Fenomena “Ghost Rich”, Kaya yang Tak Terlihat
Ilustrasi anak muda sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi demi masa depan finansial yang lebih baik. (Shutterstock/Amnaj Khetsamtip)
20:20
24 Desember 2025

Fenomena “Ghost Rich”, Kaya yang Tak Terlihat

- Di linimasa media sosial, gambarnya sering sama: anak muda nongkrong di kafe pada jam kerja, liburan singkat yang tampak spontan, gawai dan fesyen yang rapi, lalu unggahan soal “kerja fleksibel” atau “cuan dari internet”.

Di dunia nyata, banyak dari mereka tidak selalu mudah dikenali sebagai pekerja formal, tanpa seragam, tanpa absensi kantor, tanpa slip gaji yang rutin, tetapi daya belinya terlihat.

Istilah “ghost rich” belakangan dipakai warganet untuk menggambarkan kondisi “tampak kaya” tetapi “tak kasatmata” secara administratif.

Ilustrasi anak muda mengatur keuangan, gen Z menabung dana darurat. SHUTTERSTOCK/PRATHANKARNPAP Ilustrasi anak muda mengatur keuangan, gen Z menabung dana darurat.

Sumber penghasilan berasal dari aktivitas yang tidak selalu tercatat sebagai pekerjaan formal, atau pendapatannya fluktuatif, proyek per proyek, dan sering berpindah platform.

Fenomena ini tidak tunggal, namun beririsan dengan melejitnya ekonomi digital, menguatnya kerja informal, hingga budaya pamer (flexing) yang menemukan panggungnya di media sosial.

Di Indonesia, perubahan struktur pasar kerja memberi konteks penting.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2025 mencapai 146,54 juta orang, naik 1,90 juta dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen, turun 0,06 persen poin dibanding Agustus 2024.

Struktur pekerja menurut BPS per Agustus 2025 adalah sebagai berikut.

  • Pekerja Penuh Waktu: 98,6 juta orang.
  • Pekerja Paruh Waktu: 36,29 juta orang (naik 1,66 juta).
  • Setengah Menganggur: 11,6 juta orang (naik 0,04 juta).

Ilustrasi freelancer. Dok. Istimewa Ilustrasi freelancer.

Di saat yang sama, BPS juga melaporkan pekerja informal di Indonesia masih mendominasi dengan proporsi sekitar 57,80 persen dari total 146,54 juta penduduk bekerja, atau sekitar 84,88 juta orang.

Bagi sebagian anak muda, lanskap ini membuka peluang: pekerjaan proyek, ekonomi kreator, pemasaran afiliasi, jasa digital lintas negara, hingga usaha kecil berbasis platform.

Namun, bagi sebagian lain, “tampak kaya” di media sosial bisa menjadi tekanan sosial yang mahal, mendorong konsumsi, utang, atau keputusan finansial yang berisiko.

Panggungnya: kerja yang berubah, penghasilan yang berpindah-pindah

“Ghost rich” sulit dipahami jika masih memakai kacamata lama: kaya sama dengan jabatan jelas, kantor jelas, pendapatan stabil, aset terlihat.

Dalam ekosistem digital, sumber penghasilan bisa datang dari banyak pintu: proyek desain dan pemrograman, penerjemahan, manajemen media sosial, jualan di marketplace, komisi afiliasi, hingga monetisasi konten.

BPS menggambarkan realitas yang lebih luas, yakni mayoritas penduduk bekerja Indonesia masih berada di wilayah informal.

Ketika proporsi pekerja informal bergerak naik, artinya makin banyak orang menggantungkan hidup pada pekerjaan yang cenderung tidak memiliki pola upah bulanan, perlindungan kerja yang kuat, atau kepastian jangka panjang yang sama seperti pekerja formal.

Dalam kerangka ini, “ghost rich” muncul sebagai potret ekstrem, bukan karena semua pekerja informal kaya, melainkan karena sebagian kecil dari ekonomi digital memang bisa menghasilkan pendapatan tinggi (meski tidak selalu stabil), sementara tampilannya sangat terlihat di media sosial.

Flexing, pengakuan sosial, dan “kaya” sebagai konten

Di media sosial, “kaya” sering kali bekerja sebagai bahasa: menandai kelas sosial, jejaring pertemanan, dan pengakuan.

Ilustrasi flexing. Pengertian flexing dan faktor penyebabnya.Freepik/artursafronovvvv Ilustrasi flexing. Pengertian flexing dan faktor penyebabnya.

Sebagian orang melakukan flexing karena percaya hal itu membuatnya “diterima” dalam pergaulan, sementara bagi “orang kaya baru”, flexing dilakukan untuk mencari pengakuan dan perhatian.

Di titik ini, “ghost rich” punya dua wajah yang saling bertabrakan:

  • Wajah peluang: anak muda memanfaatkan kerja digital dan proyek, sehingga terlihat “bebas kantor” tetapi tetap berpenghasilan.
  • Wajah ilusi: sebagian orang membangun citra seolah mapan, padahal ditopang utang konsumtif, paylater, atau pinjaman berbiaya tinggi.

Perbatasan keduanya tipis, karena media sosial memberi insentif pada tampilan: foto, video, dan narasi sukses yang singkat. Ketika standar hidup “yang layak dipamerkan” makin tinggi, tekanan untuk mengikuti juga meningkat.

