Cerita 22 Perjalanan di Luar Radar ala Trinity Traveler
Dari kisah geng ibu-ibu kuburan di Jakarta sampai cerita perjalanan misionaris, Trinity kembali menyapa penggemarnya lewat buku berjudul Di Luar Radar.
Buku ini merangkum petualangan-petualangan di jalur wisata populer yang jarang dilirik, namun diam-diam menyimpan cerita menarik.
"Ada 22 kisah nyata yang tema besarnya adalah isu keberagaman. Jadi tentang segala hal yang sebenarnya jarang dibicarakan orang, tapi sebenarnya penting," kata Trinity saat ditemui media di sela acara meet and greet di Mal Sarinah, Minggu (11/1/2026).
Buku yang menjadi penanda kembalinya penulis blog perjalanan legendaris ini, sebenarnya sudah dijual sejak November 2025.
Namun, demi bisa melepas rindu dengan para penggemar setelah enam tahun, Trinity tetap menggelar peluncuran langsung yang bertepatan pada hari ulang tahunnya, 11 Januari 2026.
Momen ini menjadi kesempatan bagi para penggemar untuk menyampaikan langsung kisah favorit dari buku ke-16 milik Trinity.
Trinity menandatangani buku Di Luar Radar dalam meet and greet di Mal Sarinah, Minggu (11/1/2026)
Ada yang terkesan pada perkumpulan geng ibu-ibu kuburan di Jakarta Selatan sampai kagum dengan Trinity yang mencoba tinggal di pesantren selama 24 jam, meski dirinya adalah seorang Kristen.
"Ada juga cerita tentang cindo di Indonesia gitu kan. Aku mukanya cindo, tapi aku sebenarnya berasal dari keluarga yang beda suku, beda agama, dan multi lah sehingga aku merasa kayak sensitif dan perlu menyuarakan ini," ungkap Trinity.
Melalui kisah-kisah perjalannya, penulis seri The Naked Traveler berdarah Batak-Sunda ini berupaya mematahkan prasangka sekaligus menumbuhkan toleransi.
Vakum menulis
Trinity mengaku sudah tidak lagi berniat menulis buku perjalanan, setidaknya sejak terakhir kali merilis bukunya pada 2019.
Kisah perjalanan Trinity ke 111 negara selama dua dekade, telah tertuang dalam belasan buku yang sudah lahir sebelumnya.
Kini, buku Di Luar Radar: Kisah Keberagaman dari Kuburan Jakarta sampai Hutan Amazon (2025) oleh Trinity sudah bisa dibeli di toko buku online maupun offline dengan harga Rp 109.000.
Sebagai penulis, Trinity juga tak menutup mata terhadap tren membaca yang kian memudar. Buku-buku perjalanan pun rasanya tidak lagi diminati seperti satu dekade lalu.
Pandemi Covid-19 turut mengubah kebiasaan Trinity. Aktivitas perjalanan yang sebelumnya rutin dilakukan hampir setiap bulan, sempat terhenti selama beberapa tahun.
Kesempatan residensi penulis di Peru dan Bolivia kemudian menjadi titik balik baginya dan memicu lahirnya ide buku Di Luar Radar.
Namun, Trinity sempat khawatir ceritanya akan terasa terlalu kental dengan nuansa Katolik, apalagi bila hanya berfokus pada kisah misionaris, sementara isu keberagaman justru menjadi kegelisahan yang ingin ia soroti.
"Jadi aku ingin melihat dengan kerangka keberagaman itu aku melihat, tapi dengan tulisan yang easy reading, tapi juga berpengetahuan, berwawasan," ujarnya.
Kini, buku Di Luar Radar: Kisah Keberagaman dari Kuburan Jakarta sampai Hutan Amazon (2025) oleh Trinity sudah bisa dibeli di toko buku online maupun offline dengan harga Rp 109.000.
Dukungan
Dalam peluncuran buku terbarunya, Trinity didukung oleh InJourney karena dinilai memiliki misi yang sama dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.
Lewat pengalaman menjelajahi 111 negara dan 31 provinsi di Indonesia selama dua dekade, Trinity dianggap mampu menceritakan keseruan perjalanan domestik maupun luar negeri kepada masyarakat Indonesia.
Dalam peluncuran buku terbarunya, Trinity didukung oleh InJourney karena dinilai memiliki misi yang sama dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.
Sejauh ini, kata Trinity, kondisi geografis Indonesia bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pariwisata Indonesia.
Keindahan alam pulau-pulau di Indonesia bisa menjadi nilai plus. Namun, di sisi lain, keterbatasan akses transportasi antarpulau kerap membuat biaya perjalanan terasa lebih mahal.
Sebagai negara kepulauan, kata Trinity, pilihan transportasi di Indonesia sangat bergantung pada pesawat dan kapal.
"Bandingkan misalnya dengan Thailand yang bisa dia dapat 28 juta turis setahun gitu kan. Orang sekali ke Thailand, bisa semua jalan darat gitu. Bisa sekalian ke Laos, ke Kamboja, ke mana dengan jalan darat. Which is harganya jadi lebih murah gitu," ungkapnya.
VP Human Capital Development & Sustainability InJourney, Roby Syaputra, yang hadir dalam kesempatan yang sama, menjawab persoalan ini.
Menurut dia, keterbatasan akses transportasi memang masih menjadi tantangan bagi pariwisata Indonesia untuk saat ini. Di sini lah InJourney berperan.
"InJourney mencoba menjembatani bahwa experience perjalanan yang secara geografis ini kayaknya kendala, tetap bisa nyaman sehingga orang Indonesia bisa menjadi tuan rumah juga," kata Roby.
Peran InJourney, kata dia, meliputi pengembangan destinasi wisata dari hulu ke hilir. Termasuk akses transportasi, bandara, akomodasi, hingga tempat wisata.
"Kurang lebih seperti itu ya. Termasuk mengadakan event-event skala internasional," pungkas Roby.