajak pendapat justru memperlihatkan, suasana hati masyarakat di tingkat akar rumput tetap suram.
Berbagai indikator mengingatkan bahwa dua tren yang tampak berlawanan bisa sama-sama benar pada saat bersamaan. Ekonomi yang tumbuh pesat tidak serta-merta berarti semua orang ikut merasakannya.
Produk domestik bruto (PDB) sebagai indikator kinerja ekonomi AS memang melonjak pada musim panas ini dengan laju tahunan 4,3 persen, jauh melampaui ekspektasi para ekonom.
Namun, lonjakan PDB tersebut tidak diikuti ledakan perekrutan tenaga kerja, dan juga tidak disertai kembalinya inflasi ke level normal.
“PDB adalah konsep yang abstrak. Tapi orang paham soal pekerjaan. Mereka tahu betapa sulitnya mencari kerja jika kehilangan pekerjaan,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, kepada CNN dikutip Sabtu (27/12/2025).
“Dan mereka tahu mereka membayar lebih mahal untuk kopi, daging sapi, listrik, penitipan anak, dan hampir semua kebutuhan lainnya,” tambah dia.
Ekonomi berbentuk huruf K masih berlanjut
PDB dapat diibaratkan sebagai rapor ekonomi. Namun seperti rapor pada umumnya, ia tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi yang terjadi.
Salah satu alasan utama percepatan PDB pada kuartal ketiga adalah meningkatnya belanja konsumen. Pola ini berulang di era pemerintahan Biden maupun Trump: belanja konsumen tetap tangguh meski dihadapkan pada berbagai tekanan ekonomi.
Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan konsumen mana yang meningkatkan pengeluarannya.
Para ekonom menilai, kenaikan belanja pada kuartal ketiga kemungkinan besar didorong oleh kelompok berpendapatan tinggi, mereka yang paling diuntungkan dari rekor harga properti dan lonjakan pasar saham.
Sebaliknya, banyak masyarakat berpendapatan rendah dan menengah justru kesulitan bertahan. Sebagian terpaksa mengurangi belanja dan mulai tertinggal dalam pembayaran tagihan.
“Para pensiunan dan 10 persen kelompok teratas masih menjadi penggerak utama ekonomi. Ini tetap merupakan ekonomi berbentuk huruf K,” ujar Ekonom Senior AS di RBC Capital Markets, Mike Reid.
Ekonomi berbentuk huruf K adalah model pemulihan ekonomi di mana dua kelompok berbeda mengalami hal yang sangat berlawanan. Satu kelompok biasanya kaya makin kaya dan tumbuh (garis atas K), sedangkan kelompok lain, dalam hal ini kelas menengah bawah terus berjuang bahkan terpuruk (garis bawah K), sehingga menciptakan kesenjangan yang makin lebar.
Inflasi tetap terasa
Meski masyarakat mungkin tidak merasakan tingginya PDB, mereka sangat merasakan tingginya harga.
Inflasi memang tidak melonjak tajam tahun ini seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak akibat tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Namun, inflasi juga tidak banyak membaik sejak Trump mulai menjabat pada Januari, ketika harga naik dengan laju tahunan 3 persen, dibandingkan 2,7 persen pada November 2025. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi tahunan 1,7 persen yang dialami warga AS selama satu dekade sebelum pandemi, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS).
Beberapa harga kebutuhan pokok memang turun. Misalnya, harga telur pada November tercatat 13 persen lebih murah dibandingkan setahun sebelumnya. Harga susu juga turun 1 persen.
Harga bensin relatif terkendali sepanjang tahun, dengan rata-rata nasional baru-baru ini turun menjadi 2,86 dollar AS per galon—level terendah dalam empat setengah tahun. Angka ini jauh di bawah harga bensin 5 dollar AS per galon pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Namun, sejumlah kebutuhan pokok lainnya justru mengalami kenaikan harga. Rata-rata konsumen kini membayar 7 persen lebih mahal untuk listrik. Gas alam, sumber utama pemanas rumah di AS, kini 9 persen lebih mahal.
Harga daging sapi giling melonjak 15 persen secara tahunan pada November, kenaikan tertinggi sejak 2020. Masyarakat AS juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk perbaikan mobil (naik 10 persen) dan kopi (naik 19 persen), menurut data BLS.
Memang gaji juga meningkat, namun sering kali tidak cukup untuk mengejar kenaikan biaya hidup.
Data simpanan Bank of America menunjukkan bahwa pada November, kenaikan gaji hanya melampaui inflasi bagi rumah tangga berpendapatan tinggi. Pertumbuhan upah rumah tangga kelas menengah hanya 2,3 persen, sementara kelompok berpendapatan rendah naik tipis 1,4 persen.
Donald Trump diduga tertidur saat rapat kabinet pada Selasa (2/12/2025).
Kekhawatiran soal keamanan kerja
Jika ekonomi AS benar-benar sedang melesat, masyarakat seharusnya tidak khawatir soal keamanan pekerjaan. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Menurut survei kepercayaan konsumen The Conference Board yang dirilis Selasa (23/12/2025), proporsi masyarakat yang percaya bahwa lowongan kerja akan semakin banyak dalam enam bulan ke depan turun ke level terendah dalam empat tahun. Sementara itu, jumlah yang merasa semakin sulit mendapatkan pekerjaan justru meningkat.
Hal ini terjadi seiring tingkat pengangguran yang mencapai level tertinggi dalam empat tahun, yakni 4,6 persen pada bulan lalu, naik dari 4 persen dibandingkan Januari. Awal tahun ini, jumlah pencari kerja bahkan melampaui jumlah lowongan untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat konsumen semakin pesimistis terhadap perekonomian, sebagaimana tercermin dalam data kepercayaan konsumen.
Salah satu penyebab melambatnya perekrutan adalah kemampuan perusahaan melakukan lebih banyak hal dengan jumlah pekerja lebih sedikit, berkat kemajuan kecerdasan buatan.
Di saat yang sama, perubahan kebijakan perdagangan Trump yang tidak menentu membuat banyak pelaku usaha bersikap menunggu. Ketidakpastian soal langkah tarif berikutnya membuat banyak perusahaan menunda rencana perekrutan. Sebagian lainnya bahkan mengurangi tenaga kerja agar tidak harus meneruskan kenaikan harga akibat tarif kepada konsumen.
Kesimpulannya, setinggi apa pun PDB, hal itu tidak akan otomatis membuat warga Amerika merasa lebih baik terhadap kondisi ekonomi. Yang benar-benar dibutuhkan mereka adalah gaji yang lebih mencukupi, kepastian arah kebijakan ke depan, dan rasa aman dalam pekerjaan.
Tag: #ekonomi #tumbuh #kencang #tapi #warganya #merasa #lebih #sejahtera