Benteng AI di Batam: Mengintip Strategi INA Amankan Data Nasional
– Ekonomi masa depan tidak lagi bertumpu pada sumber daya alam, data kini menjadi fondasi utama pertumbuhan. Perubahan arah ini mulai direspons Indonesia melalui pembangunan infrastruktur data berskala besar.
Indonesia Investment Authority menanamkan investasi pada pembangunan pusat data berstandar global di Batam. Fasilitas ini dirancang siap mendukung kecerdasan buatan serta memperkuat keberlanjutan dan kedaulatan data nasional.
Vice President ESG Indonesia Investment Authority Fetriza Rinalldy mengatakan investasi pusat data di Batam menjadi langkah awal visi jangka panjang INA mendorong ekonomi digital. Infrastruktur data dinilai akan menentukan daya saing Indonesia beberapa tahun ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Fetriza dalam program Naratama Kompas.com bertajuk Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA yang dipandu Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin dan dipublikasikan Rabu (24/12/2025).
INA memandang data sebagai tulang punggung ekonomi masa depan. Investasi ini tidak berhenti pada pembangunan fisik, fokus diarahkan pada pembentukan ekosistem data yang menopang pertumbuhan jangka panjang.
Pusat data di Batam dirancang sejak awal memenuhi standar teknis dan operasional global. Fasilitas ini disiapkan untuk melayani hyperscalers, pelaku teknologi berskala besar yang membutuhkan sistem aman, stabil, dan berkapasitas tinggi.
Fetriza menyebut penguatan pusat data akan mendorong sektor teknologi lain bergerak lebih cepat. Fintech dan e-commerce menjadi contoh sektor yang akan terdorong seiring kuatnya infrastruktur data.
Proyek Batam dikembangkan bersama mitra global GDS Holding Ltd. Kolaborasi ini diarahkan untuk menghadirkan pusat data yang memenuhi seluruh prasyarat teknis dan operasional.
“Kami percaya ketika kami berinvestasi bersama dengan mitra strategis, tentunya mitra strategis ini akan membawa atau meningkatkan proses operasional dan efisiensi yang lebih baik. Jadi contohnya dengan GDS,” ujar Fetriza.
Motif investasi ini tidak semata komersial. Kepentingan strategis utama terletak pada kedaulatan data. Pertumbuhan ekonomi digital dan perkembangan kecerdasan buatan menuntut Indonesia memiliki pusat data kuat di dalam negeri.
“Bagaimana kita memiliki pusat data yang kuat, karena ke depannya ekonomi Indonesia akan sangat bergantung pada data, apalagi teknologi seperti AI sekarang sudah semakin pesat. Ini AI-ready data center,” paparnya.
Isu lingkungan juga menjadi perhatian utama. Industri pusat data dikenal intensif energi dan air. Tantangan muncul pada upaya menyeimbangkan kebutuhan teknologi dan keberlanjutan.
“Kita sangat sadar akan fakta bahwa data center itu di manapun, sepertinya ya itu sangat energi intensif dan pemakaian airnya juga luar biasa. Nah PR-nya adalah bagaimana caranya kita bisa mengimbangi itu semua,” ujar Fetriza.
“Dan tentu ini kita sangat dibantu oleh mitra strategis seperti GDS. Jadi kita sama-sama ngobrol gimana caranya membuat proses pemakaian air, pemakaian listrik menjadi efisien, sehingga nanti ke depannya tiba-tiba nggak ada cost yang bengkak, seperti itu,” lanjutnya.
Kolaborasi dengan GDS diarahkan pada efisiensi energi dan air. Desain pusat data disusun untuk menekan konsumsi sumber daya serta emisi karbon dibanding fasilitas konvensional.
“Ketika kami berkolaborasi dengan GDS, mereka sudah memiliki peta jalan bagaimana membangun data center dengan kapasitas yang memadai, memenuhi kriteria, tetapi di satu sisi pemakaian energinya lebih efisien. Kami juga memastikan emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah,” katanya.
Pendekatan keberlanjutan dinilai meningkatkan daya saing proyek. Efisiensi operasional menekan risiko lonjakan biaya sekaligus menjadi nilai tambah di mata investor global.
INA dan DayOne mendapat pendanaan Rp 6,7 triliun
Bank DBS Indonesia dan UOB Indonesia menyalurkan fasilitas pinjaman Rp 6,7 triliun atau setara 411 juta dollar AS. Dana ini digunakan untuk pembangunan kampus pusat data baru oleh operator DayOne bersama INA.
DBS dan UOB merupakan bank dengan aset terbesar dan ketiga terbesar di Asia Tenggara serta Singapura. Kedua bank menyebut pembiayaan ini sebagai kesepakatan pendanaan pusat data berbasis rupiah terbesar hingga kini.
Pendanaan mengalir seiring lonjakan minat investor terhadap sektor pusat data di Asia. Permintaan kecerdasan buatan dan layanan komputasi awan mendorong kebutuhan infrastruktur berskala besar.
Proyek ini menandai investasi perdana INA di sektor pusat data sekaligus ekspansi DayOne di Indonesia. INA berstatus dana kekayaan negara milik pemerintah.
Dana pinjaman digunakan untuk mengembangkan dan mengoperasikan tiga fasilitas pusat data di Nongsa Digital Park, Kawasan Ekonomi Khusus Batam.
Setelah seluruh fasilitas beroperasi, kapasitas gabungan mencapai sekitar 72 megawatt. Angka ini setara sekitar 5 persen dari proyeksi total kapasitas pusat data Indonesia sebesar 1,41 gigawatt pada 2029.
Tag: #benteng #batam #mengintip #strategi #amankan #data #nasional