Ekonomi Menunggu Pulihnya Kepercayaan
Penampil mementaskan pertunjukkan Winter on Skates: Magical Christmas Show from Russia di pusat perbelanjaan The Park, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (26/12/2025). Pertunjukan grup akrobatik asal Rusia yang berlangsung hingga 4 Januari 2026 tersebut dihadirkan untuk menghibur sekaligus menambah daya tarik pengunjung di pusat perbelanjaan pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
09:36
27 Desember 2025

Ekonomi Menunggu Pulihnya Kepercayaan

PADA November 2025, Bank Indonesia melaporkan bahwa uang beredar dalam arti luas terus meningkat. Dana di perbankan bertambah, tabungan masyarakat naik, dan deposito makin tebal.

Secara angka, likuiditas terlihat longgar. Namun, dalam keseharian, banyak orang merasakan ekonomi berjalan lambat: belanja ditunda, usaha berhitung lebih ketat, dan investasi tidak seagresif sebelumnya.

Menariknya, di tengah kondisi ini, sejumlah mal di Jakarta dan sekitarnya justru sangat ramai selama libur Natal dan Tahun Baru.

Fenomena kontras ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa ekonomi terasa lesu, dan apakah keramaian mal cukup untuk mengubah keadaan?

Ekonomi terasa lesu bukan karena uang tidak ada, melainkan karena banyak orang memilih menahan diri. Dalam bahasa sederhana, masyarakat dan pelaku usaha sedang berada pada mode “berjaga-jaga”.

Teori ekspektasi dalam ekonomi menjelaskan bahwa keputusan hari ini sangat dipengaruhi oleh harapan tentang masa depan. Ketika masa depan terasa tidak pasti, orang cenderung menunda belanja dan investasi (Mishkin, 2019).

Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya mudah ditemui. Banyak keluarga masih bekerja dan punya tabungan, tetapi memilih menunda membeli motor baru atau merenovasi rumah karena khawatir biaya hidup ke depan—pendidikan, kesehatan, cicilan—akan meningkat.

Pelaku UMKM pun bersikap serupa: meski ada dana, mereka menahan ekspansi karena takut stok tidak terserap pasar.

Inilah yang membuat ekonomi terasa lesu meskipun likuiditas tersedia, sebagaimana dijelaskan dalam pendekatan Keynesian tentang kehati-hatian konsumsi saat ketidakpastian meningkat (Keynes, 1936).

Irving Fisher sejak awal menegaskan bahwa dampak uang pada ekonomi ditentukan bukan hanya oleh jumlahnya, tetapi juga kecepatan perputaran uang (velocity of money).

Dalam praktik sehari-hari, ini seperti air di bak mandi: penuh, tetapi tidak mengalir ke keran. Uang yang mengendap di tabungan dan deposito tidak menciptakan transaksi.

Banyak pekerja menerima gaji dan bonus, tapi memilih menyimpannya. Akibatnya, warung, toko, dan jasa lokal tidak merasakan peningkatan permintaan.

Literatur makroekonomi modern menunjukkan bahwa pada periode ketidakpastian, velocity memang cenderung turun karena perilaku menabung meningkat (Fisher, 1911; Blanchard & Johnson, 2013). Di titik ini, kenaikan uang beredar tidak otomatis menggerakkan ekonomi riil.

Mal ramai saat liburan: Sinyal positif yang terbatas

Keramaian mal di Jakarta saat libur Natal dan Tahun Baru sering dibaca sebagai tanda ekonomi membaik. Dari sudut pandang teori, fenomena ini menunjukkan lonjakan sementara perputaran uang.

Uang yang sebelumnya mengendap akhirnya dibelanjakan untuk makan di restoran, menonton, atau membeli kebutuhan liburan.

Namun secara analitis, dampaknya bersifat musiman dan sempit. Pertama, belanja liburan terkonsentrasi pada sektor tertentu—ritel modern, hiburan, dan makanan-minuman—sementara sektor lain tidak selalu ikut menikmati.

Kedua, belanja tersebut sering kali merupakan pergeseran waktu, bukan tambahan konsumsi baru. Keluarga yang belanja besar di akhir tahun biasanya akan menahan belanja pada bulan berikutnya.

Dalam kerangka Keynesian, permintaan seperti ini memberi dorongan jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk mengatasi ekonomi lesu bila tidak diikuti konsumsi rutin dan investasi (Blanchard & Johnson, 2013).

John Maynard Keynes menyebut kondisi ini sebagai perangkap likuiditas. Dalam bahasa sehari-hari, uang ada, tetapi keberanian menggunakannya rendah.

Bank memiliki dana melimpah dari tabungan masyarakat, tetapi menyalurkan kredit dengan sangat selektif karena risiko ekonomi dinilai meningkat.

Contohnya, seorang pengusaha kecil mengajukan kredit untuk memperbesar usaha, tapi bank berhitung ketat karena khawatir permintaan belum stabil. Akibatnya, uang tetap berada di sistem perbankan dan tidak berubah menjadi mesin produksi.

Teori transmisi moneter menjelaskan bahwa tanpa aliran kredit ke sektor produktif, tambahan likuiditas hanya memperbesar simpanan, bukan aktivitas ekonomi (Mishkin, 2019).

Apa yang perlu dilakukan agar ekonomi bergerak?

Jika akar masalahnya adalah kehati-hatian dan uang yang tidak berputar, maka solusinya adalah mengubah sikap menunggu menjadi berani bergerak.

Pertama, memulihkan kepercayaan melalui kepastian kebijakan dan komunikasi yang konsisten, agar masyarakat yakin masa depan dapat dikelola.

Teori ekspektasi rasional menegaskan bahwa kejelasan arah kebijakan akan memengaruhi keputusan belanja dan investasi hari ini (Mishkin, 2019).

Kedua, mendorong kredit produktif melalui penjaminan risiko dan insentif terarah agar dana tabungan berubah menjadi aktivitas usaha.

Ketiga, menguatkan permintaan efektif lewat kebijakan fiskal yang tepat sasaran. Bantuan kepada kelompok dengan kecenderungan belanja tinggi terbukti mempercepat perputaran uang, sebagaimana dijelaskan dalam konsep marginal propensity to consume (Keynes, 1936).

Keempat, mengaitkan konsumsi musiman dengan ekonomi lokal, misalnya dengan memperkuat peran UMKM dalam rantai pasok ritel dan pariwisata, agar lonjakan belanja tidak berhenti di pusat perbelanjaan besar.

Ekonomi yang lesu hari ini bukan karena uang tidak ada, melainkan karena kepercayaan dan keberanian bertransaksi belum pulih.

Keramaian mal saat liburan menunjukkan bahwa uang masih mau bergerak, tetapi efeknya singkat. Tantangan kebijakan adalah membuat perputaran uang berlangsung terus-menerus, bukan hanya musiman.

Ketika kepercayaan pulih, kredit mengalir, dan permintaan berkelanjutan terbentuk, uang beredar yang melimpah akan benar-benar menjelma menjadi pertumbuhan ekonomi nyata.

Tag:  #ekonomi #menunggu #pulihnya #kepercayaan

KOMENTAR