Tahun 2026: Berkelit dari Badai Ketidakpastian Ekonomi
Penerima Bantuan Pangan (PBP) antre saat penyaluran beras di Kelurahan Harapan Jaya, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menyalurkan Program Bantuan Pangan (Banpang) untuk masyarakat berpendapatan rendah periode September?Desember 2025, dimana setiap penerima akan mendapat 10 kilogram beras per bulan dengan total penerima sebanyak 18,27 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonom
07:12
25 Desember 2025

Tahun 2026: Berkelit dari Badai Ketidakpastian Ekonomi

TAHUN 2025 bukan tahun yang ramah. Sama sekali bukan. Kalau ada yang bilang ekonomi dunia sedang baik-baik saja, dia pasti sedang bermimpi di siang bolong.

Dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan China, sedang tidak baik-baik saja. Satunya "turun gigi", satunya lagi "kehabisan napas".

Dan kita, Indonesia? Seperti biasa. Kita adalah pelanduk di tengah-tengahnya. Bedanya kali ini, pelanduknya tidak mati terinjak, tapi pusing tujuh keliling. Mari kita bedah satu per satu.

China memulai tahun 2025 dengan gagah. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertamanya 5,4 persen. Angka yang cantik. Inflasi rendah, hanya 0,5 persen. Surplus dagangnya gila-gilaan: 138 miliar dollar AS di bulan Januari saja.

Namun, tunggu dulu. Jangan terbuai angka. Menjelang akhir tahun, napas Naga ini mulai tersengal.

Kuartal III melambat ke 4,8 persen. Surplus dagang menyusut ke 111 miliar dollar AS. Apa masalahnya? Masalah klasik: ketimpangan.

Ekonomi China terlalu bertumpu pada produksi. Pabrik-pabrik ngebul terus. Ekspor digenjot. Rakyatnya sendiri? Hemat luar biasa. Konsumsi domestik "mlempem". Investasi swasta lesu.

Ini mengingatkan saya pada ketimpangan struktural. Xi Jinping mungkin bisa marah dan menyiapkan 100 rudal. Namun, rudal tidak bisa membeli barang di pasar.

Ekonomi yang hanya mengandalkan supply-side tanpa diimbangi demand domestik yang kuat, ibarat orang berlari dengan satu kaki. Capek. Ekonomi China sudah keletihan.

Di seberang samudera, Paman Sam setali tiga uang. Awal tahun, Amerika tumbuh 2 persen. Inflasi masih "menggigit" di 3 persen.

Defisit neraca dagangnya parah: tekor 128 miliar dollar AS. Donald Trump, dengan gaya khasnya, langsung main kayu: tarif resiprokal. Pajak impor dinaikkan. Balas membalas dengan Beijing.

Hasilnya? Di akhir tahun inflasi memang turun ke 2,7 persen. Namun, harga yang harus dibayar mahal: pengangguran naik jadi 4,6 persen.

Sektor riil mulai "bengek". Lapangan kerja hanya tumbuh di sektor kesehatan dan bansos. Sektor produktif lainnya? Macet.

Di sinilah Teori Ekspektasi Rasional (Rational Expectations) dari Robert Lucas bekerja dengan sempurna.

Teori ini bilang: pelaku ekonomi itu cerdas. Mereka bertindak berdasarkan antisipasi masa depan.

Lihat saja data impor AS. Di awal tahun melonjak drastis. Kenapa? Karena pengusaha AS tahu Trump bakal menaikkan tarif.

Mereka "menimbun" barang duluan sebelum pajak naik. Begitu tarif berlaku di akhir tahun, impor langsung anjlok. Pelaku pasar sudah selangkah di depan pemerintahnya.

Lantas, bagaimana nasib Indonesia di tengah drama dua raksasa yang sedang "sakit" ini? Dampaknya ke kita jelas: ganda. Kena di ulu hati (fiskal) dan kena di kepala (moneter).

Secara moneter, Bank Indonesia (BI) sepanjang 2025 seperti berjalan di atas tali tipis. Ngeri-ngeri sedap.

Ketika ekonomi AS melambat, tapi suku bunga tetap ditahan tinggi untuk melawan inflasi, Dolar AS tetap perkasa. Rupiah kita? Tertekan.

BI tidak punya banyak pilihan. Mau turunkan suku bunga agar kredit dalam negeri jalan? Rupiah bisa jebol. Mau naikkan suku bunga? Sektor riil kita yang teriak.

Ini adalah jebakan The Impossible Trinity atau Trinitas Mustahil dari Robert Mundell dan Marcus Fleming.

Teori ini bilang: negara tidak bisa punya tiga hal sekaligus secara bersamaan. Yaitu: nilai tukar stabil, lalu lintas modal bebas, dan kebijakan moneter yang independen.

Indonesia harus memilih. Dan di 2025, BI terpaksa mengorbankan independensi moneternya demi menjaga stabilitas Rupiah.

Kita tersandera kebijakan The Fed. Akibatnya? Likuiditas di dalam negeri ketat. Pengusaha mau ekspansi mikir dua kali. Bunga kredit "mahal".

Sisi fiskal lebih pusing lagi. Menteri Keuangan kita; siapapun yang menjabat di 2025 pasti kurang tidur.

China yang melambat adalah berita buruk buat APBN kita. Kok bisa? China adalah pembeli terbesar komoditas kita.