Sisi rapuh: ketika gaya hidup didorong utang

Salah satu penjelasan mengapa “tampak kaya” bisa berbahaya adalah akses utang yang makin mudah.

Ketua Sekretariat Satgas PASTI OJK Hudiyanto mengatakan sekitar 60 persen pengguna pinjol merupakan anak muda usia 19 sampai 34 tahun.

Hudiyanto juga menyinggung motif yang dekat dengan fenomena “ghost rich”, yakni dorongan gaya hidup dan tekanan sosial.

“Anak muda rentan mengambil pinjaman online karena pemahaman konsep keuangan yang masih rendah, mulai dari perilaku konsumtif, enggan menabung, dan malu jika tidak bergaya dibandingkan teman-temannya," tutur dia.

Data dari OJK memperlihatkan gambaran risiko di sektor pinjaman digital.

Pada semester I 2025, kredit macet pinjaman online (pinjol) atau TWP90 untuk usia peminjam kurang dari 19 tahun melonjak dari 2.521 akun pada Juni 2024 menjadi 21.774 akun pada Juni 2025, naik 763 persen.

Ilustrasi pinjaman online atau pinjol, pinjaman daring.PIXABAY/FIRMBEE Ilustrasi pinjaman online atau pinjol, pinjaman daring.

Adapun TWP90 untuk peminjam usia 19 sampai 34 tahun naik 54,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi 438.707 akun pada semester I 2025.

OJK juga menyebut TWP90 industri P2P Lending naik menjadi 2,82 persen per September 2025, dengan 22 penyelenggara memiliki TWP90 di atas 5 persen.

Sementara itu, outstanding pinjaman online alias pinjol tercatat kian meningkat hingga Oktober 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengatakan bahwa nilai outstanding pinjol mencapai Rp 92,92 triliun pada Oktober lalu.

Angka tersebut meningkat 23,86 persen (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan peningkatan pada bulan sebelumnya yang sebesar 22,16 persen secara tahunan.

Akses konsumsi kini bisa mendahului pendapatan. Bagi sebagian orang, paylater dan pinjaman online menjadi jembatan transaksi.

Bagi sebagian lain, ia bisa menjadi bahan bakar untuk memelihara citra “mampu”, yang akhirnya mengarah pada jebakan utang.

“Ghost rich” sebagai gejala ekonomi, bukan sekadar tren gaya hidup

Di sisi pasar kerja, BPS menekankan bahwa jumlah angkatan kerja bertambah lebih cepat daripada penyerapannya.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut ada penurunan TPT, tetapi “jumlah penganggur secara absolut meningkat” karena angkatan kerja bertambah lebih cepat daripada yang terserap.

Di titik ini, “ghost rich” bisa dibaca sebagai gejala: anak muda mencari cara bertahan dan naik kelas di tengah kompetisi kerja formal, sekaligus memanfaatkan pintu-pintu baru dari ekonomi digital.

Namun, tanpa perlindungan dan literasi yang memadai, gejala yang sama juga bisa mendorong pilihan instan, yaitu mengandalkan utang untuk “terlihat berhasil”.

Ilustrasi gaji. canva.com Ilustrasi gaji.

BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Agustus 2025 sebesar Rp 3,33 juta. Rata-rata upah buruh dari Agustus 2024 ke Agustus 2024 naik 1,94 persen dari Rp 3,27 juta menjadi Rp 3,33 juta.

Angka ini sering dipakai publik sebagai pembanding: ketika gaya hidup di media sosial terlihat jauh di atas daya beli rata-rata, rasa “ketinggalan” mudah muncul, dan di sanalah ilusi “ghost rich” bekerja.

Di ujungnya: kerja fleksibel, citra sukses, dan literasi keuangan

Fenomena “ghost rich” pada akhirnya berada di pertemuan tiga arus besar.

  • Kerja yang makin cair: proyek, freelance, informal, dan pekerjaan digital yang tidak selalu punya format “kantoran”.
  • Budaya visual: media sosial mengubah “kesejahteraan” menjadi tampilan yang bisa diproduksi dan dijual sebagai identitas.
  • Akses kredit yang cepat: paylater dan pinjaman online memudahkan konsumsi, tetapi juga memperbesar risiko ketika dipakai untuk mempertahankan gaya hidup.

KemenPPPA dalam siaran persnya menekankan pentingnya literasi keuangan digital dan mengingatkan agar anak muda tidak mudah tergiur pinjaman cepat atau imbal hasil tinggi tanpa memahami risikonya.

Sementara itu, data OJK memperlihatkan bahwa risiko kredit macet dan pertumbuhan pembiayaan di sektor pinjaman digital berjalan beriringan.

Di ruang publik, istilah “ghost rich” mungkin akan terus bergeser maknanya, kadang dipakai untuk memuji “kerja senyap tapi hasil besar”, kadang untuk menyindir “kaya tampilan”.

Yang jelas, ia menempel pada perubahan yang nyata: cara anak muda bekerja, cara pendapatan diperoleh, dan cara status sosial dipertontonkan.

Tag:  #fenomena #ghost #rich #kaya #yang #terlihat

KOMENTAR