Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG
Fetriza Rinaldy, Vice President of Sustainability INA, saat program Naratama Kompas.com: Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA, yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin (KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
19:32
25 Desember 2025

Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG

- Siapa sangka latar belakang biologi justru menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas investasi negara.

Fetriza Rinaldy, Vice President of Sustainability di Indonesia Investment Authority (INA), membuktikan bahwa ilmu lingkungan dapat berperan strategis dalam dunia keuangan, terutama untuk memastikan investasi tetap menguntungkan tanpa merusak alam.

Berangkat dari pendidikan Biologi Lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan gelar Magister (S2) dari Technische Universität München, Jerman, Fetriza membawa sudut pandang yang berbeda ke dalam lembaga pengelola investasi negara.

Baginya, ekosistem alam dan ekosistem investasi memiliki kesamaan mendasar: keduanya sama-sama rapuh jika dikelola secara serampangan. Kerusakan satu unsur dapat memicu efek berantai yang pada akhirnya merugikan keseluruhan sistem.

Pengalaman lebih dari 14 tahun di bidang keberlanjutan dan ESG mengasah kepekaannya terhadap risiko jangka panjang. Ia menilai bahwa banyak risiko finansial berakar dari persoalan lingkungan dan sosial yang diabaikan sejak awal. Karena itu, di INA, prinsip ESG tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian dari mandat utama lembaga.

Dalam praktiknya, Fetriza berperan penting dalam meletakkan fondasi pengembangan dan implementasi kerangka kerja ESG untuk Sovereign Wealth Fund (SWF) pertama Indonesia. Setiap keputusan investasi, menurutnya, harus melalui proses uji tuntas yang mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Proses tersebut berlanjut hingga tahap pemantauan portofolio, untuk memastikan risiko-risiko non finansial tetap terkendali sepanjang masa investasi.

Dalam program Naratama Kompas.com: "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA", yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, Fetriza menegaskan penerapan ESG di INA bukan sekadar inisiatif tambahan atau respons terhadap tren global.

Lembaga investasi milik negara itu meletakan ESG sebagai bagian yang penting dari mandat utama INA. Prinsip ini menempatkan kehati-hatian sebagai fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan investasi, sehingga tidak ada ruang bagi langkah yang bersifat spekulatif atau “ugal-ugalan”.

“Di internal INA, ESG adalah bagian dari mandat. Pengambilan keputusan tidak boleh "ugal-ugalan",” ujar Fetriza.

Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dipandang memiliki risiko material yang nyata dan dapat berdampak langsung terhadap kinerja investasi apabila diabaikan.

“Ketiga aspek itu punya risiko material. Jadi, dari mulai due diligence (uji tuntas) hingga monitoring portofolio, aspek ESG selalu kami integrasikan,” paparnya.

Terapkan ilmu biologi di INA

INA saat ini mengelola aset lebih dari 10 miliar dollar AS. Dalam skala sebesar itu, konsistensi penerapan ESG menjadi krusial. Menurutnya, pendekatan disiplin dan transparan inilah yang menarik minat mitra global.

Investor internasional semakin menyadari investasi dengan tata kelola yang baik dan perhatian pada keberlanjutan cenderung memberikan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang.

“Menariknya, bagi mitra global, konsistensi kami dalam tata kelola dan transparansi justru menjadi daya tarik utama. Mereka melihat bahwa investasi dengan tata kelola yang baik akan menghasilkan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang,” lanjut Fetriza.

Melalui perannya di INA, Fetriza berupaya menerjemahkan visi keberlanjutan ke dalam strategi yang konkret dan terukur.

Ilmu biologi yang dulu mempelajari relasi manusia dengan alam kini ia aplikasikan untuk menjaga “nyawa” investasi negara.

Saat sains dan keuangan bertemu di INA

Di titik inilah, sains dan keuangan bertemu, bukan sebagai dua kutub yang berlawanan, melainkan sebagai mitra untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan masa depan yang berkelanjutan.

Mengutip Website resmi INA, lembaga ini didirikan pada Desember 2020 sebagai lembaga sui generis, yakni entitas hukum yang bersifat unik dan beroperasi secara independen dari birokrasi pemerintahan, namun tetap akuntabel kepada negara.

Dasar hukum tata kelola INA ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020, yang kemudian dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi.

Struktur tersebut memungkinkan INA memadukan disiplin pengawasan publik dengan kelincahan lembaga investasi profesional.

INA berinvestasi secara terarah dan terukur, berfokus pada sektor-sektor yang vital bagi pembangunan Indonesia. Sektor tersebut mencakup transportasi, logistik, dan infrastruktur; digital; energi hijau dan ekonomi biru; layanan kesehatan; serta advanced materials.

Kemitraan INA dengan investor global maupun domestik dijalankan berdasarkan strategi jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta prinsip kehati-hatian dalam setiap keputusan investasi.

Tag:  #fetriza #rinaldy #menjaga #nyawa #investasi #negara #lewat

KOMENTAR