Apindo Ungkap 3 Penghambat Kredit Mengalir ke Dunia Usaha
– Likuiditas perbankan tercatat relatif longgar. Akses dunia usaha terhadap kredit belum sepenuhnya pulih.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menilai persoalan struktural masih menahan penyaluran kredit sekaligus melemahkan permintaan pembiayaan.
Ajib menyebut hambatan tidak hanya datang dari perbankan. Kondisi ekonomi riil belum pulih penuh. Terdapat tiga faktor utama yang menekan akses modal dan permintaan kredit.
“Tantangan pertama adalah high cost of capital. Suku bunga di Indonesia relatif kurang kompetitif dibandingkan negara ASEAN dan Asia lainnya. Kita hanya sedikit lebih baik dari Sri Lanka, tetapi masih kalah dari Vietnam, Malaysia, Thailand, bahkan Kamboja,” ujar Ajib melalui keterangan tertulis, Jumat (26/12/2025).
Biaya modal yang tinggi membuat pelaku usaha menahan ekspansi berbasis kredit. Situasi tersebut mendorong kebutuhan insentif moneter yang lebih tepat sasaran dan hadir pada momentum yang akurat.
Tantangan kedua muncul dari sisi permintaan. Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Konsumsi rumah tangga masih tertahan meski terdapat sinyal perbaikan.
Data tabungan rumah tangga menunjukkan tren penurunan, kecuali pada kelompok kelas atas. Indeks Keyakinan Konsumen juga bergerak naik, meski belum kembali ke level awal 2025.
IKK sempat berada di level 127 pada awal tahun. Angka tersebut turun dan kembali naik menjadi 124 pada November 2025.
“Indikator ini memberi sinyal positif bahwa daya beli mulai rebound, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan permintaan kredit secara signifikan,” kata Ajib.
Tantangan ketiga berkaitan dengan kualitas layanan keuangan. Ajib menilai daya saing sektor keuangan nasional masih tertinggal di kawasan.
Survei Business Ready Bank Dunia mencatat skor layanan perbankan Indonesia di level 60 dari 100. Angka ini berada di bawah Singapura, Vietnam, dan Filipina.
Digitalisasi dan deregulasi dinilai menjadi kunci peningkatan efisiensi. Langkah tersebut diharapkan menekan biaya intermediasi yang selama ini membebani pelaku usaha.
Ajib menyebut dunia usaha membutuhkan stimulus yang lebih menyeluruh. Kebijakan tidak cukup menyasar satu sisi saja.
Stimulus perlu menyentuh permintaan dan penawaran secara bersamaan. Dari sisi permintaan, struktur pengeluaran masyarakat perlu ditekan.
Efisiensi dibutuhkan pada biaya transportasi, hunian, konsumsi harian, cicilan, pendidikan, kesehatan, hingga peningkatan keterampilan.
Dari sisi penawaran, biaya produksi dan berusaha juga perlu dikendalikan. Komponen yang disorot mencakup bahan baku, tenaga kerja, biaya pinjaman, energi, logistik, barang modal, dan teknologi.
Ajib menekankan perlunya bauran kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi yang searah. Likuiditas perbankan diharapkan benar-benar menjadi pengungkit kredit yang sehat dan terjangkau.
“Harapan dunia usaha, jangan sampai terjadi paradoks. Likuiditas perbankan besar, tetapi tidak berbanding lurus dengan penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Departemen Makroprudensial Bank Indonesia Solikin M. Juhro menyebut penempatan Saldo Anggaran Lebih pemerintah senilai Rp 276 triliun di perbankan belum cukup kuat menekan suku bunga kredit secara signifikan.
Tag: #apindo #ungkap #penghambat #kredit #mengalir #dunia #usaha