Lippo Malls Masuk Lampung, Grand Mall Bidik Efek Ganda Ekonomi
– Masuknya PT Lippo Malls Indonesia (LMI) sebagai pengelola Grand Mall Lampung menandai babak baru bagi geliat ekonomi ritel di Provinsi Lampung. Kemitraan ini diproyeksikan membawa dampak berantai, mulai dari aktivitas perdagangan hingga pembukaan lapangan kerja baru.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara LMI dan PT Sinar Laut Lampung Permai (SLLP) selaku pemilik Grand Mall Lampung. Penunjukan LMI dilakukan lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang digelar di Lampung, 26 Januari 2026.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Komisaris Utama Grand Mall Lampung Andree Semikar Wijaya dan Chief Operating Officer LMI Eddy Mumin. Kerja sama ini sekaligus memperluas jejak bisnis LMI di wilayah Sumatera.
Dorong Aktivitas Ritel dan Konsumsi
Eddy Mumin mengatakan, kemitraan tersebut mencerminkan kepercayaan pemilik aset terhadap LMI sebagai operator pusat perbelanjaan. Ia menilai Grand Mall Lampung memiliki keunggulan lokasi dan kualitas aset karena berada dalam kawasan mixed-use development yang terintegrasi.
“Grand Mall Lampung memiliki lokasi strategis serta kualitas aset yang unggul sebagai bagian dari kawasan terintegrasi dengan hotel kebanggaan Lampung di gedung tertinggi di Sumatera,” ujar Eddy.
Melalui pengelolaan terintegrasi, LMI akan mengoptimalkan tenant mix, strategi pemasaran, serta standar layanan dan pengalaman pengunjung. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing pusat perbelanjaan sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Andree Semikar Wijaya menambahkan, pengalaman LMI dinilai menjadi faktor penting dalam pengelolaan pusat perbelanjaan yang berkelanjutan. Menurut dia, kolaborasi ini diharapkan memberi ruang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
“Kami menilai pengalaman LMI sebagai operator dan pengelola pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia merupakan nilai tambah yang signifikan,” kata Andree.
Perluasan Jejak di Sumatera
Bergabungnya Grand Mall Lampung membuat total portofolio LMI bertambah menjadi 70 pusat perbelanjaan yang tersebar di 18 provinsi dan 37 kota di Indonesia. Capaian ini memperkuat posisi LMI sebagai mitra bagi pelaku ritel yang ingin berekspansi.
“Penunjukan ini menjadi langkah penting bagi LMI untuk menghadirkan standar pengelolaan mal yang terintegrasi, adaptif, dan berorientasi pada pengalaman pengunjung,” ujar Eddy.
Grand Mall Lampung sendiri merupakan pusat perbelanjaan empat lantai dengan luas Net Leasable Area (NLA) 25.000 meter persegi. Mal ini resmi dibuka pada November 2025 dan berlokasi di Jalan Raden Intan No. 88, Kota Bandar Lampung, serta terintegrasi dengan Hotel Grand Mercure Lampung.
Bisnis Mal Kembali Bergairah
Bisnis pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menunjukkan tanda kebangkitan kuat.
Dikutip dari Kompas Properti, laporan Cushman and Wakefield Indonesia mencatat, pengelola mal tidak hanya menambah pasokan ruang ritel, tetapi juga gencar melakukan renovasi dan perubahan konsep demi menarik kembali pengunjung.
Tren ini menegaskan bahwa mal tetap relevan sebagai destinasi gaya hidup, meski belanja daring terus berkembang.
Pada kuartal kedua 2025, pasokan ruang ritel Jakarta bertambah 5.000 meter persegi dengan beroperasinya Antasari Place, sehingga total kumulatif mencapai 4,8 juta meter persegi.
Di wilayah Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, pasokan melonjak 96.900 meter persegi dari tiga mal baru.
Director Strategic Consulting Cushman and Wakefield Indonesia Arief N Rahardjo menyebut, hingga akhir tahun pasokan ritel diproyeksikan terus tumbuh seiring rampungnya proyek seperti Lippo Mall East Side, Summarecon Mall Bekasi Tahap 2, dan perluasan Grand Metropolitan Mall Bekasi.
Mal lama seperti Lippo Mall Nusantara dan Epiwalk Mall Kuningan juga melakukan renovasi besar, sementara ITC Mangga Dua tengah bertransformasi dengan konsep ritel baru.
“Upaya ini menunjukkan bahwa mal-mal lama tidak ingin kalah saing dan siap beradaptasi dengan preferensi konsumen yang terus berubah,” ujar Arief.
Geliat pasar ritel tercermin dari kenaikan tingkat okupansi. Di Jakarta, okupansi mencapai 77,9 persen, naik 1,0 persen secara kuartalan, sedangkan di Debotabek meningkat menjadi 76,6 persen atau naik 4,1 persen secara tahunan.
Peningkatan ini didorong masuknya berbagai merek baru, baik lokal maupun global, terutama di sektor makanan dan minuman, fesyen, specialty store, hiburan, serta supermarket.
Kehadiran merek-merek tersebut memperkuat posisi mal sebagai pusat pengalaman dan rekreasi, bukan sekadar tempat berbelanja.
Seiring meningkatnya permintaan, harga sewa dasar dan biaya layanan di mal turut naik. Di Jakarta, harga sewa dasar rata-rata mencapai Rp 834.900 per meter persegi per bulan, dengan service charge Rp 199.700 per meter persegi per bulan.
Kenaikan serupa juga terjadi di kawasan Debotabek. Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa pasar ritel kembali sehat. “Para pengelola mal optimistis dan siap berinvestasi untuk menciptakan pengalaman belanja dan rekreasi yang lebih baik bagi pengunjung,” kata Arief.
Tag: #lippo #malls #masuk #lampung #grand #mall #bidik #efek #ganda #ekonomi