Batu bara, nikel, sawit. Kalau pabrik di China melambat, permintaan energi turun. Harga komoditas anjlok.

Akibatnya, penerimaan negara dari pajak ekspor dan royalti sumber daya alam pasti "mengkeret".

Padahal, belanja negara sedang tinggi-tingginya. Program makan bergizi gratis jalan terus. Infrastruktur harus dirawat. Utang jatuh tempo harus dibayar.

Defisit APBN 2025 pun melebar. Kalau penerimaan seret, pilihannya cuma dua: tambah utang atau potong anggaran. Dua-duanya bukan pilihan populer.

Jadi, apa yang terjadi di 2025 adalah siklus ketergantungan yang menyakitkan.

Ketika AS menerapkan proteksionisme lewat tarif, volume perdagangan dunia turun. Ekspor kita ke AS terhambat. Ketika China membalas dan ekonominya melambat, ekspor komoditas kita juga kena pukul.

Kita terjepit dari dua sisi. Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan "durian runtuh" komoditas seperti tahun-tahun sebelumnya. Pesta sudah usai. Piring kotor harus dicuci.

Kuncinya ada di dalam negeri. Pasar domestik. Untungnya, konsumsi rumah tangga kita masih cukup kuat. Ini bantalan terakhir.

Kalau China punya masalah karena rakyatnya pelit belanja, Indonesia justru selamat karena rakyatnya doyan belanja.

Pemerintah harus pintar-pintar menjaga daya beli ini. Jangan sampai inflasi pangan mencekik. Jangan sampai PHK massal di sektor tekstil akibat banjir produk China yang tidak laku di AS dan dibuang ke sini dibiarkan merajalela.

Tahun 2025 mengajarkan kita satu hal penting: menjadi penonton pertarungan gajah itu tidak enak. Apalagi kalau kita masih bergantung pada "makanan" yang dilempar oleh sang gajah.

Sudah saatnya kita berhenti berharap pada "kebaikan" ekonomi global. AS sedang sibuk mengobati lukanya sendiri. China sedang sibuk menata ulang rumah tangganya.

Kita? Kita harus mandiri. Perkuat pasar dalam negeri. Hilirisasi jangan setengah-setengah. Dan yang paling penting: jaga agar "pelanduk" ini tetap punya daya beli.

Menatap 2026: Banting setir ke dalam

Tahun 2025 sudah lewat. Babak belur sedikit tidak apa-apa. Asal jangan mati. Masuk 2026, kita tidak boleh lagi pasrah menunggu "gajah" sembuh. Strategi harus diubah total.

Kalau pintu ekspor macet karena China dan AS masih sempoyongan, jangan paksa mendobrak pintu itu. Banting setir. Fokus ke pasar yang ada di depan hidung kita sendiri: 280 juta perut orang Indonesia.

Strategi 2026 harus bertumpu pada Pertumbuhan Endogen (Endogenous Growth). Kita tumbuh dari kekuatan sendiri.

Pertama, benahi dapur anggaran. Spending quality atau kualitas belanja negara di 2026 tidak boleh lagi sekadar "asal serap".

APBN tidak boleh bocor halus. Apalagi bocor kasar. Digitalisasi pengadaan barang jasa harus menutup celah tikus berdasi.

Setiap rupiah yang keluar dari kas negara harus menetes ke sektor padat karya. Proyek infrastruktur mercusuar yang padat modal dan impor komponennya tinggi, rem dulu.

Alihkan dananya untuk subsidi pupuk, perbaikan irigasi desa, atau kredit murah perumahan rakyat. Ini memutar uang di akar rumput.

Kedua, ini saatnya Bank Indonesia (BI) "melonggarkan ikat pinggang". Di 2026, asumsinya inflasi AS sudah jinak dan The Fed mulai menurunkan suku bunga. Ini momentum emas. BI Rate harus segera turun.

Guyur likuiditas ke perbankan. Namun, ada syarat keras: Bank jangan cuma asyik memarkir uang di Surat Berharga Negara (SBN) yang aman dan berbunga empuk.

Paksa bank mengucurkan kredit ke UMKM dan sektor manufaktur. Uang harus beredar di pasar, bukan mengendap di brankas.

Ketiga, hilirisasi jilid dua. Jangan cuma nikel. Nikel itu mainan konglomerat dan investor asing. Rakyat cuma dapat debunya.

Tahun 2026 harus jadi tahun hilirisasi pangan dan agro. Rumput laut, kakao, kopi, hingga ikan.

Olah di sini. Kemas di sini. Jual di sini. Nilai tambahnya dinikmati petani dan nelayan langsung.

Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage) David Ricardo harus kita modifikasi: bukan sekadar menjual apa yang kita punya, tapi menjual apa yang sudah kita olah.

Ini resep counter-cyclical. Saat dunia luar lesu, kita panaskan mesin di dalam. Seperti beruang di musim dingin: bertahan hidup dengan membakar cadangan lemak sendiri.

Untungnya, "lemak" kita pasar domestik dan sumber daya alam masih sangat tebal. Create demand side sembari menjaga supply side tetap stabil adalah cara kita berkelit di balik ketidakpastian di tahun 2026.

Tag:  #tahun #2026 #berkelit #dari #badai #ketidakpastian #ekonomi

KOMENTAR