Tren Wisata 2026: Wisatawan Kembali ke Destinasi Lama, Tak Sekadar Mengejar Viral
Sejumlah fotografer memberikan jasa pemotretan kepada turis yang ingin berfoto di Menara Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (3/12/2025).(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan)
14:28
17 Januari 2026

Tren Wisata 2026: Wisatawan Kembali ke Destinasi Lama, Tak Sekadar Mengejar Viral

Alih-alih menjelajah tempat wisata baru, tahun ini, banyak turis diprediksi memilih destinasi lama yang sudah akrab di ingatan.

Prediksi tren wisata 2026 ini disampaikan oleh penulis perjalanan Trinity saat ditemui Kompas.com usai peluncuran buku terbarunya Di Luar Radar, Minggu (11/1/2026).

"Orang-orang kayaknya enggak explore yang baru-baru, tapi kayak mengulang sesuatu yang dulu itu masih dikejar-kejar atau diburu-buru. Sekarang semacam staycation," ungkap Trinity.

"Disebutnya purposeful travel," sambung penulis yang telah mengunjungi 111 negara tersebut.

Purposeful travel merupakan perjalanan wisata yang berfokus pada tujuan tertentu. Bisa berupa dampak bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Misalnya, jalan-jalan karena ingin mengikuti kelas memasak atau mempelajari budaya setempat.

Dari kisah geng ibu-ibu kuburan di Jakarta sampai cerita perjalanan misionaris, Trinity kembali menyapa penggemarnya lewat buku berjudul Di Luar Radar lewat meet and greet di Mal Sarinah, Minggu (11/1/2026).Kompas.com/Krisda Tiofani Dari kisah geng ibu-ibu kuburan di Jakarta sampai cerita perjalanan misionaris, Trinity kembali menyapa penggemarnya lewat buku berjudul Di Luar Radar lewat meet and greet di Mal Sarinah, Minggu (11/1/2026).

Purposeful travel berbanding terbalik dengan tren wisata viral karena wisatawan lebih mengutamakan makna perjalanan, dibanding sekedar mengejar tempat wisata yang sedang ramai diperbincangkan.

Itu sebabnya, menurut Trinity, purposeful travel cenderung digandrungi oleh generasi milenial atau generasi yang lebih tua.

Prediksi tren wisata 2026 dari Trinity juga sejalan dengan laporan tren perjalanan 2026 dari Skyscanner

Situs yang membantu pelancong membandingkan harga tiket pesawat, hotel, hingga sewa mobil itu, menulis bahwa saat ini wisatawan semakin memilih perjalanan yang sesuai minat pribadi dan gaya hidup, bukan sekadar mengejar destinasi populer.

"Tahun depan (2026), para pelancong akan memilih destinasi dan menyusun rencana perjalanan yang terasa kurang seperti pelarian dan lebih seperti ekspresi diri," kata CEO Skyscanner, Bryan Batista, dikutip dari Skyscanner, Sabtu (17/1/2026).

Mulai dari merencanakan wisata yang wajib dikunjungi di sekitar hotel, mengajak seluruh anggota keluarga untuk bepergian, hingga merencanakan wisata sesuai hobi.

Bandara Internasional Tashkent (Tashkent, Uzbekistan)Dok. Uzbekistan Airways Bandara Internasional Tashkent (Tashkent, Uzbekistan)

Tren wisata 2026 ini bukan sekedar melarikan diri dari hiruk pikuk kota, melainkan mengenal diri sendiri secara mendalam. 

Meski begitu, biaya tetap menjadi faktor penentu bagi para pelancong untuk berhati-hati mengatur pengeluaran. 

Trinity juga mengatakan hal serupa bahwa tren wisata 2026 yang mengacu pada purposeful travel tidak luput dari kondisi ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat.

Sembari menunggu kondisi ekonomi dunia stabil, sebagian orang diprediksi memilih destinasi wisata berulang yang pernah dikunjungi.

Lebih lanjut, pengarang The Naked Traveler ini juga memprediksi tren wisata 2026 yang dipengaruhi oleh pembukaan rute-rute penerbangan terbaru.

Misalnya, penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Tashkent, Uzbekistan, yang baru diresmikan oleh maskapai penerbangan AirAsia X (AAX) pada akhir 2025 lalu.

"Ada juga nih yang kayak maskapai yang biasanya transit di Doha sama Dubai, tapi sekarang mereka ingin orang tinggal lebih lama, bukan sekedar transit. Itu lagi tren juga," jelas Trinity.

Tag:  #tren #wisata #2026 #wisatawan #kembali #destinasi #lama #sekadar #mengejar #viral

KOMENTAR