Walking Tour Sejarah di Wonogiri, Menyusuri Peninggalan Jalur Kereta ke Baturetno
Suasana Wonogiri Walking Tour (25/1/2026).(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
12:21
27 Januari 2026

Walking Tour Sejarah di Wonogiri, Menyusuri Peninggalan Jalur Kereta ke Baturetno

– Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tidak hanya mempunya wisata alam atau Waduk Gajah Mungkur.

Ada pula wisata sejarah yang menarik. Salah satunya adalah tur jalan-jalan sejarah atau walking tour yang digagas oleh komunitas Wonogiri Walking Tour.

Kompas.com sempat mengikuti tur sejarah ini pada Minggu (25/12/2026). Kali ini, topiknya adalah Narasi Spoor Wonogiri atau jejak sejarah perkeretaapian di Wonogiri.

Perjalanan dimulai dari Masjid Al Ikhlas di Bauresan, Giritirto, Kecamatan Wonogiri pukul 08.00 WIB.

Jumlah peserta saat itu adalah 11 orang dengan dua orang pemandu yakni Yusuf Salsa dan Andin.

Jejak jalur kereta arah Baturetno

Saat briefing, Yusuf sebagai pemandu menjelaskan bahwa dahulu ada jalur kereta api di Wonogiri mencapai Kecamatan Baturetno.

Jalur Kereta Api Wonogiri ke Baturetno.Dok. WONOGIRI WALKING TOUR Jalur Kereta Api Wonogiri ke Baturetno.

“Jalur kereta api Wonogiri sampai Baturetno selesai pada 1 Oktober 1923. Namun, jalur ini nonaktif sejak 1970 (1 Mei 1978) karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur,” ujar dia kepada peserta (25/12/2026).

Adapun pada perjalanan kali ini, lingkupnya adalah peninggalan jalur kereta api Wonogiri-Baturetno yang berada di sekitar Stasiun Wonogiri.

Situs bersejarah yang kami kunjungi adalah:

1. Menara air di depan Masjid Al Ikhlas

Situs sejarah pertama perkeretaapian Wonogiri-Baturetno yang kami kunjungi adalah menara air kuno. Lokasinya tepat di depan Masjid Al Ikhlas.

Tampak menara air yang menjulang tinggi dengan besi yang sudah berkarat, tetapi masih kokoh berdiri.

Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi menara air kuno untuk kereta uap masa lalu (25/1/2026).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi menara air kuno untuk kereta uap masa lalu (25/1/2026).

“Dulu kereta api yang melintas itu kereta uap. Bahan bakarnya selain kayu juga air,” ujar Yusuf.

Ia melanjutkan, tandon air berada di ketinggian agar tekanan airnya cukup untuk mengalirkan air sampai ke Stasiun Wonogiri.

“Tangkinya besar karena kereta yang melintas melewati jalur perbukitan, sehingga butuh air yang banyak,” kata Yusuf.

Menurut penjelasannya, dahulu perjalanan dari Baturetno sampai ke Wonogiri membutuhkan waktu sekitar 6 jam karena kereta uap saat itu melaju pelan.

2. Bekas rumah dinas kepala stasiun

Kami lalu menyusuri jalan ke arah selatan lalu masuk ke halaman rumah kosong. Bukan sekadar rumah kosong, dahulu ini adalah rumah dinas kepala Stasiun Wonogiri.

Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi bekas rumah dinas kepala Stasiun Wonogiri pada masa lalu (25/1/2026).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi bekas rumah dinas kepala Stasiun Wonogiri pada masa lalu (25/1/2026).

“Dulu belum ada rumah-rumah sekitar. Jadi pemandangannya bisa langsung ke rel kereta, menara air, dan stasiun,” tutur Yusuf.

Ia melanjutkan, saat ini lahan rumah itu dan permukiman sekitar bekas jalur nonaktif Wonogiri-Baturetno adalah milik PT KAI.

“Sekarang sudah banyak rumah masyarakat, tapi lahannya milik PT KAI. Mereka menyewa,” sambung Yusuf.

3. Gudang bekas bengkel kereta uap

Spot selanjutnya berada di sebelah selatan Stasiun Wonogiri. Terdapat jalan warga yang menurut pemandu dulunya adalah jalur kereta api ke arah Baturetno.

Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi gudang penyimpanan perlengkapan bengkel kereta uap zaman dulu (25/1/2026).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi gudang penyimpanan perlengkapan bengkel kereta uap zaman dulu (25/1/2026).

Kami pun tiba di semacam gudang yang berada di samping jalan. Bekas rel kereta api masih tampak di samping gudang ini, meski sebagian terkubur.

“Ini dulu adalah gudang tempat menyimpan perlengkapan untuk bengkel kereta uap. Sekarang jadi gudang penyimpanan warga sini,” kata Yusuf.

Ia melanjutkan, gudang ini dulu berada tepat di samping jalur rel utama Wonogiri-Baturetno. Kereta yang menuju atau dari Baturetno, akan dicek di bengkel ini karena telah menempuh perjalanan jauh dan jalur perbukitan.

4. Bekas gudang logistik

Situs selanjutnya berada di selatan Stasiun Wonogiri, tepatnya dekat ujung jalur rel Solo-Wonogiri terkini.

Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi bekas gudang penyimpanan logistik masa lalu (25/1/2026).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Wonogiri Walking Tour saat menyambangi bekas gudang penyimpanan logistik masa lalu (25/1/2026).

“Dulu ini adalah gudang penyimpanan barang-barang yang diangkut kereta api, seperti kayu jati dari Hutan Donoloyo. Kini bangunan ini disewakan ke perusahaan-perusahaan yang berbeda.,” ujar Yusuf.

5. Stasiun Wonogiri

Titik terakhir adalah di Stasiun Wonogiri. Kami hanya menjelajah bagian depan stasiun ini karena perlu izin khusus dari PT KAI untuk menggelar acara di dalam stasiun.

Stasiun Wonogiri, Senin (3/2/2025).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Stasiun Wonogiri, Senin (3/2/2025).

Saat ini, jalur kereta api Solo-Wonogiri cuma sampai sini. Stasiun ini masih aktif melayani kereta api Batara Kresna rute Purwosari (Solo) – Wonogiri pulang-pergi.

Jadwal Wonogiri Walking Tour

Saat ini jadwal trip Wonogiri Walking Tour belum rutin seminggu sekali. Rute awal juga masih di sekitar Stasiun Wonogiri.

“Saat ini kita masih dua minggu sekali. Rutenya masih di sekitar Stasiun Wonogiri. Namun, kita juga rencana buka rute petilasan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa,” kata Yusuf.

Adapun informasi mengenai jadwal dan rute Wonogiri Walking Tour bisa didapatkan melalui postingan akun instagram @wonogiriwalkingtour.

Peserta bisa mendaftar untuk ikut trip apabila sudah dibuka, sebelum kuota penuh. Tarifnya adalah seikhlasnya.

Tag:  #walking #tour #sejarah #wonogiri #menyusuri #peninggalan #jalur #kereta #baturetno

KOMENTAR